Ekonomi dan Bisnis

Harga Minyak Mentah Diramalkan Akan Naik Jika Gangguan di Selat Hormuz Berlanjut

×

Harga Minyak Mentah Diramalkan Akan Naik Jika Gangguan di Selat Hormuz Berlanjut

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak mentah
Barclays menaikkan proyeksi harga minyak mentah Brent untuk tahun 2026 menjadi US$ 100 per barel. Dengan mencatat bahwa harga dapat naik lebih lanjut jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut lebih lama dari yang diperkirakan.

Topikseru.com, London – Kabar terbaru datang dari Barclays menaikkan proyeksi Harga Minyak Mentah Brent untuk tahun 2026 menjadi US$ 100 per barel.

Dengan mencatat bahwa harga dapat naik lebih lanjut jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut lebih lama dari yang diperkirakan.

“Semakin lama ini berlangsung, semakin besar dan kuat guncangan harga,” kata Barclays dalam sebuah catatan.

Bank tersebut menambahkan, aliran minyak melalui Selat Hormuz tetap sangat lambat, sementara penarikan persediaan semakin cepat.

Barclays memperkirakan bahwa pasar saat ini menghadapi defisit 6,6 juta barel per hari, yang kemungkinan akan melebar.

Sementara itu, bank tersebut bilang, dengan keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari OPEC dapat membantu mempersempit kesenjangan jangka menengah antara pasokan non-OPEC.

Dan pertumbuhan permintaan, tetapi kemungkinan tidak akan sepenuhnya menutupnya dan akan mengorbankan kapasitas cadangan.

Jika gangguan saat ini berlanjut hingga akhir Mei, harga Brent 2026 yang tersirat ke depan dapat berubah menjadi US$ 110 per barel, kata Barclays.

Harga minyak mentah berjangka turun pada hari Jumat (1/5/2026) setelah Iran mengusulkan negosiasi dengan AS.

Meskipun harga tetap berada di jalur untuk kenaikan mingguan karena Teheran terus memblokir Selat Hormuz dan Angkatan Laut AS mempertahankan blokade ekspor minyak mentah Iran.

Harga minyak mentah Brent berjangka untuk kontrak pengiriman Juli 2026 ditutup pada level US$ 108,17 pada hari Jumat (1/5/2026).

Sementara, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate untuk kontrak pengiriman Juni 2026 ditutup pada posisi US$ 101,94 per barel.

Tujuh Negara OPEC+ Mencapai Kesepakatan Awal untuk Menaikkan Target 7Juni 2026

Tujuh negara anggota OPEC+ mencapai kesepakatan awal untuk menaikkan target produksi minyak sekitar 188.000 barel per hari pada Juni 2026.

Meskipun tanpa keterlibatan Uni Emirat Arab (UEA), menurut dua sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.

Melansir Reuters, kesepakatan ini akan dibahas lebih lanjut dalam pertemuan kebijakan yang dijadwalkan berlangsung secara daring pada Minggu (3/5/2026).

Kenaikan produksi tersebut dinilai masih bersifat simbolis.

Pasalnya, sebagian besar jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih terhenti akibat konflik antara Amerika Serikat (AS).

Dan Israel melawan Iran, yang justru memberikan dampak lebih besar terhadap pasokan dibandingkan kebijakan kuota produksi.

Volume kenaikan ini relatif sejalan dengan peningkatan bulan sebelumnya sebesar 206.000 barel per hari, namun tanpa kontribusi dari UEA.

Seperti diketahui, UEA secara mengejutkan memutuskan keluar dari OPEC+ efektif per 1 Mei 2026.

Langkah ini mengindikasikan bahwa OPEC+ tetap menjalankan pendekatan ā€œbusiness as usualā€ meskipun menghadapi dinamika geopolitik yang kompleks.

Konflik Iran yang dimulai sejak 28 Februari 2026 serta penutupan Selat Hormuz telah menekan ekspor minyak dari sejumlah anggota utama OPEC+, seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan UEA.

Sebelum konflik, negara-negara tersebut merupakan produsen yang memiliki kapasitas untuk meningkatkan produksi.

Sementara itu, Iran yang juga merupakan anggota OPEC namun tidak termasuk dalam tujuh negara yang menggelar pertemuan mengalami penurunan ekspor akibat blokade AS sejak April lalu.

Berdasarkan laporan OPEC sebelumnya, total produksi minyak seluruh anggota OPEC+ tercatat sebesar 35,06 juta barel per hari pada Maret 2026, turun sekitar 7,70 juta barel per hari dibandingkan Februari.

Penurunan terbesar berasal dari Arab Saudi dan Irak akibat terbatasnya ekspor.

Di luar kawasan Teluk, Rusia juga memangkas produksi setelah infrastruktur energinya terdampak serangan drone Ukraina.

Adapun tujuh negara yang akan mengikuti pertemuan Minggu adalah Arab Saudi, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, Rusia, dan Oman.

Dengan keluarnya UEA, jumlah anggota OPEC+ kini menjadi 21 negara.

Meskipun dalam beberapa tahun terakhir keputusan produksi bulanan terutama ditentukan oleh kelompok inti negara-negara tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *