Ekonomi dan Bisnis

IHSG Berbalik Arah Melemah 112,98 Poin Terperosok ke Level 5.789,397 Siang Ini

×

IHSG Berbalik Arah Melemah 112,98 Poin Terperosok ke Level 5.789,397 Siang Ini

Sebarkan artikel ini
IHSG
Berdasarkan data RTI hingga pukul 12.00 WIB, IHSG anjlok 1,91% atau 112,98 poin ke level 5.789,397. Tekanan jual terjadi hampir merata di pasar, tercermin dari 500 saham yang melemah, sementara hanya 185 saham menguat dan 128 saham bergerak stagnan.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan sesi I Kamis (11/6/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah dan terperosok hampir 2%.

Seiring memburuknya sentimen pasar global akibat lonjakan inflasi Amerika Serikat (AS) dan memanasnya kembali konflik di Timur Tengah.

Berdasarkan data RTI hingga pukul 12.00 WIB, IHSG anjlok 1,91% atau 112,98 poin ke level 5.789,397.

Tekanan jual terjadi hampir merata di pasar, tercermin dari 500 saham yang melemah, sementara hanya 185 saham menguat dan 128 saham bergerak stagnan.

Aktivitas perdagangan terbilang ramai dengan volume transaksi mencapai 22,2 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 12,7 triliun.

Pelemahan IHSG dipicu oleh penurunan seluruh indeks sektoral. Sektor bahan baku (IDX Basic) memimpin koreksi dengan penurunan 6,27%.

Diikuti sektor energi (IDX Energy) yang merosot 3,17% dan sektor transportasi (IDX Trans) yang melemah 2,94%.

Saham top losers LQ45:
PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) turun 14,18% ke Rp 1.785
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 11,64% ke Rp 645
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 9,66% ke Rp 1.590

Saham top gainers LQ45:
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) naik 3,56% ke Rp 2.910
PT Indosat Tbk (ISAT) naik 1,93% ke Rp 1.850
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) naik 1,67% ke Rp 1.215.

IHSG Dibuka Naik 11,15 Poin Berdiri di Level 5.913,53 Pagi Ini

Pada awal perdagangan Kamis (11/6/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif namun masih menguat di tengah pelemahan mayoritas bursa saham Asia yang tertekan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan aksi jual saham teknologi global.

Berdasarkan yang dilansir dari data RTI pukul 09.13 WIB, IHSG naik 0,19% atau 11,15 poin ke level 5.913,53. Sebanyak 257 saham menguat, 263 saham melemah, dan 199 saham bergerak stagnan.

Volume perdagangan mencapai 4 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 2,5 triliun. Penguatan IHSG ditopang oleh tujuh indeks sektoral.

Tiga sektor dengan kenaikan tertinggi yakni IDX Technology yang menguat 1,27%, IDX Property naik 0,90%, dan IDX Energy bertambah 0,49%.

Saham top gainers LQ45:
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) naik 5,44% ke Rp 1.260
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) naik 3,12% ke Rp 1.650
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) naik 2,85% ke Rp 2.890

Saham top losers LQ45:
PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) turun 6,01% ke Rp 1.955
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) turun 2,63% ke Rp 2.590
PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) turun 2,15% ke Rp 1.590

Berbeda dengan IHSG, mayoritas bursa saham Asia bergerak di zona merah. Mengutip Reuters, indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang turun 0,9%, dengan tekanan terbesar berasal dari indeks KOSPI Korea Selatan yang anjlok 3%.

Kontrak berjangka indeks S&P 500 juga melemah 0,3%, mencerminkan kehati-hatian investor terhadap aset berisiko setelah inflasi Amerika Serikat meningkat lebih tinggi dari perkiraan dan memicu kekhawatiran terhadap prospek suku bunga.

Sentimen negatif juga datang dari perkembangan geopolitik. Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran pada Rabu (10/6) malam, hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump mengancam akan melakukan serangan lanjutan apabila kesepakatan damai tidak tercapai.

Sebagai respons, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi salah satu urat nadi distribusi energi global.

Kondisi tersebut mendorong harga minyak Brent naik 2% ke level US$ 94,93 per barel pada perdagangan awal Asia.

Analis menilai saham-saham teknologi Asia yang sebelumnya mencatat reli kuat dalam dua bulan terakhir berpotensi melanjutkan koreksi.

Investor mulai mempertanyakan keberlanjutan pertumbuhan laba yang selama ini menjadi pendorong utama kenaikan harga saham sektor tersebut.

Strategis Kuantitatif Asia Bernstein Rupal Agarwal mengatakan, valuasi saham teknologi di Korea Selatan, Taiwan, dan kawasan Asia secara umum telah berada pada level yang cukup tinggi.

“Ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan laba sudah sangat optimistis. Dengan valuasi yang mahal, kondisi ini membuat saham-saham tersebut rentan mengalami koreksi lebih lanjut,” tulis Agarwal dalam catatannya kepada klien.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *