Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan awal pekan, Senin (13/4/2026) harga minyak mentah melonjak tajam hingga menembus level US$100 per barel seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak mentah ini dipicu rencana blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat (AS) setelah perundingan damai dengan Iran gagal mencapai kesepakatan.
Presiden AS Donald Trump menyatakan, Angkatan Laut AS akan mulai melakukan blokade di jalur strategis tersebut, yang selama ini menjadi rute sekitar 20% pasokan energi global.
Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent tercatat naik US$7,60 atau 7,98% menjadi US$102,80 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak US$8,31 atau 8,61% ke level US$104,88 per barel.
Analis menilai pasar kini kembali ke kondisi sebelum gencatan senjata, bahkan dengan risiko yang lebih besar.
“Pasar kini kembali ke kondisi sebelum gencatan senjata, dengan tambahan risiko karena AS akan memblokir aliran minyak Iran hingga sekitar 2 juta barel per hari melalui Selat Hormuz,” ujar Saul Kavonic, analis MST Marquee.
Langkah blokade ini dinilai berpotensi memperparah gangguan pasokan minyak global. Selain membatasi ekspor Iran, kebijakan tersebut juga dapat menghambat distribusi minyak dari produsen kawasan Teluk Persia.
Analis ANZ Brian Martin dan Daniel Hynes menyebut, situasi ini akan memperburuk disrupsi pasokan yang sudah terjadi di pasar.
Di sisi lain, analis IG Tony Sycamore menilai langkah AS dapat menekan aliran minyak Iran secara signifikan dan memaksa negara-negara mitra Teheran untuk mendorong pembukaan kembali jalur tersebut.
Ketegangan meningkat setelah Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan ditindak tegas.
Meski demikian, data pelayaran menunjukkan tiga supertanker bermuatan penuh sempat melintasi Selat Hormuz pada Sabtu, menjadi kapal pertama yang keluar dari kawasan Teluk sejak kesepakatan gencatan senjata diumumkan.
Namun, pada Senin, aktivitas pelayaran terlihat sangat minim, dengan hanya satu kapal berbendera Iran yang terpantau berada di area tersebut.
Di tengah situasi ini, Arab Saudi menyatakan telah memulihkan kapasitas penuh penyaluran minyak melalui pipa East-West hingga sekitar 7 juta barel per hari, setelah sebelumnya terdampak serangan dalam konflik Iran.
Lonjakan harga minyak ini meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global serta potensi perlambatan ekonomi jika gangguan pasokan berlanjut.













