Ekonomi dan Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,12% Tersudut di Level Rp 17.963 per Dolar AS Siang Ini

×

Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,12% Tersudut di Level Rp 17.963 per Dolar AS Siang Ini

Sebarkan artikel ini
Nilai Tukar Rupiah
nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.963 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,12% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.944 per dolar AS. Di Asia, nilai tukar rupiah melemah Bersama beberapa mata uang lainnya. Rupee India mencatat pelemahan terdalam yakni 0,41%.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Kamis (11/6/2026) siang. Pukul 12.15 WIB Nilai Tukar rupiah melanjutkan pelemahan di pasar spot.

Di mana nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.963 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,12% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.944 per dolar AS.

Di Asia, nilai tukar rupiah melemah Bersama beberapa mata uang lainnya. Rupee India mencatat pelemahan terdalam yakni 0,41%.

Disusul won Korea yang melemah 0,31%, dolar Taiwan melemah 0,24% dan rupiah yang melemah 0,12%. Sedangkan mayoritas mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS siang ini.

Peso Filipina menguat 0,39%, baht Thailand menguat 0,15%, ringgit Malaysia menguat 0,06%, dolar Singapura menguat 0,05%, yen Jepang menguat 0,02%.

Yuan China menguat 0,01% dan dolar Hong Kong menguat 0,009% terhadap dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Utama dunia ada di 99,94, tak berubah dari sehari sebelumnya.

Nilai Tukar Rupiah Loyo Terdampar di Level Rp17.944 per Dolar AS Pagi Ini

Pada perdagangan Kamis (11/6/2026). Pukul 09.06 WIB nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.958 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spor.

Nilai tukar rupiah melemah 0,07% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.944 per dolar AS.

Di Asia, rupiah melemah Bersama beberapa mata uang lainnya. Won Korea mencatat pelemahan terdalam yakni 0,43%, disusul dolar Taiwan yang melemah 0,19%, rupiah melemah 0,08%.

Ringgit Malaysia melemah 0,03% dan yuan China yang melemah 0,03% terhadap dolar AS. Sedangkan mayoritas mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS pagi ini.

Baht Thailand mencatat penguatan terbesar yakni 0,18%, peso Filipina menguat 0,13%, yen Jepang menguat 0,03%, dolar Singapura menguat 0,02% dan dolar Hong Kong menguat 0,01% terhadap dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 99,90, turun dari sehari sebelumnya yang ada di 99,94.

Analis Pasar: Rilis data inflasi AS juga berpotensi menahan penguatan rupiah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (10/6/2026), didorong oleh sentimen positif dari dalam negeri, terutama meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) setelah kenaikan suku bunga acuan.

Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,63% secara harian dan ditutup di level Rp 17.944 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, mata uang Garuda terapresiasi lebih tinggi yakni 0,93% ke posisi Rp 17.971 per dolar AS.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah pada perdagangan kali ini terutama ditopang oleh faktor domestik.

Menurutnya, pelaku pasar mulai memiliki harapan lebih besar bahwa Bank Indonesia masih berpeluang kembali menaikkan suku bunga pada periode mendatang untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Selain itu, kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax juga dinilai memberikan sentimen positif terhadap pergerakan rupiah.

“Walau demikian, rilis data inflasi AS juga berpotensi menahan penguatan rupiah. Dari domestik, investor menantikan rilis data penjualan ritel bulan April,” ujar Lukman.

Lukman menambahkan, tren positif rupiah berpotensi berlanjut pada perdagangan berikutnya selama tidak muncul tekanan besar dari faktor eksternal, terutama perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah maupun pergerakan Harga Minyak Mentah global.

Untuk perdagangan Kamis (11/6), ia memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.000 per dolar AS.

Sementara itu, Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi menilai keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5% disambut positif oleh pelaku pasar.

Kebijakan tersebut dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas rupiah setelah sebelumnya beberapa kali menyentuh rekor pelemahan.

“Kenaikan suku bunga acuan juga membantu pemerintah dalam lelang obligasi bertenor 10 tahun, dengan bunga 7,4% sehingga investor asing maupun domestik diharapkan bisa kembali menyerbu lelang Surat Utang Negara (SUN),” kata Ibrahim.

Menurut Ibrahim, arah pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor global. Salah satu yang paling dinantikan pasar adalah rilis data inflasi Amerika Serikat yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Di sisi lain, pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan global dan memengaruhi sentimen terhadap aset negara berkembang, termasuk rupiah.

Untuk perdagangan Kamis (11/6/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun tetap berpeluang ditutup menguat pada rentang Rp 17.900 hingga Rp 17.950 per dolar AS.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *