NasionalNews

49 Wartawan Ini Tulis Buku Kisah Liputan Presiden Sejak Soeharto hingga Jokowi

×

49 Wartawan Ini Tulis Buku Kisah Liputan Presiden Sejak Soeharto hingga Jokowi

Sebarkan artikel ini
Wartawan Istana
Pusat Kajian Hang Lekir di Jakarta, Kamis (07/03/2024), mengadakan bedah buku "79 Kisah di Balik Liputan Istana", yang ditulis wartawan peliput istana sejak Presiden Soeharto hingga Presiden Jokowi. Foto: Antara/Unggul Tri Ratomo

Ringkasan Berita

  • Buku yang mereka tulis mengulas perjalanan selama melakukan peliputan mulai dari Presiden Soeharto hingga Presiden Jo…
  • Untuk memperkenalkan kepada publik dan mengulas buku berjudul "79 Kisah di Balik Liputan Istana", Pusat Kajian Hang L…
  • "Mengumpulkan 79 cerita dari para wartawan ternyata tidak mudah, sampai menit terakhir masih ada yang baru setor," ka…

TOPIKSERU.COM, JAKARTA – Sebanyak 49 wartawan yang bertugas meliput kegiatan Presiden Republik Indonesia atau kerap disebut “wartawan Istana” menulis sebuah buku yang menceritakan pengalaman dan kisah-kisah selama liputan.

Kisah-kisah yang mereka tuangkan dalam buku ini kebanyakan tidak terpublikasi dalam laporan jurnalistiknya.

Buku yang mereka tulis mengulas perjalanan selama melakukan peliputan mulai dari Presiden Soeharto hingga Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Untuk memperkenalkan kepada publik dan mengulas buku berjudul “79 Kisah di Balik Liputan Istana”, Pusat Kajian Hang Lekir menyelenggarakan acara bedah buku di Jakarta, Kamis.

Baca Juga  Jokowi: Urus Beras untuk 270 Juta Penduduk Indonesia Tak Mudah

Buku tersebut berisi berbagai kisah ringan, tegang, dramatis, dan juga lucu yang memberi perspektif lain tentang “Istana”.

Di era Presiden Soeharto, misalnya, seleksi bagi wartawan untuk mendapat izin meliput kegiatan kepresidenan sangat ketat, mulai menjalani penelitian khusus, latar belakang wartawan, hingga aturan berpakaian yang ketat.

Sementara di era Presiden Abdurrahman Wahid, peliputan di Istana nyaris tanpa aturan protokoler.
Namun, wartawan harus selalu siap siaga agar tidak kehilangan berita karena sering ada agenda dadakan.

Latar belakang wartawan yang berbeda membuat tulisan memiliki gaya bahasa dan bertutur yang juga berbeda.

“Mengumpulkan 79 cerita dari para wartawan ternyata tidak mudah, sampai menit terakhir masih ada yang baru setor,” kata penyusun buku Tingka Adiati.

Penyusun lainnya, Elvi Yusanti mengatakan banyak pula wartawan yang harus mengingat-ingat kembali cerita-cerita mereka karena tidak ada catatannya.

“Ini menjadi tantangan tersendiri,” ujar Elvi Yusanti.(antara/Topikseru)