BursaEkonomi dan Bisnis

Rupiah Spot Dibuka Menguat 0,13% di Level Rp16.581 Per Dolar AS di Perdagangan Rabu (15/10/2025) Pagi Ini

×

Rupiah Spot Dibuka Menguat 0,13% di Level Rp16.581 Per Dolar AS di Perdagangan Rabu (15/10/2025) Pagi Ini

Sebarkan artikel ini
Rupiah Spot
rupiah spot menguat 0,13% dibanding penutupan pada hari sebelumnya ke level Rp 16.603 per dolar AS. Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia.

Ringkasan Berita

  • Ini membuat rupiah spot menguat 0,13% dibanding penutupan pada hari sebelumnya ke level Rp 16.603 per dolar AS.
  • Pada perdagangan Selasa (14/10/2025) rupiah spot melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup di level Rp 16.6…
  • Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia.

Topikseru.com – Pada awal perdagangan Rabu (15/10/2025) rupiah spot dibuka menguat di level Rp 16.581 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.

Ini membuat rupiah spot menguat 0,13% dibanding penutupan pada hari sebelumnya ke level Rp 16.603 per dolar AS. Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia.

Hingga pukul 09.00 WIB, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,44%. Disusul, yen Jepang yang menanjak 0,36%.

Selanjutnya ada peso Filipina dan dolar Taiwan yang terapresiasi, masing-masing 0,3% dan 0,26%. Lalu, ringgit Malaysia terkerek 0,19%.

Berikutnya, dolar Singapura terangkat 0,14% dan yuan China yang naik 0,13%. Diikuti, won Korea Selatan yang menguat 0,1%.

Sementara itu, dolar Hongkong menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang melemah setelah turun tipis 0,009% terhadap the greenback.

Analis Pasar: Rupiah Spot Bakal Bergerak Fluktuatif Tapi Cenderung Melemah di rentang Rp 16.600–Rp 16.650 Per Dolar AS

Rupiah Spot
rupiah spot melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup di level Rp 16.603 per dolar AS, melemah 0,18% dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.573 per dolar AS.

Pada perdagangan Selasa (14/10/2025) rupiah spot melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup di level Rp 16.603 per dolar AS, melemah 0,18% dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.573 per dolar AS.

Menanggapi hal tersebut pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi dari PT Laba Forexindo Berjangka, pelemahan rupiah hari ini utamanya disebabkan oleh sentimen eksternal, khususnya ketegangan baru antara Amerika Serikat dan China.

“Trump kembali mengancam akan memberlakukan tarif hingga 100% terhadap produk China. Beijing menanggapinya dengan menjatuhkan sanksi terhadap beberapa perusahaan AS. Ketegangan ini langsung menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” jelas Ibrahim dalam risetnya.

Baca Juga  Analis Pasar: Rupiah Bakal Melemah Terhadap Dolar AS Namun kembali Dekati Rp16.700 Per Dolar AS

Namun demikian, Ibrahim menilai pasar masih menaruh harapan pada pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan akhir bulan ini.

Jika pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan positif, risiko global bisa mereda dan memberi ruang pemulihan bagi rupiah.

Selain faktor eksternal, pasar juga menunggu pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang akan membahas arah kebijakan moneter dalam forum tahunan Asosiasi Ekonomi Bisnis Nasional di Philadelphia.

Di sisi lain, kondisi ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang baik. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 mencapai 5,12%, didorong konsumsi rumah tangga dan investasi yang solid.

Sementara itu, ekspor Indonesia pun tumbuh 7,8% secara tahunan berkat hilirisasi mineral, terutama nikel dan tembaga.

“Fundamental ekonomi kita masih kuat, inflasi terjaga, dan neraca perdagangan surplus. Namun, pasar keuangan kita masih sangat sensitif terhadap gejolak eksternal,” kata Ibrahim.

Sementara, analis Doo Financial Futures Lukman Leong memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu (15/10/2025).

“Sentimen masih didominasi tensi dagang AS–China. Jika rencana pertemuan Xi–Trump gagal, pasar bisa bereaksi negatif,” ujar Lukman.

Ia memperkirakan kisaran pergerakan rupiah di Rp 16.500–Rp 16.650 per dolar AS.

Senada, David Sumual, Ekonom BCA, menilai tekanan rupiah juga diperparah oleh pelemahan bursa saham domestik dan masih adanya ketidakpastian mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah.

“Untuk perdagangan Rabu, support rupiah berada di level Rp 16.580 dan resistance di Rp 16.700 per dolar AS,” kata David.

Sementara itu, Ibrahim memperkirakan, rupiah bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di rentang Rp 16.600–Rp 16.650 per dolar AS.