Ekonomi dan Bisnis

Ketegangan Timur Tengah Memicu Dolar AS Sentuh Level Tertinggi Sepekan

×

Ketegangan Timur Tengah Memicu Dolar AS Sentuh Level Tertinggi Sepekan

Sebarkan artikel ini
Dolar AS
nilai tukar Dolar AS menguat ke level tertinggi dalam sepekan terhadap mata uang utama lainnya pada perdagangan Senin (20/4/2026), didorong meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Topikseru.com, Jakarta – Ketegangan Timur Tengah memicu nilai tukar Dolar AS menguat ke level tertinggi dalam sepekan terhadap mata uang utama lainnya pada perdagangan Senin (20/4/2026), didorong meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga  Rupiah Melemah ke Rp 17.104 per Dolar AS, Tekanan Global dan Data Inflasi AS Jadi Pemicu

Penguatan dolar AS terjadi setelah AS menyatakan telah menyita kapal kargo Iran yang mencoba menembus blokade, sementara Teheran mengancam akan melakukan pembalasan.

Situasi ini memperbesar risiko kembalinya konflik terbuka serta memudarkan harapan tercapainya kesepakatan damai.

Baca Juga  Rupiah Melemah ke Rp 17.105 per Dolar AS, Tekanan Konflik Timur Tengah Bayangi Pasar

Iran juga menegaskan tidak akan mengikuti putaran kedua negosiasi yang diharapkan berlangsung sebelum masa gencatan senjata berakhir.

Melansir Reuters, Indeks dolar yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama, naik ke level 98,38 mendekati posisi tertinggi dalam sepekan.

Baca Juga  Rupiah Melemah ke Rp 17.105 per Dolar AS, Tekanan Konflik Timur Tengah Bayangi Pasar

Meski demikian, secara bulanan indeks ini masih turun sekitar 1,5% pada April, setelah sebelumnya sempat melonjak 2,3% pada Maret akibat permintaan aset aman.

Chief Investment Strategist Saxo Bank Charu Chanana menilai, eskalasi terbaru menghidupkan kembali premi risiko geopolitik di pasar.

“Lonjakan harga minyak bukan hanya cerita energi, tetapi juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan arah suku bunga,” ujarnya.

Di pasar valuta asing, euro turun 0,14% ke US$ 1,1746, sementara poundsterling melemah 0,29% ke US$ 1,3479. Dolar Australia yang sensitif terhadap risiko juga turun 0,3%.

Analis Barclays menyebut, investor masih cenderung memilih dolar, meski ada potensi pelemahan jika situasi geopolitik membaik.

Ketegangan di Timur Tengah juga berdampak pada pasar energi. Penutupan de facto Selat Hormuz jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia mendorong harga minyak melonjak.

Kontrak minyak Brent naik sekitar 7% ke US$ 96,8 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 8% ke US$ 90,74 per barel.

“Fokus utama pasar tetap pada Selat Hormuz. Harapan perundingan sebelum gencatan senjata berakhir kini tampak semakin kecil,” kata Nick Twidale dari ATFX Global.

Di sisi lain, yen Jepang melemah ke 159,06 per dolar, mendekati level 160 yang dinilai rawan memicu intervensi otoritas Jepang.

Pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan Bank of Japan, dengan Gubernur Kazuo Ueda memberi sinyal kemungkinan pengetatan kebijakan pada pertengahan tahun.

Sementara itu, aset kripto ikut tertekan. Bitcoin turun 0,56% ke US$ 74.229,65 dan Ethereum melemah 0,2% ke US$ 2.276,04.