Keuangan

Laba Bank Mandiri Tembus Rp 15,4 Triliun di Q1 2026, Kredit Tumbuh 17,4%

×

Laba Bank Mandiri Tembus Rp 15,4 Triliun di Q1 2026, Kredit Tumbuh 17,4%

Sebarkan artikel ini
laba Bank Mandiri 2026
Bank Mandiri

Kinerja Solid Awal Tahun, Laba Bank Mandiri Tumbuh Dua Digit

Topikseru.com, Jakarta – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatatkan kinerja impresif pada kuartal I 2026 dengan laba bersih konsolidasi mencapai Rp 15,4 triliun, atau tumbuh 16,6 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Capaian ini ditopang oleh profitabilitas yang terjaga serta fondasi permodalan yang kuat di tengah dinamika industri perbankan nasional.

Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menyatakan optimisme terhadap prospek ke depan.

“Dengan fundamental yang solid, kami optimistis dapat terus berkontribusi signifikan dalam memperkuat industri perbankan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya dalam konferensi pers daring, Selasa (21/4/2026).

Baca Juga  Catatkan Performa Positif Q1 2026, Laba Bersih HKA Melampaui Target Hingga 184%

Profitabilitas dan Permodalan Tetap Kuat

Per akhir Maret 2026, rasio return on equity (ROE) Bank Mandiri (bank only) berada di level 22,1 persen, mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari modal yang dimiliki.

Sementara itu, capital adequacy ratio (CAR) tercatat sebesar 19,7 persen, menunjukkan permodalan yang tetap kuat untuk menopang ekspansi bisnis.

Total pendapatan perusahaan juga tumbuh 9,15 persen (yoy), memperkuat posisi keuangan secara keseluruhan.

Kredit Tumbuh Agresif, Fokus ke Sektor Produktif

Bank Mandiri mencatat total penyaluran kredit mencapai Rp1.530 triliun, naik 17,4 persen (yoy). Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan pertumbuhan industri perbankan.

Manajemen menyebut ekspansi kredit difokuskan pada sektor produktif dan padat karya guna mendorong aktivitas ekonomi riil.

Di segmen UMKM, kredit tumbuh 5,27 persen (yoy), berbanding terbalik dengan tren industri yang masih mengalami kontraksi.

Baca Juga  BRI Bagi Dividen Rp52,1 Triliun, Investor Kantongi Rp 346 per Saham

DPK Melonjak, Likuiditas Tetap Terjaga

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) Bank Mandiri tumbuh 21,1 persen (yoy) menjadi Rp 1.675 triliun.

Pertumbuhan ini melampaui rata-rata industri, mencerminkan tingkat kepercayaan nasabah yang tetap kuat terhadap bank pelat merah tersebut.

Struktur pendanaan juga semakin solid dengan dana murah (CASA) mencapai Rp 1.201 triliun atau tumbuh 12,7 persen (yoy).

Efisiensi dan Kualitas Aset Membaik

Bank Mandiri mencatat peningkatan efisiensi operasional yang tercermin dari rasio BOPO di level 58,0 persen.

Di sisi lain, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross berada di level 0,98 persen, membaik dibandingkan tahun sebelumnya.

Cadangan kerugian juga cukup kuat, dengan NPL coverage ratio mencapai 245 persen.

Dukung Program Strategis Nasional

Selain kinerja bisnis, Bank Mandiri juga aktif mendukung berbagai program pemerintah, antara lain:

  • Kredit Usaha Rakyat (KUR)
  • Program 3 Juta Rumah (FLPP)
  • Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
  • Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)

Hingga kuartal I 2026, penyaluran KUR mencapai Rp 11 triliun dan menjangkau lebih dari 87 ribu pelaku UMKM.

Pada program MBG, sekitar 6.000 satuan layanan telah menggunakan sistem Virtual Account Bank Mandiri untuk meningkatkan transparansi keuangan.

Baca Juga  Bank BCA Cetak Laba Rp 29 Triliun di Semester I 2025, Kredit Kendaraan Listrik Melonjak

Dorong Ekonomi Kerakyatan hingga Desa

Bank Mandiri juga berperan dalam pembiayaan sekitar 2.300 unit hunian melalui program perumahan rakyat.

Di tingkat desa, dukungan diberikan kepada sekitar 80 ribu koperasi sebagai bagian dari penguatan ekonomi berbasis komunitas.

Dengan kinerja keuangan yang solid dan ekspansi bisnis yang terukur, Bank Mandiri menunjukkan peran strategisnya sebagai motor penggerak sektor perbankan nasional.

Kombinasi pertumbuhan kredit, penghimpunan dana, serta dukungan terhadap program pemerintah menjadi fondasi bagi pertumbuhan berkelanjutan di tengah tantangan ekonomi global.