Keuangan

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.654 per Dolar AS, Pasar Respons Positif Kenaikan Suku Bunga BI

×

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.654 per Dolar AS, Pasar Respons Positif Kenaikan Suku Bunga BI

Sebarkan artikel ini

Rupiah Menguat di Tengah Langkah Agresif Bank Indonesia

rupiah hari ini
Rupiah ditutup menguat ke Rp 17.654 per dolar AS setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25

Topikseru.com – Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu di tengah respons positif pasar terhadap langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan.

Berdasarkan data perdagangan pasar spot, kurs rupiah ditutup naik 52 poin atau 0,29 persen ke level Rp17.654 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 17.706 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI juga menguat ke posisi Rp 17.685 per dolar AS dibanding sehari sebelumnya Rp 17.719 per dolar AS.

Kenaikan BI rate Jadi Penopang Rupiah

Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Tiffani Safinia, mengatakan penguatan rupiah dipicu optimisme pasar terhadap langkah Bank Indonesia menjaga stabilitas mata uang domestik.

“Pasar masih mencermati respons pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah, termasuk efektivitas intervensi di pasar valas dan obligasi,” ujar Tiffani di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026, BI resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.

Selain itu:

  • Deposit facility naik menjadi 4,25 persen
  • Lending facility naik menjadi 6 persen

Langkah tersebut sekaligus mengakhiri periode delapan bulan BI mempertahankan suku bunga di level sebelumnya.

BI Fokus Jaga Stabilitas Ekonomi

Bank Indonesia menegaskan kenaikan suku bunga dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah meningkatnya gejolak global, khususnya akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Selain itu, kebijakan moneter yang lebih ketat juga diarahkan untuk menjaga inflasi 2026-2027 tetap berada pada target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

BI juga menegaskan fokus kebijakan moneter tahun ini lebih diarahkan pada pendekatan pro-stability demi memperkuat ketahanan eksternal ekonomi nasional.

Pasar Pantau Kebijakan Prabowo dan The Fed

Selain faktor suku bunga, pelaku pasar juga menyoroti pidato Presiden Prabowo Subianto terkait arah kebijakan ekonomi dan fiskal pemerintah.

Investor dinilai masih menunggu konsistensi pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi, stabilitas fiskal, dan arus investasi asing.

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah masih datang dari:

  • pelemahan IHSG,
  • potensi arus modal keluar asing,
  • penguatan dolar AS,
  • hingga ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat.

Pelaku pasar global saat ini cenderung bersikap wait and see terhadap risalah Federal Open Market Committee (FOMC) serta sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Kondisi tersebut membuat investor global memilih aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.

“Tensi geopolitik global dan penguatan dolar AS turut meningkatkan kehati-hatian investor di pasar Keuangan,” kata Tiffani.

Rupiah Masih Dibayangi Risiko Global

Meski menguat pada perdagangan hari ini, analis menilai pergerakan rupiah masih rentan terhadap dinamika global, terutama:

  • konflik geopolitik,
  • arah suku bunga The Fed,
  • volatilitas harga komoditas,
  • dan arus modal asing di pasar emerging market.

Namun, langkah agresif BI menaikkan suku bunga dinilai menjadi sinyal kuat bahwa otoritas moneter siap menjaga stabilitas rupiah dan kepercayaan investor terhadap Ekonomi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *