Ekonomi dan Bisnis

AS Diambang Bangkrut! Bensin Bebani Perekonomian AS Gara-gara Perang dengan Iran

×

AS Diambang Bangkrut! Bensin Bebani Perekonomian AS Gara-gara Perang dengan Iran

Sebarkan artikel ini
Bensin
mesin konsumsi Amerika Serikat yang selama ini menjadi penyangga utama pertumbuhan ekonomi mulai menunjukkan gejala kelelahan.Rumah tangga AS kini dibebani lonjakan harga bensin akibat konflik di Timur Tengah. Kenaikan biaya energi ini mulai menggerus daya beli.Setelah bertahan menghadapi inflasi tinggi, suku bunga mahal, serta tekanan biaya hidup dalam beberapa tahun terakhir.

Topikseru.com, Washington – Kabar buruk datang dari mesin konsumsi Amerika Serikat yang selama ini menjadi penyangga utama pertumbuhan ekonomi mulai menunjukkan gejala kelelahan.

Rumah tangga AS kini dibebani lonjakan harga bensin akibat konflik di Timur Tengah. Kenaikan biaya energi ini mulai menggerus daya beli.

Setelah bertahan menghadapi inflasi tinggi, suku bunga mahal, serta tekanan biaya hidup dalam beberapa tahun terakhir.

Rumah tangga Amerika Serikat (AS) kini dibebani lonjakan harga bensin akibat konflik yang masih belum juga usai di Timur Tengah.

Kenaikan biaya energi tersebut mulai menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah.

Efeknya, belanja barang di luar kebutuhan pokok turun, seperti makan di restoran atau hiburan, mulai turun.

Sejumlah perusahaan besar di sektor ritel, restoran hingga barang konsumsi mulai menyuarakan kekhawatiran yang sama.

Konsumen, terutama kelompok berpendapatan rendah, disebut semakin kesulitan menutup kebutuhan bulanan.

“Mereka benar-benar kehabisan uang di akhir bulan,” ujar Steve Cahillane, Chief Executive Officer Kraft Heinz Co dalam wawancara pekan ini..

Menurut Cahillane, tekanan daya beli paling besar terjadi pada kelompok pendapatan bawah.

Tekanan tersebut bahkan membuat kelompok ini terpaksa menguras tabungan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa daya tahan konsumen AS tidak sekuat sebelumnya.

Sejak pandemi Covid-19, data-data belanja masyarakat Amerika kerap mengejutkan pasar.

Meski inflasi meninggi dan suku bunga naik agresif, konsumsi rumah tangga tetap tumbuh dan membantu ekonomi AS terhindar dari resesi.

Kendati begitu, kenaikan harga energi berpotensi menjadi titik balik bagi kondisi tersebut.

Harga bensin rata-rata di AS kini mencapai US$ 4,56 per galon, tertinggi sejak Juli 2022.

Ketika porsi pendapatan tersedot untuk bahan bakar, ruang belanja untuk kebutuhan non-primer menjadi semakin sempit.

Produsen peralatan rumah tangga Whirlpool Corp ikut merasakan dampaknya. CEO Whirlpool Marc Bitzer mengatakan, perang di Iran memperburuk kekhawatiran konsumen terhadap biaya hidup.

Bitzer menyebut permintaan industri turun 15%, setara tekanan saat krisis keuangan global 2008.

Di sektor makanan cepat saji, McDonald’s melihat kepercayaan konsumen belum membaik. Bahkan, tekanan dinilai makin besar seiring tingginya harga bensin, terutama di masyarakat berpenghasilan rendah.

Efek serupa menjalar ke restoran keluarga. Dine Brands Global, pemilik Applebee’s dan IHOP, menyebut pelanggan yang sensitif harga kini lebih memilih makan di rumah.

Sementara itu, peritel kacamata Warby Parker menyoroti tekanan di kalangan konsumen muda.

Selain biaya hidup yang naik, mereka juga dibebani pengangguran yang lebih tinggi serta cicilan pinjaman pendidikan.

Bukan hanya belanja yang melambat, kemampuan menabung warga Amerika juga terus menurun.

Tingkat tabungan pada Maret tercatat menjadi yang terendah dalam tiga tahun. Artinya, bantalan keuangan rumah tangga makin tipis.

Ekonom Comerica Bank Bill Adams menilai, dalam jangka pendek konsumen masih bisa mengandalkan tabungan atau kartu kredit.

Namun bila harga bensin bertahan tinggi lebih lama, masyarakat akan mulai mengubah pola konsumsi secara permanen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *