Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Jumat (10/9/2026) harga minyak mentah bergerak volatil dan cenderung melemah dalam sepekan terakhir. Koreksi ini dipicu meredanya tensi geopolitik, meskipun risiko kenaikan kembali masih terbuka lebar.
Berdasarkan data yag dilansir dari Trading Economics pukul 12.50 WIB, harga minyak mentah WTI berada di level US$ 98,5 atau menurun 12,3% dalam sepekan. Ada pun minyak Brent menjadi US$ 96,8% atau turun 11,8% seminggu terakhir.
Menanggapi hal tersebut, Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengatakan pelemahan harga minyak mentah belakangan lebih disebabkan oleh penghapusan premi risiko perang (unwinding of war premium) ketimbang sekadar kepanikan pasar.
“Pasar sebelumnya sudah memfaktorkan skenario terburuk, termasuk potensi gangguan pasokan dari Iran. Ketika muncul kabar gencatan senjata, harga langsung turun tajam mencari keseimbangan baru,” ujar Wahyu.
Ia menjelaskan, harga minyak sempat anjlok lebih dalam pada pertengahan pekan ini, dengan WTI turun ke kisaran US$ 96 per barel dan Brent ke US$ 94 per barel.
Penurunan tajam ini dipicu keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menangguhkan serangan militer selama 14 hari, sehingga meredakan eskalasi konflik.
Namun, penurunan tersebut tidak berlangsung lama. Harga minyak kembali rebound setelah muncul kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan, terutama akibat serangan Israel ke Lebanon.
Wahyu menilai, gencatan senjata yang berlaku saat ini masih bersifat sementara dan rapuh. Kesepakatan tersebut hanya berlangsung selama 14 hari dan belum menjamin perdamaian jangka panjang.
Dari sisi fundamental, pembukaan kembali jalur distribusi seperti Selat Hormuz memang memberi sentimen positif.
Namun, proses normalisasi pasokan minyak global diperkirakan tidak bisa terjadi dalam waktu singkat.
“Dua minggu belum cukup untuk memulihkan rantai pasok sepenuhnya, baik dari sisi logistik maupun produksi. Tapi setidaknya memberi kepastian bahwa aliran minyak tidak terhenti total,” jelas Wahyu.
Ke depan, ia melihat harga minyak masih akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan volatilitas tinggi, terutama dalam jangka sangat pendek.
Untuk periode 1 – 14 hari ke depan, harga minyak diperkirakan bergerak di kisaran US$ 80 – US$ 100 per barel, tergantung perkembangan negosiasi geopolitik.
Sementara untuk semester I-2026, arah harga akan sangat ditentukan oleh hasil negosiasi lanjutan. Jika tercapai kesepakatan permanen, harga minyak berpotensi turun ke kisaran US$ 70 – US$ 80 per barel.
Sebaliknya, jika konflik kembali memanas, peluang harga minyak menembus US$ 100 bahkan hingga US$ 110 per barel masih terbuka.
“Peluang kembali ke atas US$ 100 masih lebih dari 60% jika eskalasi meningkat lagi,” kata Wahyu.
Di tengah kondisi ini, Wahyu menyarankan investor komoditas untuk tetap berhati-hati dan adaptif terhadap perkembangan pasar. Volatilitas tinggi membuka peluang, namun juga meningkatkan risiko.
“Strategi terbaik adalah disiplin dalam manajemen risiko dan responsif terhadap perkembangan geopolitik, karena pergerakan harga saat ini sangat sensitif terhadap sentimen,” pungkasnya.













