Topikseru.com, Tangerang – Aksi pencurian tas merek Lululemon di kawasan kargo Bandara Internasional Soekarno-Hatta diduga telah berlangsung sejak 2024. Kasatreskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta Kompol Yandri Mono menyebut aksi itu menyebabkan perusahaan ekspor PT Pungkook Indonesia One mengalami kerugian lebih dari Rp1 miliar.
“Kasus pencuriannya terjadi berulang sehingga perusahaan ekspor mengalami kerugian hingga lebih dari Rp 1 miliar,” ujar dalam keterangan tertulis, Kamis (14/5/2026).
Adapun tersangka yang terlibat dalam sindikat tersebut sebanyak tiga orang, yakni berinisial R alias K, A, dan F.
Kepada polisi, mereka mengatakan sudah lebih dari satu kali menjalankan aksi tersebut sejak tahun 2024.
Salah satu aksinya terjadi pada April 2026. Saat itu, perusahaan PT Pungkook Indonesia One mengirimkan tas Lululemon sebanyak 4.749 tas dari Grobogan, Jawa Tengah, melalui kargo Garuda Indonesia. Barang dikirim pada 10 April 2026 dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada 13 April 2026.
Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, barang dijadwalkan terbang ke Shanghai menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA 0894 rute Jakarta-Shanghai pada 14 April 2026. Namun, pada 20 April 2026 pihak perusahaan menerima laporan dari pelanggan di Shanghai bahwa terdapat 108 tas yang hilang. “Akibat kejadian tersebut, korban mengalami kerugian mencapai Rp 213 juta,” kata Yandri.
Polisi kemudian melakukan penyelidikan dengan memeriksa rekaman CCTV di area RA BST dan Pergudangan Soewarna. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan adanya 40 karton dari total 512 karton yang sengaja dipisahkan saat proses pemeriksaan X-Ray.
Polisi membongkar sindikat pencurian 108 tas merek Lululemon di Bandara Internasional Soekarno–Hatta, Tangerang. Tiga pelaku pencurian berinisial berinisial R alias K, A, dan F ditangkap polisi. “Mereka ditangkap di wilayah Karawaci, Kota Tangerang, pada 29 April 2026 sekitar pukul 00.30 WIB,” kata Kapolres Bandara Soekarno-Hatta Kombes Wisnu Wardana dalam keterangan tertulis, Kamis (14/5/2026).
Ratusan tas Lululemon tersebut hilang dari kargo Bandara Internasional Soekarno–Hatta saat hendak dikirim ke Shanghai, China. Akibatnya pihak perusahaan ekspor tas Lululemon mengalami kerugian lebih dari Rp 1 miliar.
Lululemon, Produk Mahal yang Tetap Laris Manis
Sports bra Lululemon disukai pecinta kebugaran yang menggemari merek asal Kanada ini.
Meski tak masuk ke Indonesia melalui retailer resmi, banyak orang berburu Lululemon ke luar negeri. Barang ini tetap laris manis, meskipun dikenal mahal. Ya, merek ini memang terkenal karena kualitasnya untuk gerakan atletik -khususnya yoga. Berbeda dengan merek mahal lainnya, pembeli produk Lululemon juga sekaligus bisa mendapatkan “pride” yang berbeda kala mengenakannya.
Lantas, kenapa ya Lululemon bisa begitu populer, meski dibanderol mahal? Oh iya, sebagai gambaran singkat. Untuk selembar legging Lululemon, dijual seharga Rp 1,6-2,1 juta. Atau, sports bra dihargai mulai dari Rp 890 ribu hingga Rp 1,6 juta. Apalagi di Indonesia, harga-harga tersebut belum termasuk ongkos kirim, atau pun biaya “jastip” untuk penjualnya.
Tenyata, -setidaknya, ada tiga resep mujarab yang dilakukan Lululemon untuk menciptakan kesuksesan ini:
1. “Skandal media” Lululemon
Ada pepatah yang mengatakan, “skandal apa pun baik, selama itu menciptakan publikasi.” Pepatah tersebut nampaknya bekerja dengan sangat baik untuk mendongkrak citra merek Lululemon.
Semuanya dimulai dengan komentar “tongue-in-cheek” yang dilontarkan pendiri Lululemon, Chip Wilson, tentang tubuh wanita. Meski kontroversial, komentarnya selalu dibuat dengan hati-hati dan ditempatkan di media untuk menciptakan citra dan pengakuan terhadap merek Lululemon.
“Skandal media” yang disengaja membantu Lululemon mendapatkan perhatian dengan sangat cepat sejak awal, ketika perusahaan itu tidak memiliki uang untuk pemasaran dan periklanan. Seperti yang diharapkan, skandal media yang dilakukan Lululemon dibicarakan banyak orang, mulai dari saluran televisi global, forum, Reddit, dan Quora.
Strategi cerdik ini membuat nama Lululemon sering dibicarakan dan merek ini seperti mendapatkan media periklanan gratis. Hasil akhirnya, meski berlawanan dengan intuisi dan mendapat banyak kritik, Lululemon mampu merangkul banyak penggemar, permintaan menjadi tinggi, dan penjualannya laris.
2. Kolaborasi Lululemon dengan Selebritas
Strategi “cerdik” lain yang membuat Lululemon begitu mahal adalah status aspirasinya. Terlepas dari harganya yang tinggi, Lululemon adalah salah satu merek olahraga yang paling dicari seperti “kultus”. Alih-alih menghabiskan dana untuk iklan dan publikasi, Lululemon menggunakan keuntungan awal untuk berkolaborasi dengan influencer global dan selebritas. Dengan meluncurkan koleksi kolaboratif bersama bintang terkenal di dunia, Lululemon berhasil memperkuat namanya.
Semakin banyak selebritas yang mengenakan legging, jaket, dan matras yoga Lululemon membuat masyarakat mengikuti dan membeli produk-produknya. Lululemon seolah menjadi “jawaban” bagi pakar meditasi yang tertarik dengan atasan yoga yang nyaman hingga remaja yang mencari squat-proof leggings.
Karena Lululemon membuat produk yang menggaet selebritas dalam jumlah terbatas membuat para pembelinya diakui secara status sosial. Strategi yang dilakukan Lululemon jelas membuahkan hasil hingga membuat produk-produknya paling dicari dan mahal di dunia.
3. Inovasi Bahan
Selain dua strategi “cerdik” dibatas, Lululemon juga menaruh perhatian yang obsesif terhadap apa yang diinginkan pembeli.
Merek ini melihat data penelitian dalam pakaian kebugaran dan menemukan bahwa pembeli mengharapkan dua hal dari perlengkapan dan pakaian olahraga. Yaitu, performa alias pakaian yang tahan selama latihan berat dan kenyamanan serta gaya yang membuat pakaian tampak hebat. Untuk memenuhi dua keinginan pembeli itu, Lululemon membentuk tim ahli.
Tim ini mempelopori penelitian dan pengembangan merek untuk bahan yang berkelanjutan dan inovatif, dari kantor pusat mereka di Vancouver, Kanada. Dinamakan “Whitespace Lab”, para ahli tekstil, material, dan desain bereksperimen dengan nilon, lycra, spandex, elastane, potongan, warna, untuk menciptakan gaya estetika untuk pakaian Lululemon. Selain itu, laboratorium Lululemon dilengkapi dengan mesin latihan, ruang yang dikontrol kelembapannya, dan kolam renang, dan semua fasilitas untuk menguji produk.












