Toikseru.com, Jakarta – Pada awal perdagangan Jumat (29/5/2026). Pukul 09.01 WIB Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghijau di pasar spot.
IHSG menguat 16,14 poin atau 0,27% ke 6.147,17. Sebanyak 208 saham naik, 243 saham turun dan 250 saham stagnan.
Ada enam indeks sektoral menguat, menopang kenaikan IHSG. Sedangkan lima indeks sektoral lainnya masuk zona merah.
Indeks sektoral dengan kenaikan terbesar adalah sektor barang baku yang naik 2,54%, sektor energi naik 1,78% dan sektor infrastruktur yang naik 1,38%.
Sedangkan indeks sektoral dengan pelemahan terdalam adalah sektor barang konsumen siklikal yang turun 1,87%, sektor perindustrian turun 0,64% dan sektor keuangan yang turun 0,37%.
Dengan total volume perdagangan saham di bursa pagi ini mencapai 5,03 miliar saham, dengan total nilai Rp 2,77 triliun.
Top gainers LQ45 pagi ini adalah:
1. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) (24,75%)
2. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) (11,25%)
3. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) (3,64%)
Top losers LQ45 pagi ini adalah:
1. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) (-9,09%)
2. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) (-5,88%)
3. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) (-5,18%)
Analis Pasar: IHSG Cenderung Volatil Cermati Perkembangan Nilai Tukar Rupiah dan Geopolitik Global
Pada perdagangan Selasa (26/5/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah seiring meningkatnya tekanan eksternal dan aksi ambil untung menjelang libur panjang.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG turun 1,23% ke level 6.130,19 setelah sempat menguat pada awal sesi.
Pelemahan ini dipicu oleh aksi profit taking serta rebalancing indeks MSCI. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mengatakan tekanan juga datang dari sentimen global, khususnya meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
“Serangan terbaru Amerika Serikat di Iran selatan menjadi sentimen negatif bagi pasar, meskipun di tengah harapan terhadap proses perdamaian,” ujarnya.
Alrich menambahkan, secara sektoral pelemahan terbesar terjadi pada sektor industri, sementara sektor infrastruktur masih mampu mencatatkan penguatan terbatas.
“Sektor industri mencatatkan pelemahan terbesar, sedangkan sektor infrastruktur membukukan penguatan tipis,” jelasnya.
Secara teknikal, ia menilai IHSG mulai menunjukkan indikasi perbaikan meskipun masih terbatas.
“Stochastic RSI menunjukkan potensi reversal ke arah pivot dan histogram MACD negatif mulai menyempit, sehingga IHSG berpotensi bergerak di kisaran 6.000-6.200,” tambahnya.
Sementara itu, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor utama yang membayangi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
“Depresiasi rupiah berpotensi menekan IHSG, meskipun sifatnya jangka pendek, dengan pergerakan indeks yang cenderung fluktuatif,” ujarnya.
Dia menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik, termasuk penguatan dolar AS, dinamika geopolitik, serta periode repatriasi dividen oleh investor asing.
“Jika pelemahan rupiah berlangsung agresif, biasanya diikuti oleh aksi jual bersih investor asing,” katanya.
Nafan juga menambahkan bahwa saham-saham perbankan berkapitalisasi besar berpotensi menjadi penekan utama IHSG, mengingat bobotnya yang dominan dalam indeks.
“Namun demikian, fundamental perbankan domestik masih solid, dengan margin bunga bersih dan permodalan yang tetap kuat,” imbuhnya.
Dari sisi strategi, ia menyarankan investor untuk lebih selektif dan mengedepankan manajemen risiko.
“Fokus pada emiten berbasis ekspor, energi, serta saham defensif yang tidak bergantung pada bahan baku impor,” jelasnya.
Analis Pasar pasar modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee, memperkirakan pergerakan IHSG pada perdagangan Jumat (29/5/2026) masih berada dalam rentang terbatas.
“IHSG diperkirakan bergerak dengan support di kisaran 5.950-6.000 dan resistance di area 6.200-6.286,” ujarnya.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG pada akhir pekan ini diperkirakan masih akan cenderung volatil.
Seiring pelaku pasar mencermati perkembangan nilai tukar rupiah, arus dana asing, serta dinamika geopolitik global.












