Topikseru.com, Jakarta – Pada awal perdagangan hari ini. Rabu (6/5/2026) nilai tukar Rupiah berhasil rebound dibuka di level Rp 17.383 per dolar AS.
Ini membuat nilai tukar rupiah menguat 0,24% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.424 per dolar AS.
Pergerakan nilai tukar rupiah sejalan dengan seluruh Mata Uang di Asia.
Sementara, hingga pukul 09.00 WIB, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,76%.
Selanjutnya, dolar Taiwan melesat 0,37% dan peso Filipina yang terangkat 0,31%. Disusul, ringgit Malaysia yang naik 0,26%.
Berikutnya ada baht Thailand terkerek 0,24% dan dolar Singapura terapresiasi 0,16%. Lalu, yen Jepang menanjak 0,12%.
Kemudian dolar Hong Kong terlihat menguat tipis 0,004% terhadap the greenback di pagi ini.
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Sendiri Masih Rawan Tertekan
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, rebound yang dialami rupiah disebabkan oleh tekanan dolar AS yang terjadi di tengah meningkatnya
Harapan akan kesepakatan perdamaian AS-Iran setelah Donald Trump mengisyaratkan kemajuan besar menuju kesepakatan akhir dengan Teheran.
Data pertumbuhan ekonomi nasional yang realisasinya lebih kuat juga ikut mendukung pergerakan rupiah.
“Namun, faktor eksternal saat ini terutama harga minyak dunia lebih dominan,” katanya.
Nilai tukar rupiah sendiri masih rawan tertekan, mengingat gejolak geopolitik di Timur Tengah masih terjadi yang berdampak pada fluktuasi harga minyak mentah dunia. Selama harga minyak masih tinggi, maka rupiah akan terus tertekan.
Dari dalam negeri, langkah-langkah Bank Indonesia (BI) dalam menstabilkan Kurs rupiah baik dengan intervensi langsung maupun kebijakan lainnya diyakini dapat menjaga volatilitas rupiah. Akan tetapi, upaya tersebut bukan untuk menguatkan rupiah.
Lukman juga memperkirakan, kurs rupiah rentan terperosok hingga level Rp 18.000 per dolar AS pada akhir 2026, terutama jika situasi di Timur Tengah belum membaik.
“Apakah bisa lebih cepat (menuju Rp 18.000)? Tentunya bisa saja, namun BI akan terus berupaya menahan pelemahan yang cepat dan besar,” kata dia.
Di sisi lain, jika perdamaian di Timur Tengah tercapai dan harga minyak menyusut ke kisaran US$ 70 per barel.
Besar kemungkinan rupiah juga akan berangsur-angsur kembali menguat ke kisaran Rp 16.500 per dolar AS.
Di samping itu, Lukman juga menilai sebenarnya upaya BI untuk mengintervensi rupiah sudah cukup efektif.
Namun, untuk ke depannya, BI juga bisa menambah tenaga ke rupiah dengan menaikkan suku bunga acuan di kisaran 15–25 bps dalam jangka pendek.
Lebih lanjut, para investor juga tidak perlu khawatir lantaran tren koreksi rupiah akhir-akhir ini masih dalam rentang yang wajar.
Belakangan ini pun, penguatan dolar AS tidak terlalu signifikan dan berkelanjutan.
“Jadi, dolar AS terlihat justru rentan koreksi besar apabila perdamaian tercapai,”
“Sebaliknya dolar tidak memiliki banyak ruang penguatan walau perang berkelanjutan,” pungkas dia.












