Topikseru.com, Jakarta – Perdagangan tipis pada Jumat (1/5/2026) harga Emas spot tercatat stabil di level US$4.620,57 per ons pada pukul 02.48 GMT.
Meski demikian, logam mulia ini diperkirakan mencatat penurunan mingguan sebesar 1,8%.
Setelah sempat menyentuh level terendah dalam satu bulan pada Rabu.
- Harga Emas Antam Tak Bergerak Dibanderol Rp2.796.000 Per Gram
- Diramalkan Harga Emas dan Perak Bakal Tertahan pada Mei 2026 Dipengaruhi GeopolitikĀ Timur Tengah
- Harga Emas Antam Melonjak Rp30 Ribu Dibanderol di Level Rp 2.769.000 Per Gram
Sementara itu. Harga Emas spot bergerak stabil dalam namun tetap berada di jalur penurunan mingguan.
Tekanan datang dari kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi serta memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni naik tipis 0,1% menjadi US$4.632,70 per ons.
Analis pasar keuangan senior di Capital.com, Kyle Rodda, mengatakan bahwa aktivitas pasar di sesi Asia cenderung sepi karena libur panjang di sejumlah negara.
“Dalam sesi Asia, pasar akan cukup sepi karena hari libur nasional, sehingga saat ini kita berada di persimpangan arah atau menunggu katalis berikutnya untuk menentukan pergerakan harga,” ujarnya.
Pasar keuangan di dua konsumen emas terbesar dunia, China dan India, memang sedang tutup karena libur nasional, yang turut membatasi volume transaksi.
Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menyatakan akan merespons dengan “serangan panjang
Dan menyakitkan” terhadap posisi Amerika Serikat jika Washington melanjutkan serangan dan menegaskan kembali klaimnya atas Selat Hormuz.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent bertahan di atas US$110 per barel seiring upaya penyelesaian konflik Iran yang menemui jalan buntu.
Lonjakan harga energi ini turut mendorong inflasi global.
Di Amerika Serikat, inflasi tercatat meningkat pada Maret akibat kenaikan harga bahan bakar yang dipicu konflik Iran.
Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga tahun depan.
Sejumlah lembaga keuangan global juga mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga AS pada 2026.
Jika sebelumnya diproyeksikan akan terjadi dua kali pemotongan, kini proyeksi tersebut terpecah antara skenario pelonggaran terbatas
Atau bahkan tanpa penurunan suku bunga, mengingat risiko inflasi yang masih tinggi serta sikap hati-hati bank sentral.
Kebijakan serupa juga diambil oleh European Central Bank dan Bank of England yang mempertahankan suku bunga pada Kamis.
Menyusul langkah sebelumnya dari The Fed dan Bank of Japan.
Meski demikian, seluruh bank sentral tersebut tetap menyoroti kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
Secara historis, emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi.
Namun, dalam kondisi suku bunga tinggi, daya tarik emas cenderung melemah karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Di pasar logam lainnya, harga perak spot naik 0,5% menjadi US$74,13 per ons.
Sementara itu, platinum turun 0,3% ke level US$1.980,15 per ons, dan palladium menguat 0,2% menjadi US$1.527,29 per ons.
Diramalkan Harga Emas dan Perak Bakal Tertahan pada Mei 2026
Pada perdagangan Kamis (30/4/2026) harga emas spot ada di level US$ 4.560,59 per ons troi, naik 0,28% dari sehari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, harga emas turun 2,84%.
Prospek harga emas dan perak dalam jangka pendek diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai retorika bank sentral AS dan dinamika konflik kawasan akan menjadi penentu utama pergerakan harga logam mulia dalam waktu dekat.
“Prospek harga emas dan perak dalam jangka pendek sangat bergantung pada retorika The Fed minggu ini dan perkembangan di Timur Tengah,” ujar Sutopo.
Menurut Sutopo, secara teknikal, emas perlu bertahan di atas level psikologis US$ 4.550 per ons troi untuk menjaga momentum kenaikan dalam jangka menengah.
Jika tekanan geopolitik meningkat, terutama apabila eskalasi militer meluas, harga emas berpotensi kembali menguji level tertinggi sepanjang masa (all time high).
Namun demikian, dalam jangka menengah, pasar juga dihadapkan pada faktor baru, yakni transisi kepemimpinan bank sentral AS yang berpotensi mempengaruhi arah kebijakan moneter ke depan.
Pergantian kepemimpinan di bank sentral AS, termasuk pengganti Jerome Powell, diperkirakan dapat memicu perubahan pendekatan terhadap inflasi sehingga menjaga volatilitas pasar komoditas tetap tinggi.
Untuk periode Mei 2026, harga emas diproyeksikan bergerak dalam rentang konsolidasi yang cukup lebar, yakni US$ 4.500 hingga US$ 4.750 per ons troi.
Sementara itu, harga perak diperkirakan berada di kisaran US$ 72 hingga US$ 78 per ons troi.
Menurut Sutopo, proyeksi tersebut sangat bergantung pada arah kebijakan bank sentral AS,
Khususnya apakah kepemimpinan baru akan mengadopsi kebijakan yang lebih moderat atau justru agresif dalam merespons tekanan inflasi.
Jika inflasi terus meningkat akibat krisis energi global, perak berpotensi menunjukkan pergerakan yang lebih fluktuatif dibandingkan emas.
Dia menambahkan, perak memiliki karakteristik industri yang kuat, sehingga lebih sensitif terhadap dinamika ekonomi global.
“Ini membuat pergerakannya cenderung lebih agresif, namun juga berisiko lebih tinggi,” kata Sutopo.












