PariwisataRamadan 1446 H

Masjid Al Mashun Konsisten Bagikan 1.000 Porsi Bubur Khas Kesultanan Deli saat Ramadan

×

Masjid Al Mashun Konsisten Bagikan 1.000 Porsi Bubur Khas Kesultanan Deli saat Ramadan

Sebarkan artikel ini
Masjid Al Mashun
Sejumlah warga saat mengambil bubur sup di Masjid Raya Al Mashun Medan, Sumatera Utara, Rabu (13/3/2024). ANTARA/M Sahbainy Nasution.

Ringkasan Berita

  • Biasanya, momen berbagi selalu terlihat dengan berbagi takjil untuk berbuka puasa.
  • Hal tersebut yang konsisten dilakukan di Masjid Al Mashun Medan.
  • Menjelang berbuka puasa, masjid berarsitektur mughal dan moor ini selalu ramai oleh masyarakat yang sengaja datang un…

TOPIKSERU.COM, MEDAN – Bulan suci Ramadan selalu menjadi momentum berbagi kepada sesama. Biasanya, momen berbagi selalu terlihat dengan berbagi takjil untuk berbuka puasa. Hal tersebut yang konsisten dilakukan di Masjid Al Mashun Medan.

Masjid peninggalan Kesultanan Deli yang terletak di Jalan Sisingamangaraja Medan ini konsisten menggelar tradisi berbagi bubur sup setiap hari selama bulan Ramadan.

Menjelang berbuka puasa, masjid berarsitektur mughal dan moor ini selalu ramai oleh masyarakat yang sengaja datang untuk menikmati sajian bubur sup khas Kesultanan Deli sebagai menu berbuka.

Hamdan, kepala petugas masak bubur sup Masjid Al Mashun Medan mengatakan setiap hari pihaknya menyediakan sedikitnya 1.000 porsi bubur sup bagi masyarakat yang datang.

Tradisi berbagi bubur ini telah berlangsung sejak masa kesultanan pada era 1906.

“Bubur ini kami bagi kepada masyarakat yang datang dan membawa pulang dan membagikan kepada masyarat yang berbuka puasa di masjid,” kata Hamdan, Rabu (13/3).

Hamdan mengatakan persiapan pembuatan bubur khas Masjid Raya Medan itu sejak pagi hari.

Dia dan anggota mulai mengumpulkan bahan-bahan seperti daging, kentang, beras, wortel, bumbu khas dan bahan lainnya.

Baca Juga  AKBP Revi Kunjungi Keluarga Bearo Waruwu, Berbagi Kebahagiaan di Bulan Ramadan

Setelah semua bahan telah terkumpul, petugas mulai melakukan proses memasak bubur di dapur umum yang ada di areal masjid.

“Bahan-bahan untuk menyiapkan 1.000 porsi itu, biasanya daging sekitar 10 Kg, beras 30 kilogram, kentang dan wortel 10 kilogram. Kami akan mulai memasak setelah salat zuhur sampai sekitar jam empat sore,” ujar Hamdan.

Bubur Khas Kerajaan

Semula, Masjid Al Mashun membagikan bubur pedas yang merupakan makanan khas Kesultanan Deli era kepemimpinan Tuanku Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah.

Bubur pedas ini menjadi santapan khas di lingkungan istana dan menjadi menu santapan raja saat bulan Ramadan sejak 1909. Namun, belakangan bubur pedas menjadi makanan umum masyarakat.

Bubur ini bernama “bubur pedas” bukan karena rasanya yang pedas, melainkan karena memiliki efek menghangatkan karena bumbu yang terkandung sebagai rempah.

Dalam pembuatannya, bubur pedas juga kerap menggunakan campuran perencah seperti udang dan kepiting kecil.

Namun, untuk membuat bubur pedas membutuhkan rempah khusus dan mencarinya harus ke perkampungan.

Selain itu, proses pembuatan bumbu harus melalui proses selama tiga bulan, sehingga menu berbuka puasa di Masjid Al Mashun pun berganti dengan bubur sup.

“Bahan bubur pedas itu bumbu rempah-rempahnya susah dicari, sehingga mengganti dengan bubur sup sejak 50 tahun lalu,” kata Hamdan.

Dia mengatakan sejak Covid-19 mulai mereda, penyaluran bubur sup telah dua kali berlangsung.(antara/Topikseru)