Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Senin (8/6/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok seiring meningkatnya kepanikan investor yang mengikuti sentimen negatif dari pasar global.
Berdasarkan data RTI pada pukul 09.05 WIB, IHSG merosot 3,23% atau 180,95 poin ke level 5.413,82. Sebanyak 542 saham melemah, 55 saham menguat, dan 105 saham bergerak stagnan.
Seluruh indeks sektoral berada di zona merah. Tiga sektor dengan pelemahan terdalam yakni sektor transportasi yang turun 4,72%, sektor infrastruktur melemah 4,67%, dan sektor bahan baku terkoreksi 4,34%.
Di jajaran saham LQ45, beberapa emiten mencatatkan penurunan signifikan. Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 8,32% ke Rp 4.190, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melemah 7,61% ke Rp 1.335, dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) terkoreksi 7,24% ke Rp 1.795.
Sementara itu, hanya segelintir saham yang mampu bertahan di zona hijau. PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) menjadi salah satu top gainers LQ45 setelah naik 0,34% ke level Rp 1.490.
Tekanan di pasar domestik terjadi sejalan dengan koreksi tajam yang melanda bursa saham Asia Pasifik. Investor melakukan aksi jual besar-besaran terhadap saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang sebelumnya menjadi motor penguatan pasar global.
Mengutip Reuters, indeks KOSPI Korea Selatan menjadi salah satu yang mengalami tekanan paling dalam dengan penurunan lebih dari 6,8% pada perdagangan Senin.
Volatilitas yang tinggi bahkan sempat memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 20 menit.
Secara akumulatif, indeks tersebut telah terkoreksi sekitar 14% dari rekor tertinggi yang dicapai pekan lalu. Di Jepang, indeks Nikkei 225 juga turun sekitar 3,4% pada awal perdagangan.
Sementara itu, kontrak berjangka (futures) indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 di Amerika Serikat bergerak terbatas setelah aksi jual besar yang terjadi pada akhir pekan lalu.
Serangan Rudal Iran Sebagai catatan, indeks teknologi Nasdaq jatuh 4,2% pada perdagangan Jumat (5/6/2026).
Koreksi tersebut dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan, sehingga meningkatkan ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini.
Selain sentimen suku bunga, pasar juga dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah serangan udara Israel ke Beirut memicu kenaikan harga minyak dunia dan penguatan dolar AS.
Kombinasi tekanan dari lonjakan harga energi, penguatan dolar, serta kekhawatiran terhadap prospek suku bunga global membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Analis Pasar: IHSG Diproyeksi Masih Rawan Koreksi di Perdagangan Senin (8/6/2026)
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 4,20% ke level 5.594,77 di perdagangan Jumat (5/6/2026).
Di mana IHSG menutup perdagangan pekan lalu dengan pelemahan signifikan. Seluruh sektor tercatat melemah, dengan penurunan terdalam pada sektor transportasi yang terkoreksi hingga 5,97%.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, tekanan jual di pasar masih dipicu oleh ketidakpastian kebijakan dan sentimen negatif domestik.
“Beberapa ketidakjelasan kebijakan pemerintahan dan rumor pasar direspons negatif oleh pelaku pasar, sehingga kembali mendorong tekanan jual pada pasar modal Indonesia,” ujar Alrich.
Ia menambahkan, revisi UU P2SK turut memicu kekhawatiran pasar terkait potensi gangguan terhadap independensi lembaga keuangan.
Dari sisi fiskal, realisasi APBN hingga Mei 2026 mencatat defisit sebesar Rp 180,4 triliun atau 0,7% terhadap PDB, meningkat dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, angka tersebut masih berada di bawah target defisit tahun ini sebesar 2,68% dari PDB.
Sementara itu, Nilai Tukar Rupiah juga tembus rekor terburuk dan bertengger di atas Rp 18.000 per dolar AS. Pada Jumat (5/6/2026), rupiah ditutup di level Rp 18.036 per dolar Amerika Serikat.
Ini membuat rupiah melemah 0,87% dalam sepekan. Pelemahan ini memicu spekulasi pasar terkait kemungkinan Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur darurat di luar jadwal pada 17-18 Juni 2026.
Memasuki pekan depan, Alrich melihat IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan.
“Di tengah minimnya katalis positif dan tekanan sentimen negatif, IHSG diperkirakan berpotensi menguji level 5.500 pada pekan depan,” jelasnya.
Senada, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mencermati bahwa sepanjang pekan lalu IHSG telah terkoreksi cukup dalam.
“IHSG terkoreksi signifikan 8,69% dan masih didominasi oleh tekanan jual yang relatif besar,” ujarnya.
Menurut Herditya, tekanan tersebut tidak lepas dari arus keluar dana asing yang mencapai Rp 57,63 triliun secara year to date, serta pelemahan nilai tukar rupiah sebesar 1,3% dalam sepekan.
Ia menilai, pelemahan pasar juga dipengaruhi oleh menurunnya kepercayaan investor global terhadap kebijakan domestik.
Untuk perdagangan Senin (8/6/2026), Herditya memperkirakan, IHSG masih rawan melanjutkan koreksi dengan level support di 5.517 dan resistance di 5.734.
“Kami perkirakan sentimen negatif yang terjadi pada pekan ini masih akan berlanjut di pekan depan,” tambahnya.
Adapun sejumlah saham yang dapat dicermati oleh investor antara lain ANTM di kisaran Rp 3.020-Rp 3.200, BRMS di Rp 610-Rp 660, serta MBMA di Rp 472-Rp 520.












