Ekonomi dan Bisnis

Harga Aluminium Naik 1,4% Bertengger di Level US$ 3.522 Per Metrik Ton

×

Harga Aluminium Naik 1,4% Bertengger di Level US$ 3.522 Per Metrik Ton

Sebarkan artikel ini
Harga Aluminium
harga aluminium kembali menguat didorong kekhawatiran gangguan pasokan di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Jumat (1/5/2026) harga aluminium kembali menguat didorong kekhawatiran gangguan pasokan di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Melansir Reuters mengutip data London Metal Exchange (LME), harga aluminium kontrak tiga bulan naik 1,4% menjadi US$ 3.522 per metrik ton.

Setelah sebelumnya mengalami penurunan selama lima sesi berturut-turut.

Kenaikan ini dipicu potensi terganggunya pengiriman dari kawasan Teluk, yang merupakan salah satu pusat produksi aluminium global.

Kawasan ini menyumbang sekitar 9% dari total produksi dunia.

Sebelumnya, harga aluminium sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun di US$ 3.672 per ton pada 16 April, sebelum melemah seiring meredanya ketegangan geopolitik.

Namun, eskalasi kembali terjadi setelah Iran menyatakan akan merespons dengan serangan “panjang dan menyakitkan” jika AS melanjutkan serangan.

Analis komoditas WisdomTree Nitesh Shah mengatakan, pasar saat ini dipengaruhi ketidakpastian tinggi terkait potensi gangguan pasokan.

“Ancaman terhadap pasokan dari konflik berkepanjangan menjadi faktor utama,”

“Terutama karena fasilitas di Qatar dan Bahrain belum sepenuhnya pulih,” ujarnya.

Salah satu produsen besar, Emirates Global Aluminium, menyebut pemulihan penuh produksi di smelter Al Taweelah

Baca Juga  Kejati Sumut Geledah Kantor Inalum di Kuala Tanjung Terkait Dugaan Penjualan Aluminium

Yang terdampak serangan Iran bisa memakan waktu hingga satu tahun.

Indikasi kekhawatiran pasokan jangka pendek juga terlihat dari premi kontrak tunai LME terhadap kontrak tiga bulan

Yang naik 7% menjadi US$ 60 per ton, bahkan telah lebih dari dua kali lipat sejak 17 April.

Di sisi lain, aktivitas perdagangan relatif terbatas karena bursa Shanghai Futures Exchange masih tutup hingga Rabu mendatang dalam rangka libur Hari Buruh.

Untuk komoditas logam lainnya, harga nikel di LME turun 0,5% menjadi US$ 19.380 per ton,

Setelah sempat menyentuh level tertinggi hampir dua tahun di US$ 19.645 per ton.

Didorong terbatasnya pasokan dari Indonesia sebagai produsen utama.

Analis Bank of America Michael Widmer mencatat, terjadi perubahan posisi investor dari net short menjadi net long pada nikel, yang menunjukkan sentimen pasar yang lebih positif.

Sementara itu, harga tembaga turun tipis 0,2% menjadi US$ 12.965 per ton.

Seng melemah 0,6% ke US$ 3.342, timbal relatif stabil di US$ 1.955, dan timah naik 0,2% menjadi US$ 49.300 per ton.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *