Lingkungan

Aktivitas Tambang Emas Martabe Disorot Usai Bencana di Tapanuli Raya, PTAR Bantah Tudingan Banjir Bandang Garoga

×

Aktivitas Tambang Emas Martabe Disorot Usai Bencana di Tapanuli Raya, PTAR Bantah Tudingan Banjir Bandang Garoga

Sebarkan artikel ini
Ekosistem Batang Toru
Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara, menyimpan nilai biodiversitas yang tinggi, rumah bagi flora dan fauna yang kharismatik, termasuk Orangutan Tapanuli yang baru ditemukan pada tahun 2017. Foto: Walhi.or.id

Ringkasan Berita

  • Sejumlah organisasi mahasiswa dan pegiat lingkungan menilai bencana yang menelan puluhan korban jiwa itu tidak semata…
  • Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources (PTAR) kembali mendapat sorotan, bersama sejumlah perusahaa…
  • Ketua Umum HMI-MPO Cabang Medan, Rilla Sitorus, mengungkapkan bahwa laporan resmi PTAR periode Juli – September 2023 …

Topikseru.com – Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda kawasan Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, hingga Kota Sibolga memicu diskusi serius soal penyebab kerusakan ekologis di wilayah tersebut. Sejumlah organisasi mahasiswa dan pegiat lingkungan menilai bencana yang menelan puluhan korban jiwa itu tidak semata-mata dipicu cuaca ekstrem, tetapi juga didorong aktivitas industri ekstraktif di bentang alam Batang Toru.

Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources (PTAR) kembali mendapat sorotan, bersama sejumlah perusahaan lain yang beroperasi dalam lanskap ekosistem itu.

HMI-MPO Medan Soroti Eksplorasi Tambang Martabe

banjir bandang
Banjir bandang akibat meluapnya Sungai Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Selasa (25/11/2025). Foto: Dok.Walhi Sumut.

Himpunan Mahasiswa Islam–Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) Cabang Medan menyoroti aktivitas eksplorasi tambang emas PT Agincourt Resources (PT AR), yang dianggap turut memicu gangguan ekologis di kawasan tersebut.

Ketua Umum HMI-MPO Cabang Medan, Rilla Sitorus, mengungkapkan bahwa laporan resmi PTAR periode Juli – September 2023 menunjukkan kegiatan eksplorasi besar-besaran di wilayah Sibolga yang terhubung langsung dengan bentang alam Batang Toru.

“Laporan itu menunjukkan PTAR menghabiskan lebih dari USD 1,2 juta atau sekitar Rp 18,7 miliar untuk eksplorasi hanya dalam tiga bulan, termasuk pengeboran sepanjang 10.764 meter,” ujar Rilla kepada Topikseru.com, Rabu (26/11/2025).

Rincian kegiatan pengeboran dalam laporan tersebut, antara lain:

  • Juli 2023: 3.425 meter
  • Agustus 2023: 3.411 meter
  • September 2023: 3.928 meter

Menurut Rilla, aktivitas pengeboran dan eksplorasi dalam skala tersebut sangat berpotensi mengganggu sistem hidrologi Batang Toru.

“Eksplorasi sebesar itu bukan hanya berisiko, tetapi sangat mungkin menjadi penyebab langsung terganggunya keseimbangan lingkungan di Batang Toru,” ujar Rilla Sitorus.

Ancaman terhadap Habitat Orangutan Tapanuli dan Orangutan Sumatera

Selain dugaan kerusakan hidrologi, HMI-MPO menyoroti dampak hilangnya tutupan hutan terhadap keberlangsungan dua spesies primata endemik, yaitu Pongo tapanuliensis (Orangutan Tapanuli) dan Pongo abelii (Orangutan Sumatera).

Rilla menegaskan, kawasan Batang Toru merupakan habitat penting bagi kedua spesies langka tersebut. Jika eksplorasi terus berlanjut, ia khawatir ekosistem akan semakin rusak dan populasi satwa kunci itu semakin terancam.

HMI-MPO mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum agar membuka penyelidikan mendalam terhadap dugaan keterkaitan aktivitas tambang dengan bencana ekologis di Tapanuli Raya.

Organisasi itu meminta agar proses investigasi dilakukan secara independen, melibatkan akademisi lingkungan, dan organisasi masyarakat sipil, serta bebas dari potensi intervensi pihak mana pun.

“Kita tidak boleh membiarkan Batang Toru terus rusak. Ada tanggung jawab moral untuk memastikan bencana serupa tidak berulang,” tutur Rilla.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Agincourt Resources belum memberikan keterangan resmi terkait tuduhan tersebut.

WALHI Sumut Sorot 7 Perusahaan Termasuk Tambang Emas Martabe

Ekosistem Batang Toru
Foto citra satelit (2024) bukaan hutan tambang emas PT Agincourt Resourches atau Martabe di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara. Foto: Dok.Walhi Sumut

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Utara menduga tujuh perusahaan yang beroperasi di kawasan Ekosistem Batang Toru menjadi faktor utama yang memperparah bencana banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Tapanuli Raya, Sumatera Utara.

Bencana yang melanda sejak beberapa hari terakhir menyebabkan puluhan ribu warga mengungsi, merusak puluhan ribu rumah, fasilitas kesehatan, sekolah, rumah ibadah, hingga infrastruktur.

Data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut mencatat kerusakan terparah terjadi di wilayah yang berada di dalam lanskap Ekosistem Batang Toru, meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga.

Ekosistem Kunci Bukit Barisan Terdegradasi

Ekosistem Batang Toru selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan paling penting di bentang Bukit Barisan. Kawasan ini menjadi sumber air, penyangga DAS, sekaligus habitat bagi spesies langka seperti orangutan Tapanuli, harimau Sumatera, tapir, serta berbagai satwa dilindungi lainnya.

Namun, WALHI menilai tutupan hutan di kawasan tersebut terus berkurang akibat aktivitas industri ekstraktif. Hilangnya vegetasi hutan dinilai mengurangi daya serap air dan memicu besarnya skala bencana.

“Kerusakan ini bukan sekadar dampak cuaca ekstrem. Citra satelit menunjukkan hutan gundul di sekitar wilayah terdampak. Artinya, ada aktivitas yang mempercepat degradasi ekologis,” ujar Direktur Eksekutif WALHI Sumut, Rianda Purba, kepada topikseru.com, Rabu (27/11/2025).

7 Perusahaan Diduga Berkontribusi pada Kerusakan Lingkungan

Rianda mengungkapkan, terdapat tujuh korporasi yang beroperasi di dalam ataupun di sekitar kawasan Batang Toru dan menduga kuat berperan dalam kerusakan tersebut:

  • PT Agincourt Resources – Tambang Emas Martabe
  • PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) – Proyek PLTA Batang Toru
  • PT Pahae Julu Micro-Hydro Power – PLTMH Pahae Julu
  • PT SOL Geothermal Indonesia – Geothermal Taput
  • PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL) – Unit PKR di Tapanuli Selatan
  • PT Sago Nauli Plantation – Perkebunan sawit di Tapanuli Tengah
  • PTPN III Batang Toru Estate – Perkebunan sawit di Tapanuli Selatan
Baca Juga  646 Warga Sumut Luka-Luka Akibat Bencana Alam, Pusdalops: Terbanyak dari Tapanuli Tengah

“Ketujuh-nya berada di wilayah sensitif ekologi yang merupakan koridor penting bagi keberlangsungan ekosistem Batang Toru,” ujar Rianda.

Rincian Aktivitas Perusahaan yang Disebut Sebabkan Kerusakan

WALHI Sumut memaparkan sejumlah dugaan kerusakan yang terkait dengan operasi perusahaan-perusahaan tersebut:

1. PT Agincourt Resources (Martabe)

  • Kehilangan tutupan hutan sekitar 300 hektar di area DAS Batang Toru sepanjang 2024–2025.
  • Lokasi fasilitas tailing berdekatan dengan Sungai Aek Pahu yang mengaliri permukiman warga.

2. PT NSHE (PLTA Batang Toru)

  • Kehilangan tutupan hutan lebih dari 350 hektar, terutama di sepanjang 13 km aliran sungai.
  • Sedimentasi tinggi dan fluktuasi debit sungai akibat pembuangan limbah galian terowongan dan pembangunan bendungan.

3. PT Toba Pulp Lestari (TPL)

  • Perubahan ribuan hektar hutan menjadi Perkebunan Kayu Rakyat (PKR) berbasis tanaman Ekaliptus di Sipirok.
  • Skema PHAT (Pemanfaatan Kayu Tumbuhan Alami) akan mempercepat pembukaan hutan dan mengganggu koridor satwa.

4. Degradasi Koridor Satwa

WALHI mencatat degradasi 1.500 hektar koridor penghubung Dolok Sibualbuali–Hutan Lindung Batang Toru Blok Barat dalam tiga tahun terakhir.

PTAR Angkat Bicara, Bantah Tudingan Banjir Bandang Garoga

PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, menyampaikan duka cita mendalam atas bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara, terutama di Tapanuli Tengah, Sibolga, Tapanuli Selatan, dan Padangsidimpuan.

Perusahaan menegaskan kesiapan penuh dalam memberikan dukungan kemanusiaan, sekaligus meluruskan kabar yang mengaitkan aktivitas tambang dengan bencana tersebut.

“Fokus kami saat ini adalah keselamatan masyarakat. Kami turut berbelasungkawa kepada keluarga korban serta seluruh penyintas yang terdampak,” ujar manajemen PTAR dalam pernyataan resminya.

Luruskan Informasi: Lokasi Banjir Garoga Bukan di DAS Aek Pahu

Seiring beredarnya spekulasi mengenai penyebab banjir bandang, PTAR menegaskan bahwa lokasi bencana di Desa Garoga berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga/Aek Ngadol, yang tidak terhubung dengan DAS Aek Pahu, tempat operasional Tambang Emas Martabe berada.

Pemantauan lapangan perusahaan juga tidak menemukan adanya material kayu di DAS Aek Pahu yang berkaitan dengan temuan material di lokasi banjir.

PTAR menyatakan siap mendukung kajian komprehensif pemerintah terkait faktor-faktor penyebab bencana tersebut.

“Kami mendukung penuh penyelidikan resmi dan siap bekerja sama secara transparan,” tegas manajemen PTAR dalam keterangan resminya.

PTAR Dirikan Posko, Salurkan Bantuan Logistik, dan Kerahkan Tim SAR

Sejak hari pertama pascabencana, PTAR telah menurunkan tim darurat ke sejumlah wilayah untuk membantu proses evakuasi dan pemenuhan kebutuhan mendesak warga.

Bentuk bantuan yang sudah terlaksana mencakup:

1. Pendirian Posko dan Layanan Dasar

Empat posko penanggulangan bencana telah berdiri dengan total kapasitas lebih dari 700 pengungsi.

Fasilitas posko meliputi layanan kesehatan, dapur umum, serta tenaga juru masak.

Posko menampung penyintas dari Desa Garoga, Hutagodang, dan Batu Horing.

2. Bantuan Logistik

PTAR menyalurkan:

  • makanan siap saji
  • sembako
  • air bersih
  • kompor dan tabung gas

3. Sandang & Sanitasi

  • pakaian layak pakai
  • portable toilet untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan pengungsi

4. Layanan Kesehatan

  • obat-obatan
  • tim medis yang siaga di posko-posko utama

5. Evakuasi dan Penyelamatan

  • Mengerahkan emergency Response Team (ERT) dengan perahu karet untuk membantu warga yang terisolasi.

6. Dukungan Mobilitas dan Transportasi

  • Mengoperasikan satu unit helikopter untuk distribusi logistik ke area sulit terjangkau serta mendukung teknisi PLN mempercepat pemulihan listrik.

7. Pemulihan Akses Jalan

  • Menurunkan alat berat seperti ekskavator/backhoe loader untuk membuka jalur yang tertutup longsor.

PTAR menyatakan siap menambah jumlah posko maupun dapur umum bila situasi memerlukan dan akses memungkinkan.

Perkuat Koordinasi dengan Pemerintah dan Pihak Terkait

PTAR memastikan koordinasi dengan berbagai instansi berjalan intensif, termasuk BPBD, TNI/Polri, Basarnas, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, serta relawan dan pemangku kepentingan lokal.

“Seluruh langkah kami lakukan mengikuti arahan pemerintah agar kegiatan evakuasi, distribusi bantuan, dan layanan kesehatan berlangsung tepat sasaran,” dalam keterangan PTAR.

Fokus pada Keselamatan dan Respons Cepat

Keselamatan masyarakat, karyawan, dan mitra kerja, menurut perusahaan tetap menjadi prioritas. PTAR memastikan tim ERT di lapangan meningkatkan kesiapsiagaan dan respons cepat sesuai standar keselamatan.

“Kami akan terus memberikan dukungan selama proses penanganan bencana berlangsung. Semoga kondisi segera pulih dan masyarakat dapat bangkit kembali,” tutup keterangan resmi PTAR.