Ekonomi dan Bisnis

Analis Pasar: Tekanan Terhadap Kurs Rupiah Berpotensi Berlanjut di Perdagangan Senin (29/6/2026)

×

Analis Pasar: Tekanan Terhadap Kurs Rupiah Berpotensi Berlanjut di Perdagangan Senin (29/6/2026)

Sebarkan artikel ini

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan akhir pekan Jumat (26/6) kurs rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada awal pekan.

Sentimen eksternal berupa memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat (AS) masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.

Pada perdagangan Jumat (26/6/2026), kurs rupiah ditutup di level Rp 17.922 per dolar Amerika Serikat (AS).

Hal ini membuat kurs rupiah menguat 0,12% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.943 per dolar AS.

Dalam sepekan, rupiah hari ini di pasar spot melemah 0,66% dari Rp 17.906 pada Jumat (19/6/2026) lalu.

Di sisi lain, berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,11% secara harian ke Rp 17.962 per dolar AS dari hari sebelumnya Rp 17.942 per dolar AS.

Dalam sepekan, rupiah Jisdor melemah 0,76% dibanding Rp 17.826 pada pekan lalu.

Menurut Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, mengatakan, sepanjang pekan lalu penguatan dolar AS didorong oleh belum tuntasnya negosiasi perdamaian antara AS dan Iran, serta meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan AS.

Menurutnya, sentimen tersebut mendorong indeks dolar AS (DXY) menembus level 101,74, yang merupakan level tertinggi sejak 13 Mei 2025. Dampaknya, rupiah bersama sejumlah mata uang lainnya berada dalam tekanan.

“USD/IDR juga terlihat dalam tekanan sepanjang pekan kemarin,” ujar Ariston.

Ariston memproyeksi tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut pada perdagangan Senin (29/6).

Pasalnya, pelaku pasar masih mencermati perkembangan terbaru di Timur Tengah, termasuk kabar serangan AS ke Iran dan serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Selain itu, inflasi AS yang masih tinggi dinilai membuka peluang bank sentral AS kembali menaikkan suku bunga guna mengendalikan tekanan harga.

Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump disebut memberikan dukungan terhadap berbagai langkah yang akan ditempuh Kevin Warsh, kandidat Gubernur The Fed pilihannya.

Dari domestik, Ariston melihat sejumlah isu juga masih membebani pergerakan rupiah.

Mulai dari pengendalian anggaran untuk berbagai program pemerintah, implementasi kebijakan ekspor sumber daya alam (SDA) melalui satu pintu, hingga perkembangan terkait MSCI yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Di sisi lain, Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan sentimen pergerakan rupiah datang dari respons positif pasar terhadap pemerintah.

Yang mempertimbangkan efisiensi dan pengurangan anggaran lebih lanjut untuk program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga stabilitas fiskal.

Anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) pada APBN 2026 telah disesuaikan. Pagu anggaran MBG telah dipangkas dari rencana awal sebesar Rp 335 triliun menjadi Rp 268 triliun.

Pemerintah pun mengkaji opsi pemotongan tambahan hingga Rp 50 triliun untuk memperkuat kondisi keuangan negara.

Menurut Ibrahim, pemotongan ini dilakukan untuk merespons risiko ekonomi global, menjaga defisit fiskal, serta memperbaiki tata kelola program.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Ariston memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah pada awal pekan depan, di rentang Rp 17.850 – Rp 18.000 per dolar AS pada Senin (29/6).

Sementara Ibrahim memproyeksi rupiah pada Senin akan bertengger di kisaran Rp 17.920 – Rp 17.960 per dolar AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *