/* ===================== ===================== */Harga Bitcoin (BTC) Kembali Menguat 3,90% Dalam Sepekan ke Level US$ 77.664 Per Koin
Ekonomi dan Bisnis

Harga Bitcoin (BTC) Kembali Menguat 3,90% Dalam Sepekan ke Level US$ 77.664 Per Koin

×

Harga Bitcoin (BTC) Kembali Menguat 3,90% Dalam Sepekan ke Level US$ 77.664 Per Koin

Sebarkan artikel ini
Harga Bitcoin (BTC)
Pada perdagangan Jumat (24/4/2026) harga Bitcoin (BTC) kembali menguat 3,90% dalam sepekan ke level US$ 77.664 di pasar spot.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Jumat (24/4/2026) harga Bitcoin (BTC) kembali menguat 3,90% dalam sepekan ke level US$ 77.664 di pasar spot.

Menanggapi hal tersebut, Vice President Indodax, Antony Kusuma mengatakan, penguatan ini didorong oleh arus masuk dana institusional yang tetap solid.

Baca Juga  Harga Bitcoin (BTC) Naik 0,26% Bertengger di Level US$ 92.530 Atau Sekitar Rp1,54 Miliar Per Koin

Tercermin dari akumulasi dana pada produk spot harga Bitcoin (BTC) ETF sekitar US$ 250,22 juta sepanjang pekan dengan total akumulasi sebesar US$ 57,95 miliar.

Tren ini mengindikasikan bahwa permintaan serta kepercayaan terhadap aset kripto masih terjaga di tengah dinamika pasar global.

Baca Juga  Harga Bitcoin (BTC) Terjatuh 0,88% Bertengger di Level US$ 92.135 Atau sSekitar Rp1,53 Miliar Per Koin

Menariknya, kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran menolak melanjutkan negosiasi dengan AS.

Meskipun sebelumnya terdapat upaya perpanjangan gencatan senjata dari pihak AS.

Baca Juga  Harga Bitcoin (BTC) Terkoreksi 1,09% Bertengger di Level U$D90,195 Atau Setara Rp1.511.121.881 Per Koin

Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan Bitcoin tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen risiko global.

Tetapi juga oleh kekuatan permintaan, khususnya dari investor institusional dalam jangka panjang.

Antony menilai bahwa penguatan Bitcoin saat ini mencerminkan perubahan struktur pasar yang semakin didorong oleh partisipasi investor institusional.

Pergerakan Bitcoin saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek.

Tetapi juga oleh permintaan yang semakin konsisten dari investor institusional, yang terlihat dari arus masuk melalui produk spot ETF.

Di tengah ketidakpastian global, kondisi ini justru dimanfaatkan oleh sebagian investor sebagai momentum akumulasi.

“Hal ini menjadi salah satu faktor yang menopang harga, meskipun volatilitas jangka pendek tetap perlu diantisipasi,” ujar Antony dalam keterangan tertulisnya, Jumat (24/4/2026).

Selain faktor permintaan institusional, dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat juga turut memengaruhi pergerakan pasar.

Penegasan independensi bank sentral mencerminkan komitmen The Fed dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Namun di sisi lain, ketidakpastian arah suku bunga di tengah kondisi inflasi yang belum sepenuhnya stabil.

Membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati terhadap aset berisiko, termasuk kripto, dalam jangka pendek.

Namun, semakin terbukanya pandangan terhadap aset digital sebagai bagian dari sistem keuangan modern.

Turut memberikan sentimen positif bagi prospek jangka panjang industri kripto.

Selain itu, pergerakan harga juga dipengaruhi oleh aktivitas di pasar derivatif. Dalam beberapa waktu terakhir.

Banyak posisi jual (short) yang terpaksa ditutup ketika harga mulai naik, sehingga memicu terjadinya short squeeze.

Hal ini meningkatkan permintaan dalam waktu singkat dan mempercepat penguatan harga dalam jangka pendek.

Secara keseluruhan, kombinasi antara dinamika geopolitik, faktor makroekonomi, partisipasi institusional.

Serta kondisi teknikal di pasar derivatif mengindikasikan bahwa struktur pasar kripto saat ini semakin kompleks.

Namun demikian, volatilitas tetap menjadi karakter utama, sehingga investor perlu tetap mengedepankan manajemen risiko.

Serta melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Dia menjelaskan bagi kami di Indodax melihat kondisi ini sebagai bagian dari dinamika pasar yang perlu disikapi secara bijak.

“Sehingga, kami mengimbau agar setiap keputusan investasi tetap didasarkan pada pemahaman yang matang serta pengelolaan risiko yang terukur,” pungkas Antony.