Topikseru.com – Aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau kembali meningkat pada Jumat (3/7/2026).
Kondisi tersebut membuat masyarakat serta kapal yang beraktivitas di sekitar kawasan Selat Sunda diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak memasuki zona bahaya yang telah ditetapkan oleh otoritas vulkanologi.
Meningkatnya aktivitas gunung api tersebut kembali mengingatkan publik pada sejumlah bencana besar yang pernah dipicu oleh Krakatau, mulai dari letusan dahsyat tahun 1883 hingga tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018.
Berikut sejumlah fakta berdasarkan data dan hasil penelitian.
Aktivitas Anak Gunung Krakatau Masih Terus Dipantau
Anak Gunung Krakatau merupakan gunung api aktif yang muncul dari kaldera bekas letusan Gunung Krakatau tahun 1883.
Hingga kini, aktivitas vulkaniknya terus dipantau karena berpotensi menimbulkan erupsi, lontaran material vulkanik, hujan abu, hingga gangguan di wilayah perairan sekitar Selat Sunda.
Saat aktivitas meningkat, masyarakat dan kapal diimbau tidak mendekati kawasan gunung sesuai radius aman yang ditetapkan pemerintah.
Data Tsunami Selat Sunda 2018
Tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 menjadi salah satu bencana terbesar yang dipicu aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau.
Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), survei pascabencana di sepanjang pesisir Banten dan Lampung mencatat tinggi gelombang maksimum mencapai 13,5 meter dengan panjang genangan sekitar 330 meter.
Bencana tersebut mengakibatkan:
- 437 orang meninggal dunia.
- 31.942 orang mengalami luka-luka.
- 10 orang dinyatakan hilang.
- Puluhan hingga ratusan bangunan mengalami kerusakan berat di wilayah pesisir.
Penelitian juga menunjukkan bahwa kedalaman genangan air di wilayah pesisir Banten lebih tinggi dibandingkan wilayah Lampung.
Hasil Penelitian Mengenai Tsunami 2018
Kajian yang dipublikasikan dalam jurnal Pure and Applied Geophysics menyebut tsunami berlangsung selama sekitar 6,6 hingga 7,4 menit dengan kecepatan arus maksimum mencapai 4,37 meter per detik.
Sementara itu, penelitian yang dilakukan T. Giachetti, R. Paris, K. Kelfoun, dan B. Ontowirjo berjudul Tsunami Hazard Related to a Flank Collapse of Anak Krakatau Volcano, Sunda Strait, Indonesia mengkaji kemungkinan runtuhnya lereng Anak Gunung Krakatau ke laut.
Dalam skenario terburuk (worst-case scenario), longsoran dengan volume sekitar 0,28 kilometer kubik diperkirakan mampu menghasilkan gelombang tsunami yang mencapai wilayah pesisir Selat Sunda dalam waktu kurang dari satu jam.
Hasil penelitian tersebut memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan tsunami yang benar-benar terjadi pada Desember 2018.
Tsunami Vulkanik Sulit Diprediksi
Peneliti Yudhicara dan K. Budiono (2008) menjelaskan bahwa tsunami tidak hanya disebabkan oleh gempa bumi, tetapi juga dapat dipicu oleh aktivitas gunung api, termasuk longsoran lereng gunung maupun runtuhan material ke dasar laut.
Pada tsunami Selat Sunda 2018, mekanisme pasti pembentukan gelombang masih menjadi bahan kajian para ahli.
Dugaan utamanya adalah runtuhnya sebagian tubuh Anak Gunung Krakatau yang kemudian memicu perpindahan massa air secara tiba-tiba.
Peristiwa tersebut juga menjadi evaluasi penting terhadap sistem peringatan dini di Indonesia.
Saat itu, sistem peringatan tsunami lebih banyak dirancang untuk mendeteksi tsunami akibat gempa bumi sehingga belum optimal dalam mengantisipasi tsunami yang dipicu aktivitas vulkanik.
Fakta Letusan Krakatau Tahun 1883
Sejarah mencatat letusan Gunung Krakatau pada 26–27 Agustus 1883 sebagai salah satu letusan gunung api paling dahsyat di dunia.
Beberapa fakta penting dari peristiwa tersebut antara lain:
Letusan menghancurkan sebagian besar tubuh gunung
Sekitar dua pertiga tubuh Gunung Krakatau hancur akibat ledakan besar yang menghasilkan energi luar biasa.
Memicu tsunami hingga puluhan meter
Runtuhnya tubuh gunung memicu tsunami dengan ketinggian diperkirakan mencapai sekitar 40 meter yang menghantam pesisir Banten dan Lampung.
Lebih dari 36 ribu korban jiwa
Data sejarah mencatat lebih dari 36.000 orang meninggal dunia, sebagian besar akibat tsunami yang menyusul letusan.
Ledakan terdengar ribuan kilometer
Dentuman letusan dilaporkan terdengar hingga Australia dan Pulau Rodrigues di Samudra Hindia yang berjarak sekitar 4.800 kilometer dari Krakatau. Gelombang kejutnya bahkan tercatat mengelilingi Bumi beberapa kali.
Memengaruhi iklim dunia
Material vulkanik terlontar hingga sekitar 70 kilometer ke atmosfer. Abu yang menyebar ke berbagai belahan dunia menyebabkan fenomena langit kemerahan saat matahari terbit maupun terbenam serta berdampak terhadap suhu global selama beberapa tahun.
Munculnya Anak Gunung Krakatau
Setelah letusan 1883 membentuk kaldera besar, aktivitas vulkanik kembali muncul pada tahun 1927 dan membentuk gunung baru yang kini dikenal sebagai Anak Gunung Krakatau.
Warga Diminta Tetap Waspada
Meningkatnya aktivitas Anak Gunung Krakatau tidak selalu berujung pada letusan besar maupun tsunami. Namun, pengalaman sejarah menunjukkan kawasan Selat Sunda memiliki potensi bahaya geologi yang harus diwaspadai.
Karena itu, masyarakat di sekitar pesisir maupun kapal yang melintas di sekitar Anak Gunung Krakatau diimbau mematuhi seluruh rekomendasi dari otoritas vulkanologi, termasuk tidak memasuki zona bahaya, serta terus memantau informasi resmi dari pemerintah apabila terjadi perubahan aktivitas gunung api.












