Rupiah Spot Melemah 0,26% Berada di Level Rp16.698 Per Dolar AS
Topikseru.com – Pada perdagangan Selasa (11/11/2025) rupiah spot masih melemah berada di level Rp 16.698 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,26% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.654 per dolar AS.
Di Asia, mayoritas mata uang melemah terhadap dolar AS siang ini. Won Korea mencatat pelemahan terdalam yakni 0,69%, disusul baht Thailand yang melemah 0,28%.
Rupiah melemah 0,26%, yen Jepang melemah 0,11%, dolar Taiwan melemah 0,07%, yuan China melemah 0,05%, dolar Singapura melemah 0,04%.
Pesso Filipina melemah 0,01%, rupee India melemah 0,001% dan dolar Hong Kong melemah 0,001% terhadap dolar AS.
Sedangkan ringgit Malaysia menjadi satu-satunya mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS siang ini dengan kenaikan 0,21%.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 99,65, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 99,58.
Rupiah pun diproyeksi masih akan melanjutkan tren penguatan
rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali ditutup menguat hari ini, Senin (10/11/2025). Rupiah pun diproyeksi masih akan melanjutkan tren penguatan.
Rupiah spot ditutup pada level Rp 16.654 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (10/11/2025) atau menguat 0,22% dari perdagangan pekan lalu. Sebelumnya, pada Jumat (7/11/2025) ditutup di level Rp 16.690 per dolar AS.
Sementara itu, pergerakan rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) juga menguat sejalan dengan rupiah spot. Hari ini, rupiah ditutup di level Rp 16.666 per dolar AS, menguat 0,23% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.704 per dolar AS.
Baca Juga: Kinerja Sejahteraraya (SRAJ) Tertekan pada Kuartal III-2025, Cek Rekomendasi Sahamnya
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyampaikan bahwa sentimen penyebab penguatan rupiah terhadap dolar AS hari ini ditengarai sentiment risk on regional. Selain itu, kepercayaan konsumen Indonesia yang ditunjukkan peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).
Dicatat IKK mengalami peningkatan pada Oktober 2025 ke level 121,2 dibanding catatan per September 2025 sebesar 115. Angka IKK itu berdasarkan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia terbaru yang mencakup seluruh responden dengan pengeluaran bulanan Rp 1 juta sampai dengan di atas Rp 5 juta.
“Data yang menunjukkan kenaikan besar pada Indeks Kepercayaan Konsumen indonesia juga ikut mendukung rupiah,” terang Lukman.
Sementara itu, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, juga menyampaikan bahwa Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang menunjukkan peningkatan kuat juga turut jadi sentiment pergerakan rupiah hari ini. Dicatat IEK melompat dari 127,2 menjadi 133,4.
“Kenaikan pada IEK menandakan bahwa harapan dan optimisme masyarakat terhadap prospek kondisi ekonomi untuk enam bulan ke depan meningkat drastis,” terang Ibrahim.
Mengenai proyeksi pergerakan besok, Lukman memperkirakan rupiah akan berkonsolidasi. Hal ini sebab investor cenderung melakukan pendekatan wait and see dalam menantikan perkembangan seputar shutdown Pemerintah AS yang dikabarkan akan berpotensi untuk dibuka kembali.
Selain itu, data laporan penjualan eceran AS untuk bulan September 2025 yang akan dirilis pada 14 November 2025 nanti, dinilai bakal jadi salah satu sentimen pergerakan rupiah esok hari.
“Investor cenderung akan wait and see menantikan perkembangan seputar shutdown pemerintah AS yg dikabarkan akan terjadi kesepakatan untuk dibuka kembali,” lanjut Lukman.
Lukman memproyeksikan rupiah pada Selasa (11/11) bergerak pada rentang Rp 16.600 – Rp 16.700 per dolar AS.
Sedangkan Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat pada rentang Rp 16.600 – Rp 16.660 per dolar AS.






