International

Dampak Selat Hormuz Ditutup Iran: BBM Indonesia Terancam Naik, Harga Minyak Dunia Bisa Meledak

×

Dampak Selat Hormuz Ditutup Iran: BBM Indonesia Terancam Naik, Harga Minyak Dunia Bisa Meledak

Sebarkan artikel ini
Peta Selat Hormuz antara Iran dan Oman yang menjadi jalur utama pengiriman 20 juta barel minyak dunia per hari
Peta Selat Hormuz yang menunjukkan posisi strategis antara Iran dan Oman serta jalur pengiriman minyak dunia dari Teluk Persia menuju Laut Arab.

Ringkasan Berita
  • Selat Hormuz adalah jalur sempit yang dilalui hingga 20 juta barel minyak dunia setiap hari menurut data EIA.
  • Penutupan jalur ini berpotensi mendorong harga minyak hingga USD 150 per barel.
  • Konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat membuat perairan ini kembali jadi pusat perhatian global.

Topikseru.com – Ketegangan militer di Timur Tengah kini mencapai titik yang bisa mengguncang pasar energi dunia.

Pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dilaporkan telah memperingatkan bahwa Selat Hormuz saat ini tidak aman dilintasi kapal setelah serangkaian serangan militer yang dilancarkan oleh Israel bersama Amerika Serikat ke berbagai target di wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026).

Situasi ini memicu kekhawatiran global karena jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, harga minyak dunia dan harga BBM di Indonesia bisa ikut terkerek tajam.

Eskalasi Konflik Israel-Iran dan AS

Konflik terbaru ini dipicu oleh gelombang serangan militer yang dilakukan Israel dan AS terhadap fasilitas dan wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran.

Serangan ini diklaim sebagai upaya menahan ambisi militer Iran, terutama yang terkait program nuklir dan misilnya.

Sejumlah laporan menyebut serangan tersebut menargetkan infrastruktur militer, fasilitas nuklir, dan bahkan sejumlah target sipil, termasuk sekolah di Iran, yang menyebabkan korban.

Iran kemudian membalas dengan peluncuran rudal ke wilayah Israel dan menargetkan fasilitas militer AS serta sekutunya di kawasan.

Ketegangan terus meningkat sampai PBB menggelar rapat darurat untuk meredakan konflik yang bisa meluas lebih jauh.

Ketegangan ini bukan sekali terjadi. Iran dan Israel sudah bertahun-tahun memiliki perseteruan yang terkait dukungan militer Iran terhadap kelompok militan di kawasan, serta kekhawatiran Israel terhadap program nuklir Teheran.

Namun eskalasi terbaru membawa konflik ke level konfrontasi langsung dengan serangan udara dan rudal yang serius.

Apa Itu Selat Hormuz?

Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Posisi geografis ini membuatnya menjadi jalan vital bagi pengiriman energi global karena tidak ada jalur alternatif yang setara.

Menurut Encyclopaedia Britannica, selat ini adalah satu-satunya jalur laut dari Teluk Persia menuju lautan terbuka. Meski lebarnya mencapai 50–95 km, jalur pelayaran efektif untuk kapal tanker hanya sekitar 3 km per arah, sehingga sangat rentan terhadap gangguan.

17–20 Juta Barel Minyak Lewat Setiap Hari

Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa sekitar 17–20 juta barel minyak mentah dan kondensat melewati Selat Hormuz setiap harinya. Ini setara sekitar 20 persen dari konsumsi minyak dunia.

Selain minyak mentah, jalur ini juga menjadi rute utama ekspor gas alam cair (LNG) dari Qatar dan negara Teluk lainnya, yang sebagian besar ditujukan ke pasar Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Baca Juga  Bursa Saham Amerika Serikat Menghijau: Indeks Dow Jones Cetak Rekor Tertinggi Baru

Prediksi Harga Minyak Jika Selat Hormuz Terganggu

Para analis pasar energi memperkirakan bahwa:

  • Gangguan parsial bisa mendorong harga minyak Brent di atas USD 100 per barel

  • Penutupan total dalam waktu lama dapat mengerek harga ke kisaran USD 120–150 per barel

  • Biaya pengiriman dan premi asuransi kapal tanker juga berpotensi melonjak drastis

Ancaman terhadap rute ini saja sering memicu lonjakan harga minyak dalam hitungan hari, bahkan sebelum terjadi gangguan nyata.

Dampaknya ke Indonesia: BBM Bisa Ikut Naik

Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah dan BBM. Ketika harga minyak dunia naik tajam, ada dua kemungkinan dampak langsung ke dalam negeri:

  1. Beban subsidi energi dalam APBN meningkat

  2. Harga BBM non-subsidi berpotensi dinaikkan

Jika harga minyak dunia terus tinggi dalam beberapa minggu atau bulan, tekanan anggaran pemerintah diperburuk. Akibatnya, pemerintah mungkin harus menyesuaikan harga BBM di dalam negeri, yang akan dirasakan oleh konsumen secara luas.

Inflasi juga berpotensi meningkat, terutama di sektor logistik dan transportasi, yang efeknya bisa dirasakan oleh masyarakat luas.

Siapa yang Mengendalikan Selat Hormuz?

Secara geografis, Iran menguasai sisi utara jalur pelayaran, sementara Oman mengendalikan sisi selatan. Jalur ini diatur oleh hukum laut internasional termasuk Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS).

Di kawasan ini juga terdapat kehadiran militer internasional, termasuk U.S. Navy Fifth Fleet yang berbasis di Bahrain untuk menjaga keamanan navigasi. Namun karena strategisnya lokasi ini, Iran memiliki pengaruh signifikan terhadap akses melalui selat tersebut.

Mengapa Selat Hormuz Disebut “Choke Point” Dunia?

Selat Hormuz disebut salah satu choke point paling penting di dunia karena jika jalur ini tersumbat, distribusi energi global ikut terganggu. Tidak ada jalur laut alternatif yang memiliki kapasitas serupa dalam waktu singkat.

Saat ini, kondisi keamanan sudah memicu sejumlah armada kapal besar menunda transit dan memutar rute untuk menghindari risiko militer. Ini juga berdampak pada naiknya biaya asuransi dan biaya pengiriman.

Risiko Lebih Luas dari Konflik

Karena eskalasi konflik ini, pasar komoditas dan saham global menjadi rentan terhadap volatilitas. Kekhawatiran meluas di seluruh industri energi dan perdagangan maritim. Kenaikan harga minyak akibat ‘risk premium’ (biaya risiko geopolitik) telah memicu perhatian para pelaku pasar.

Konflik yang sudah memicu rapat darurat PBB dan kecaman internasional ini memperingatkan bahwa ketegangan yang tidak terkendali bisa memicu konflik regional yang lebih besar, dengan konsekuensi ekonomi yang sulit diprediks