Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Kamis (30/4/2026) Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dalam lebih dari dua pekan.
Setelah sikap lebih hawkish dari The Fed mendorong lonjakan imbal hasil obligasi.
Sementara yen Jepang melemah hingga menembus level psikologis 160 per dolar.
Ketua The Fed Jerome Powell menutup masa jabatannya dengan keputusan menahan suku bunga di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi.
Keputusan tersebut diambil melalui voting 8-4—yang menjadi perpecahan terbesar sejak 1992.
Imbal Hasil Obligasi Melonjak
Nada hawkish dari The Fed memicu kenaikan tajam imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Yield obligasi tenor 2 tahun naik ke 3,928%. Sementara yield 10 tahun mencapai 4,421%, keduanya merupakan level tertinggi sejak akhir Maret.
Pasar kini menghapus ekspektasi penurunan suku bunga tahun ini, bahkan mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga ke depan.
Menurut Rodrigo Catril, analis mata uang dari National Australia Bank, perubahan nada kebijakan
Serta perpecahan internal di The Fed mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak inflasi dari konflik Iran.
Dolar Didukung Sentimen Risiko dan Harga Energi
Lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah turut menopang penguatan dolar.
Seiring meningkatnya permintaan aset safe haven dan kenaikan yield obligasi AS.
Indeks dolar tercatat stabil di level 98,852, mendekati posisi tertinggi sejak pertengahan April.
Sementara itu, Euro berada di US$1,1689, Poundsterling di US$1,34877.
Dolar Australia di US$0,71285, dan Dolar Selandia Baru di US$0,58394.
Pelaku pasar juga mencermati keputusan kebijakan moneter dari Bank of England
Dan European Central Bank yang dijadwalkan rilis dalam waktu dekat.
Yen Melemah, Risiko Intervensi Meningkat
Yen Jepang melemah 0,1% ke level 160,16 per dolar, mendekati ambang yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah Jepang.
Meski Bank of Japan telah memberi sinyal potensi kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan, mata uang yen tetap tertekan.
Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, yen telah melemah lebih dari 2%.
Investor juga meningkatkan posisi short yen ke level tertinggi dalam hampir dua tahun.
Mencerminkan keyakinan bahwa kebijakan moneter maupun intervensi belum cukup kuat untuk menopang mata uang tersebut.
Analis mencatat pemerintah Jepang kemungkinan akan berhati-hati dalam melakukan intervensi terlalu dini.
Mengingat ketergantungan tinggi negara tersebut terhadap impor energi di tengah lonjakan harga minyak global.
Dengan kombinasi faktor inflasi, geopolitik, dan kebijakan moneter global.
Pasar valuta asing diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam waktu dekat.












