Sejarah

Mahkota Binokasih Jadi Sorotan di Kirab Budaya Karawang, Simbol Kejayaan Tatar Sunda Kembali Dihadirkan

×

Mahkota Binokasih Jadi Sorotan di Kirab Budaya Karawang, Simbol Kejayaan Tatar Sunda Kembali Dihadirkan

Sebarkan artikel ini
Mahkota Binokasih
Bupati Karawang Aep Syaepuloh (kedua dari kiri) saat menyambut kedatangan Mahkota Binokasih yang dibawa oleh para sesepuh dan rombongan adat dari Keraton Sumedang Larang ke Pemkab Karawang. Foto: Dok. Pemkab Karawang

Topikseru.com – Ribuan warga memadati pelaksanaan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Karawang, Sabtu (9/5/2026) malam. Selain menampilkan beragam kesenian tradisional Sunda, perhatian publik tertuju pada kehadiran Mahkota Binokasih yang ditampilkan di atas panggung utama acara.

Kegiatan budaya tersebut turut dihadiri Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, yang berharap pelestarian Budaya Sunda terus diperkuat melalui kegiatan kebudayaan yang melibatkan masyarakat luas.

Apa Itu Mahkota Binokasih?

Mahkota Binokasih atau Makuta Binokasih Sanghyang Pake merupakan mahkota emas peninggalan Kerajaan Sunda pada abad ke-14.

Benda pusaka tersebut dikenal sebagai simbol legitimasi kekuasaan dari Kerajaan Pajajaran menuju Kerajaan Sumedang Larang, sekaligus lambang kehormatan, kasih sayang, dan kebijaksanaan seorang pemimpin.

Mahkota ini dibuat menggunakan emas murni berkadar 14 hingga 18 karat dengan berat diperkirakan mencapai 5,7 kilogram hingga 8 kilogram.

Pusaka bersejarah itu dibuat pada masa pemerintahan Sanghyang Bunisora Suradipati sekitar tahun 1357 hingga 1371 dan digunakan dalam prosesi penobatan raja-raja Sunda.

Filosofi Kasih Sayang dalam Mahkota

Secara makna, “Binokasih” diartikan sebagai kasih sayang, sementara “Sanghyang Pake” bermakna sesuatu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Nama tersebut menggambarkan nilai bahwa kasih sayang harus menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat maupun kepemimpinan.

Mahkota Binokasih juga memiliki tiga susunan utama yang melambangkan konsep Sunda Tritangtu, yaitu:

  • Silih asah (saling berbagi ilmu)
  • Silih asih (saling menyayangi)
  • Silih asuh (saling membimbing)

Selain itu, ornamen bunga wijaya kusuma dan burung julang pada mahkota melambangkan kesetiaan, ketulusan, dan kekuatan tekad. Mahkota yang asli kini disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun.

Sementara replikanya ditempatkan di Museum Sri Baduga sebagai bagian dari pelestarian Sejarah dan budaya Sunda.

Simbol Persatuan dan Kebijaksanaan

Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, mengatakan kehadiran benda pusaka tersebut dalam Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda menjadi pengingat pentingnya hubungan yang dibangun atas dasar kasih sayang antara pemimpin dan masyarakat.

“Kehadiran Mahkota Binokasih di sini adalah pengingat bahwa pemimpin dan rakyatnya harus diikat oleh rasa kasih,” ujar Aep.

Dia menilai pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan fisik dan ekonomi, melainkan juga harus dibangun dengan menjaga nilai budaya, persatuan, dan kebersamaan.

Menurutnya, bagi masyarakat Sunda, Mahkota Binokasih bukan sekadar benda pusaka, tetapi simbol kebijaksanaan dan pengingat kejayaan Tatar Sunda di masa lampau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *