Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Jumat (1/5/2026) Harga Bitcoin (BTC) menguat namun masih tertahan di bawah level US$ 77.000 per koin.
Seiring tekanan aksi ambil untung dari investor jangka pendek yang membatasi ruang kenaikan.
Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 06.45 WIB, kapitalisasi pasar kripto global naik 0,42% menjadi US$ 2,55 triliun.
- Bitcoin Rebound ke US$78.500, Terdorong Kinerja Big Tech AS dan Sentimen AI
- Harga Bitcoin (BTC) Melemah Terdampar di Level US$ 77.542 di Perdagangan Minggu (26/4/2026)
- Harga Bitcoin (BTC) Kembali Menguat 3,90% Dalam Sepekan ke Level US$ 77.664 Per Koin
Harga Bitcoin (BTC) hari ini menguat 0,59% ke US$ 76.277 per koin atau sekitar Rp 1,32 miliar (kurs Rp 17.319).
Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan pergerakan 20 aset kripto terbesar naik 0,97%. Dengan Ethereum menguat tipis 0,05% ke US$ 2.256
Dan Dogecoin (DOGE) melonjak 2,48% ke US$ 0,1. Sedangkan Binance (BNB) terpangkas 0,45% ke US$ 615.
Solana (SOL) terpukul 0,01% ke US$ 83, XRP terkoreksi 0,21% ke US$ 1,36.
Dikutip dari CoinTelegraph, pergerakan harga Bitcoin (BTC) mulai menunjukkan tanda-tanda kehilangan momentum
Setelah berulang kali gagal menembus level US$ 77.000 dalam sepekan terakhir.
Tekanan jual dari aksi ambil untung investor jangka pendek menjadi faktor utama yang menahan laju kenaikan aset kripto terbesar tersebut.
Data pasar menunjukkan bahwa meski sempat menembus US$ 79.500 dalam satu hari, reli Bitcoin tidak mampu bertahan.
Sejak 15 April, sekitar 150.000 BTC tercatat mengalir ke bursa kripto, mengindikasikan meningkatnya aksi jual di kalangan trader.
Bitcoin Melemah pada Awal Tahun 2026, Tertekan Suku Bunga dan Geopolitik
Harga Bitcoin (BTC) mengalami koreksi pada empat bulan awal tahun 2026. Mengutip Coin Market Cap, harga Bitcoin di level US$ 76.009, terkoreksi 13% secara year to date (ytd).
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur mengatakan, koreksi harga Bitcoin sekitar 13% dipengaruhi oleh kombinasi faktor makroekonomi, geopolitik, dan dinamika pasar kripto itu sendiri.
Meskipun demikian, harga BTC saat ini mulai menunjukkan stabilisasi dengan bergerak di area $75.000–$78.000.
“Setelah sempat turun lebih dalam di awal tahun,” ujar Fyqieh
Dari sisi makro, Fyqieh melihat faktor utama datang dari kebijakan suku bunga The Fed yang masih cenderung “higher for longer”.
The Fed menahan suku bunga di kisaran 3.50%–3.75% dan mengindikasikan bahwa inflasi masih tinggi.
Sehingga belum ada sinyal kuat untuk penurunan suku bunga. Kondisi ini membuat aset berisiko seperti Bitcoin kurang menarik dibandingkan instrumen berbunga.
Selain itu, ketegangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah, serta kebijakan politik global (termasuk arah kebijakan Trump).
Meningkatkan ketidakpastian pasar dan mendorong investor untuk bersikap lebih hati-hati (risk-off).
Dari sisi industri kripto, tekanan juga datang dari arus keluar dana institusional pada ETF Bitcoin spot yang sempat mencatat outflow sekitar US$ 263 juta,
Termasuk penarikan besar dari BlackRock. Hal ini mengurangi demand yang sebelumnya menjadi pendorong kenaikan harga.
Ditambah lagi, terjadi likuidasi posisi long lebih dari US$ 141 juta yang mempercepat penurunan harga.
“Kombinasi faktor ini, outflow ETF, likuidasi leverage, dan tekanan makro menjadi penyebab utama koreksi Bitcoin sejak awal tahun,” jelas Fyqieh.












