Ekonomi dan Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Masih dalam Tekanan Belum akan Kembali ke Level Rp16.000 Per Dolar AS

×

Nilai Tukar Rupiah Masih dalam Tekanan Belum akan Kembali ke Level Rp16.000 Per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Nilai Tukar Rupiah
pergerakan nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan dan diperkirakan belum akan kembali ke level Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat dalam waktu dekat.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Rabu (22/4/2026) pergerakan nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan dan diperkirakan belum akan kembali ke level Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat dalam waktu dekat.

Baca Juga  Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,33% Berada di Level Rp16.353 Per Dolar AS

Menanggapi hal tersebut, Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, level Rp 17.000 per dolar AS saat ini mencerminkan tekanan yang berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik.

“Sulit untuk kembali ke Rp 16.000, karena rupiah saat ini tertekan oleh faktor internal dan eksternal,” ujarnya.

Baca Juga  Nilai Tukar Rupiah Melemah Dihantam Ketegangan Timur Tengah: Harga Minyak dan Risiko Inflasi Jadi Ancaman

Menurut Lukman, dari sisi global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan rupiah.

“Posisi Amerika Serikat dan Iran meski gencatan senjata diperpanjang, tetapi perbedaan keduanya semakin tajam,” jelasnya.

Sementara dari dalam negeri, kebijakan pemerintah juga turut memengaruhi sentimen pasar terhadap rupiah, khususnya terkait upaya pengendalian defisit anggaran.

Ia menyoroti kebijakan yang berkaitan dengan harga bahan bakar minyak (BBM) serta program pemerintah sebagai faktor yang diperhatikan pelaku pasar.

Selain itu, pasar juga mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang menjadi salah satu penentu arah kebijakan moneter ke depan.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Lukman menilai prospek rupiah dalam jangka pendek masih cenderung negatif.

“Saat ini masih negatif,” tambahnya.

Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan fluktuatif, seiring ketidakpastian global dan respons kebijakan domestik terhadap tekanan eksternal tersebut.