Topikseru.com, Dubai – Kabar terbaru pihak Amerika Serikat (AS) memperkirakan operasi militernya terhadap Iran hanya akan berlangsung dalam hitungan pekan, bukan berbulan-bulan.
Washington juga menilai seluruh target bisa dicapai tanpa perlu mengerahkan pasukan darat.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, operasi militer saat ini berjalan sesuai rencana, bahkan cenderung lebih cepat dari jadwal. Ia menegaskan, penyelesaian konflik diproyeksikan dalam waktu relatif singkat.
Meski begitu, AS tetap mengirim sejumlah pasukan ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini disebut sebagai upaya memberi fleksibilitas bagi Presiden Donald Trump dalam merespons berbagai kemungkinan di lapangan.
Di sisi lain, Washington juga membahas risiko pascakonflik bersama negara-negara G7, termasuk potensi Iran memberlakukan tarif pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global.
AS mendorong negara-negara Eropa dan Asia yang bergantung pada jalur tersebut untuk ikut menjaga keamanan pelayaran.
Pasukan Dikirim, Kekhawatiran Perang Meluas
AS telah mengirim dua gelombang pasukan Marinir dalam jumlah besar ke kawasan tersebut, dengan gelombang pertama dijadwalkan tiba akhir Maret menggunakan kapal amfibi.
Pentagon juga bersiap mengerahkan ribuan pasukan elit lintas udara.
Langkah ini memicu kekhawatiran konflik bisa berkembang menjadi perang darat berkepanjangan.
Apalagi, Iran telah membalas serangan dengan menargetkan aset AS dan Israel, termasuk sasaran sipil di negara-negara Teluk dan jalur pelayaran internasional.
Konflik yang dimulai pada 28 Februari lewat serangan udara AS dan Israel, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran dan sejumlah pejabat penting, telah mengguncang perdagangan global, khususnya energi, serta memicu kekhawatiran resesi akibat lonjakan harga komoditas.
Presiden Trump sendiri disebut ingin segera mengakhiri perang yang tidak populer ini. Ia mengklaim sedang mendorong solusi diplomatik, meski Iran menyatakan belum ada pembicaraan resmi.
Utusan khusus AS Steve Witkoff menyebut Washington berharap bisa segera menggelar pertemuan dengan Iran dalam waktu dekat. Ia juga menunggu respons Teheran atas proposal damai 15 poin yang diajukan AS.
Proposal tersebut mencakup tuntutan utama, seperti penghentian pengayaan uranium dan penyerahan sekitar 10.000 kilogram stok uranium yang telah diperkaya.
Serangan Baru dan Respons Iran
Di tengah dorongan diplomasi, serangan militer terus berlanjut. Media Iran melaporkan serangan terhadap fasilitas nuklir dan industri, termasuk reaktor riset air berat yang sudah tidak aktif dan pabrik pengolahan uranium. Otoritas Iran menyatakan tidak ada kebocoran radiasi.
Serangan juga dilaporkan menyasar pembangkit listrik dan pabrik baja. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menilai serangan tersebut bertentangan dengan tenggat diplomasi yang sebelumnya diperpanjang oleh AS, dan memperingatkan akan ada “harga mahal” yang harus dibayar.
Seorang pejabat senior Iran menyebut Teheran belum memutuskan apakah akan merespons proposal AS, terutama karena serangan masih berlangsung saat pembicaraan diupayakan.
Konflik ini telah meluas ke berbagai wilayah di Timur Tengah dan menimbulkan korban besar. Lebih dari 1.900 orang tewas dan sedikitnya 20.000 lainnya luka-luka di Iran.
Serangan balasan Iran ke Israel juga terus terjadi. Militer Israel melaporkan peluncuran rudal terbaru, yang menewaskan seorang warga di Tel Aviv.
Di Arab Saudi, serangan rudal dan drone Iran dilaporkan melukai sejumlah personel militer AS dan merusak pesawat pengisian bahan bakar di pangkalan udara.
Kelompok Houthi di Yaman, yang bersekutu dengan Iran, menyatakan siap ikut terlibat secara militer dalam kondisi tertentu, termasuk jika sekutu baru bergabung mendukung AS dan Israel atau jika Laut Merah digunakan untuk menyerang Iran.
Ancaman Ekonomi Global
Meski mengalami kerusakan, Iran disebut masih memiliki sebagian besar kekuatan militernya. Sumber intelijen AS menyebut baru sekitar sepertiga arsenal rudal dan drone Iran yang berhasil dihancurkan.
Negara-negara Teluk pun mendesak agar setiap kesepakatan damai tidak hanya menghentikan perang, tetapi juga membatasi kemampuan rudal dan drone Iran secara permanen serta menjamin pasokan energi global tidak lagi dijadikan alat tekanan politik.
Dampak konflik langsung terasa di pasar global. Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 50% sejak perang dimulai dan kini menembus US$112 per barel.
Pasar saham melemah, sementara harga energi dan pupuk melonjak, memicu kekhawatiran inflasi global.
Di AS, lonjakan harga bahan bakar juga menekan posisi politik Trump. Harga solar di California bahkan mencetak rekor tertinggi, mencapai rata-rata US$7,17 per galon.













