Topikseru.com, Medan – Setiap tanggal 20 Mei 2026, masyarakat internasional memperingati Hari Lebah Madu Sedunia (World Bee Day).
Momentum global yang diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini bukan sekadar perayaan biasa. Melainkan sebuah alarm tahunan yang mengingatkan umat manusia akan peran krusial serangga penyerbuk tersebut terhadap keberlangsungan ekosistem dan ketahanan pangan bumi.
Pencanangan Hari Lebah Sedunia pertama kali disahkan oleh Majelis Umum PBB pada Desember 2017 setelah melalui proposal panjang yang diajukan oleh negara Slovenia. Tanggal 20 Mei dipilih bukan tanpa alasan, melainkan untuk menghormati hari lahir Anton Janša (1734–1773).
Jansa adalah seorang tokoh asal Slovenia yang diakui sebagai pelopor pemeliharaan lebah modern secara global.
Ia terkenal karena berhasil mengubah teknik peternakan lebah tradisional menjadi ilmu yang terstruktur. Sekaligus menjadi orang pertama yang menyadari betapa tangguhnya lebah meski memiliki ukuran tubuh yang sangat kecil.
Banyak orang mengira peran lebah hanya sebatas menghasilkan madu. Faktanya, kontribusi lebah jauh lebih besar dari itu. Melansir data resmi FAO, hampir sepertiga (33%) dari total produksi pangan dunia sangat bergantung pada penyerbukan yang dilakukan oleh hewan, di mana lebah memegang peran yang paling dominan.
Tanpa adanya proses penyerbukan (pollination) dari lebah, tanaman pangan penting seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian tidak dapat berkembang biak dengan optimal.
Singkatnya, kepunahan lebah dapat memicu krisis pangan global, keruntuhan sektor pertanian, dan hilangnya keanekaragaman hayati secara drastis.
Meskipun jasanya begitu besar bagi piring makan manusia, populasi lebah di seluruh dunia saat ini berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
Laporan dari berbagai organisasi lingkungan internasional menyebutkan bahwa tingkat kepunahan spesies penyerbuk ini sekarang mencapai 100 hingga 1.000 kali lebih tinggi dari tingkat normal akibat dampak aktivitas manusia.
Keindahan dan Nilai Lebah
Hari raya ini mengingatkan kita akan keindahan dan nilai lebah.
Tahukah Anda bahwa terdapat 20.000 spesies lebah yang berbeda di seluruh dunia? Hari raya ini adalah waktu untuk merayakan pentingnya lebah di dunia kita. Hari raya ini juga membantu meningkatkan kesadaran akan bahaya yang dihadapi lebah madu, beserta saran cara untuk mengatasinya.
National today mencatat, Hari Lebah Madu Sedunia pertama kali diperingati pada tahun 2009, dan sejak itu semakin populer. Hari raya ini bertujuan untuk mempromosikan peternakan lebah, tetapi juga mengungkap banyak hal tentang lebah madu.
Manisnya madu sering dirayakan selama musim liburan. Madu digunakan dalam beberapa hidangan paling lezat yang ditemukan di seluruh dunia. Madu memiliki daya tarik yang mendunia dan sering digunakan sebagai metafora untuk kesuburan dalam karya sastra.
Sejak peradaban paling awal, madu telah digunakan sebagai pemanis untuk semua jenis makanan. Meskipun metode pengumpulan madu terkadang menyakitkan, orang-orang tetap dengan senang hati mengambil risiko. Pentingnya madu tidak hanya sebatas pada manfaatnya saja. Madu telah digunakan sebagai pengawet dan untuk mengobati penyakit tertentu. Manfaat madu dengan cepat memicu minat untuk beternak lebah sejak peradaban Mesir.
Metode dan pemeliharaannya semakin berkembang seiring waktu. Setelah panen sarang lebah, seorang pria bernama Lorenzo Langstroth menemukan cara untuk menjaga sarang tetap hidup.
Lebah juga diketahui memiliki peran penting dalam penyerbukan. Karena penyerbukan sangat penting bagi kita, hal ini telah menarik banyak perhatian terhadap peran lebah.
Hari Lebah Madu Sedunia adalah hari libur yang didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran tentang berbagai manfaat lebah. Hari ini adalah hari untuk merayakan beternak lebah dan mendorong Anda untuk mempelajarinya lebih lanjut. Namun, hari ini juga mengingatkan kita pada kepunahan spesies lebah di seluruh dunia. Hari libur ini mendorong kita untuk memikirkan dampak kita terhadap lingkungan.












