Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Kamis (30/4/2026) pagi. Pukul 09.10 WIB nilai tukar rupiah terus melemah berada di level Rp 17.366 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah melemah 0,23% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.326 per dolar AS.
Di perdagangan Asia, nilai tukar rupiah melemah bersama beberapa mata uang lainnya.
Di mana Ringgit Malaysia melemah 0,31%, rupiah melemah 0,23% dan dolar Taiwan yang melemah 0,22%.
Sedangkan mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar AS pagi ini.
Peso Filipina menguat 0,19%, baht Thailand menguat 0,17%, won Korea menguat 0,12%.
Yen Jepang menguat 0,09%, dolar Singapura menguat 0,07%.
Dolar Hong Kong menguat 0,03% dan yuan China menguat 0,01%.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 98,92.
Turun dari sehari sebelumnya yang ada di 98,96.
Analis Pasar: Rupiah Kembali Sentuh Rekor Terlemah
Nilai tukar rupiah makin jeblok menjelang akhir April 2026. Rabu (29/4), kurs rupiah di pasar spot melemah 0,48%
Menjadi Rp 17.326 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini adalah level penutupan terlemah rupiah sepanjang masa.
Sejalan, kurs rupiah Jisdor melemah Rp 79 atau 0,46% menjadi Rp 17.324 per dolar AS.
Ini juga merupakan posisi Jisdor paling lemah sepanjang masa.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, pelemahan rupiah kali ini lebih dipengaruhi oleh sentimen domestik.
Meskipun indeks dolar AS hanya mengalami kenaikan tipis. Salah satu faktor eksternal.
Yang turut memberi tekanan adalah kenaikan harga minyak mentah dunia.
Namun demikian, Lukman menekankan bahwa tekanan utama berasal dari dalam negeri.
Dia menjelaskan tekanan kuat pada rupiah lebih mencerminkan kekhawatiran domestik.
Keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga. Penurunan cadangan devisa, dan belum ada upaya pemerintah.
“Yang jelas untuk memangkas anggaran yang tidak mendesak seperti MBG,” ujar Lukman.
Ia menambahkan, ketiadaan rilis data ekonomi domestik juga membuat rupiah tidak memiliki katalis positif.
Untuk menahan tekanan, sehingga tetap berada dalam tren melemah.
Untuk perdagangan Kamis (30/4), Lukman memperkirakan pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi sentimen eksternal.
Khususnya hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
Meski suku bunga acuan diperkirakan tetap, pasar menanti arah kebijakan bank sentral AS.
Pasar memperkirakan The Fed akan memberikan pernyataan.
yang cenderung hawkish sebagai respons terhadap kenaikan harga minyak mentah,” jelasnya.
Menurut Lukman, rupiah masih berpotensi tertekan, kecuali muncul sentimen positif seperti meredanya
Tensi geopolitik di Timur Tengah atau pernyataan The Fed yang lebih dovish dari ekspektasi.
Adapun untuk perdagangan Kamis (30/4/2026), Lukman memproyeksikan rupiah.
Akan bergerak dalam kisaran Rp 17.250 hingga Rp 17.400 per dolar AS.












