Topikseru.com, Brussel – Pekerja seks komersial (PSK) di berbagai negara di dunia biasa menjadi pekerjaan informal. Namun, di Belgia, PSK menjadi pekerjaan formal yang dilindungi undang-undang.
Kebijakan baru di Kerajaan Belgia yang memiliki ibu kota de facto dari Uni Eropa karena banyaknya institusi Eropa yang berkantor pusat di sana ini memberi PSK akses setara dengan pekerja kantoran, mulai dari kontrak kerja, asuransi, cuti sakit dan liburan, tunjangan keluarga, hingga manfaat pensiun, menurut laporan NPR News.
Aturan tersebut juga menegaskan hak-hak dasar PSK selama bekerja. Mereka berhak menolak klien, menetapkan syarat kerja sendiri, dan menghentikan aktivitas kapanpun diperlukan. Regulasi ini sekaligus mempersempit ruang gerak pihak yang mengatasnamakan mucikari dan kerap melakukan kekerasan atau eksploitasi.
“Pada 2022, anggota parlemen Belgia memilih untuk mendeskriminalisasi pekerjaan seks dan mempersempit definisi mucikari agar pekerja seks tidak kesulitan menemukan bankir, perusahaan asuransi, pengemudi, atau akuntan,” ujar Serikat Pekerja Seks Belgia (UTSOPI), dikutip Minggu (7/12/2025).
Di sisi lain, pemerintah juga menetapkan standar ketat bagi pengusaha di sektor ini. Mereka wajib memiliki izin resmi dan lulus pemeriksaan latar belakang, termasuk tidak pernah terlibat kasus kekerasan seksual, perdagangan manusia, atau penipuan.
Selain itu, tempat usaha pun harus memenuhi standar kebersihan, keamanan, menyediakan tombol panik, dan pengusaha dilarang memecat PSK yang menolak klien atau aktivitas tertentu.
Kebijakan ini disambut antusias para pekerja seks yang menilai aturan baru membawa perlindungan nyata.
“Belgia yang sangat bangga saat ini,” ujar Mel Meliciousss dari UTSOPI melalui akun Instagram-nya. “Orang-orang yang sudah bekerja di industri ini akan jauh lebih terlindungi, dan mereka yang baru masuk pun akan tahu hak-haknya.”
Pekerja seks di Belgia Cuti Melahirkan
Dikutip dari BBC pada Senin (8/6/2026), Undang-undang teranyar di Belgia—yang pertama di dunia—akan memberikan hak cuti melahirkan kepada para pekerja seks. Selain itu, pekerja seks juga berhak memperoleh kontrak kerja resmi, asuransi kesehatan, pensiun, dan cuti sakit.
Artinya, pekerja seks akan mendapatkan hak setara dengan profesi lainnya.
Data International Union of Sex Workers (Serikat Pekerja Seks Internasional) menunjukkan ada sekitar 52 juta pekerja seks di seluruh dunia.
Pada 2022, profesi ini tidak lagi digolongkan melanggar hukum di Belgia. Pekerja seks juga legal di banyak negara lainnya seperti Turki dan Peru.
Namun, Belgia menjadi negara pertama di dunia yang memberikan pekerja seks hak-hak pekerja dan kontrak kerja resmi.
“Ini adalah langkah yang radikal sekaligus terbaik di dunia dalam pengamatan kami sejauh ini,” kata Erin Kilbride, peneliti Human Rights Watch.
“Semua negara diharapkan bergerak ke arah yang sama.”
Mereka yang mengkritik profesi ini mengklaim para pekerja seks rentan menjadi korban perdagangan manusia, eksploitasi, dan penyiksaan. Bagi para pengkritik, Undang-Undang Belgia itu tidak akan mencegah mudarat profesi tersebut.
“Ini malah berbahaya karena menormalkan pekerjaan yang pada dasarnya identik dengan kekerasan,” papar Julia Crumière, relawan Isala—sebuah LSM yang membantu pekerja-pekerja seks di jalanan Belgia.
Bagi banyak pekerja seks, prostitusi adalah sumber mata pencaharian sehingga undang-undang yang melindungi mereka menjadi sebuah urgensi.
Mel, misalnya, menjadi trauma karena dia terpaksa melakukan oral seks kepada tamunya tanpa kondom. Padahal, saat itu, rumah bordil tempat Mel bekerja tengah dihantui penyakit menular seksual.
Keputusan Belgia tadi merupakan hasil dari unjuk rasa selama berbulan-bulan pada 2022. Protes itu dipicu minimnya dukungan negara saat ada pandemi Covid-19.
Salah satu pengusungnya adalah Victoria, presiden Serikat Pekerja Seks Belgia (UTSOPI) yang sebelumnya menjalani profesi itu selama 12 tahun.
Bagi Victoria, ini adalah sebuah perjuangan pribadi. Dia memandang prostitusi sebagai layanan sosial dan seks hanyalah 10% dari apa yang dia lakukan.
“Ini adalah tentang memberikan perhatian, mendengarkan cerita mereka, makan bersama, berdansa waltz,” paparnya.
“Pada intinya, kita menemani mereka yang kesepian.”
Sebelum 2022—tahun ketika profesi pekerja seks dilegalkan—Victoria menghadapi tantangan-tantangan yang signifikan.
Kondisi pekerjaannya tidaklah aman karena dia tidak dapat memilih tamunya dan agennya meraup sebagian besar keuntungan.












