Kesehatan

IDAI Ungkap 22 Balita Meninggal Akibat Campak-Rubella di Sumenep, 21 Belum Pernah Imunisasi!

×

IDAI Ungkap 22 Balita Meninggal Akibat Campak-Rubella di Sumenep, 21 Belum Pernah Imunisasi!

Sebarkan artikel ini
Imunisasi Anak
Ilustrasi imunisasi campak di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Ringkasan Berita

  • Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkap bahwa hingga tahun 2025, baru empat provinsi yang cakupan imunisasinya…
  • Akibatnya, kejadian luar biasa (KLB) campak dan rubella merebak di 31 provinsi dan 181 kabupaten/kota, dengan total l…
  • 21 dari 22 Anak yang Meninggal Belum Imunisasi Dan yang paling mengerikan, yakni 22 anak meninggal dunia di Sumenep, …

Topikseru.com – Situasi imunisasi anak di Indonesia makin mengkhawatirkan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkap bahwa hingga tahun 2025, baru empat provinsi yang cakupan imunisasinya lengkap, sementara 13 provinsi gagal mencapai target minimal 90 persen selama tiga tahun berturut-turut.

Akibatnya, kejadian luar biasa (KLB) campak dan rubella merebak di 31 provinsi dan 181 kabupaten/kota, dengan total lebih dari 2.000 kasus di seluruh Indonesia tahun ini.

21 dari 22 Anak yang Meninggal Belum Imunisasi

Dan yang paling mengerikan, yakni 22 anak meninggal dunia di Sumenep, Madura, sebagian besar balita yang belum pernah imunisasi campak-rubella (MR).

“Waktu bulan Agustus masih 17 anak meninggal, sekarang sudah mencapai 22, mungkin lebih. Dari 22 anak yang meninggal, 18 di antaranya balita. Dan dari 22 itu, 21 belum imunisasi MR atau campak-rubella,” kata dr. Soedjatmiko, Anggota Satgas Imunisasi IDAI, dalam webinar di Jakarta, Kamis (23/10/2025).

Dia menegaskan, imunisasi adalah cara paling efektif melindungi anak dari penyakit berbahaya, seperti TB, hepatitis B, polio, difteri, pertusis, tetanus, campak, rubella, hingga kanker serviks.

“Setiap tahunnya, 20–30 persen bayi dan balita Indonesia berisiko sakit berat, cacat, bahkan meninggal karena imunisasinya belum lengkap,” ujarnya.

Lebih parah lagi, hampir satu juta bayi di Indonesia belum pernah imunisasi sama sekali.

Cakupan Imunisasi Turun, Risiko KLB Naik

Saat ini, hanya 84 kabupaten/kota yang berhasil mencapai target imunisasi bayi lengkap.
Menurut IDAI, untuk melindungi seluruh anak, cakupan minimal harus 90 persen—idealnya 95 persen.

“Artinya, kalau ada 10 anak, sembilan harus lengkap imunisasinya,” kata Soedjatmiko.

HPV Bisa Menular dari Toilet, Bukan Hanya Seksual

dr. Miko juga mengingatkan tentang pentingnya imunisasi HPV untuk mencegah kanker serviks, salah satu penyebab kematian tertinggi perempuan di Indonesia.

“Penelitian tahun 2025 di China menemukan virus HPV di toilet jongkok, wastafel, pegangan pintu, bahkan di rumah sakit. Virus itu bisa bertahan sampai tujuh jam. Jadi bukan cuma lewat hubungan seksual,” jelasnya.

Imunisasi Sudah Dipastikan Halal oleh MUI

Soedjatmiko juga menegaskan bahwa imunisasi bersifat halal sesuai fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Memberikan imunisasi adalah ikhtiar menjaga kesehatan anak. Ini bukan soal pilihan, tapi tanggung jawab,” ujarnya.

Kemenkes Gerakkan “Sepekan Mengejar Imunisasi”

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan, dr. Prima Yosephine, mengatakan pemerintah tengah menggelar program “Sepekan Mengejar Imunisasi” bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Kesehatan Nasional 2025.

“Kami mengajak semua masyarakat memeriksa kembali status imunisasi anak. Lengkapi yang tertunda atau terlewat,” katanya.

Menurutnya, anak-anak adalah harapan bangsa. “Dengan tubuh sehat, mereka bisa belajar, berkreasi, dan meraih cita-cita setinggi langit,” pungkasnya.