Topikseru.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026), seiring dominasi sentimen global dan penguatan dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan data pasar, rupiah melemah 14 poin atau 0,08 persen ke level Rp 17.104 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.090 per dolar AS.
Tekanan dari Data Inflasi AS
Analis dari Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menyebut pelemahan rupiah dipicu sikap wait and see pelaku pasar menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat atau Consumer Price Index (CPI).
Menurutnya, ekspektasi kenaikan inflasi di Amerika Serikat berpotensi mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat, sehingga memperkuat posisi dolar AS.
“Tekanan eksternal masih dominan, terutama karena penguatan dolar menjelang rilis data CPI,” ujar Amru.
Geopolitik dan Safe Haven
Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memperburuk tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Kondisi ini meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS, yang secara langsung menekan nilai tukar rupiah.
Intervensi BI Jadi Penopang
Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) disebut terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar menjadi prioritas utama.
BI melakukan intervensi di pasar spot, non-deliverable forward (NDF), serta menyiapkan pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa bank sentral secara konsisten menjaga stabilitas rupiah, termasuk melalui intervensi di pasar domestik maupun offshore.
JISDOR Ikut Melemah
Sejalan dengan pergerakan di pasar spot, kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga mencatat pelemahan ke level Rp 17.112 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 17.082.
Pelaku pasar menilai pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi oleh dinamika global, khususnya kebijakan moneter AS dan perkembangan geopolitik.
Di sisi lain, langkah agresif BI diharapkan mampu meredam volatilitas dan menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik.












