Ekonomi dan Bisnis

Harga Emas Spot Bertengger di Level US$4.560,59 Per Ons Troi

×

Harga Emas Spot Bertengger di Level US$4.560,59 Per Ons Troi

Sebarkan artikel ini

Suku Bunga dan Geopolitik Timur Tengah Pemicu Harga Emas Spot Ambruk

Harga Emas Spot
Harga emas spot ada di level US$ 4.560,59 per ons troi di perdagagan Kamis (30/4/2026). harga emas spot naik 0,28% dari sehari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, harga emas turun 2,84%.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagagan Kamis (30/4/2026) harga emas spot ada di level US$ 4.560,59 per ons troi di pasar spot.

harga emas spot naik 0,28% dari sehari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, harga emas turun 2,84%.

Baca Juga  Harga Emas Spot Naik 0,1% Bertengger di Level US$ 4.598,45 Per Ons Troi

Harga logam mulia masih berada dalam tekanan dan berpotensi melanjutkan pelemahan

Di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai, tekanan terhadap harga emas spot saat ini dipicu oleh meningkatnya

Baca Juga  Harga Emas Spot Naik 0,1% Bertengger di Level US$ 4.598,45 Per Ons Troi

Ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Ekspektasi suku bunga tinggi membuat opportunity cost memegang emas meningkat.

“Terutama di tengah kenaikan imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar,” ujar Sutopo.

Ia mencatat, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (US Treasury).

Telah naik ke kisaran 4,35%. Sementara indeks dolar AS bertahan di atas level 98,5.

Kondisi ini mengurangi daya tarik emas dan perak sebagai aset tanpa imbal hasil.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz juga memperburuk sentimen pasar.

Gangguan distribusi energi global mendorong harga minyak tetap tinggi dan memicu kekhawatiran inflasi yang lebih persisten.

Tekanan inflasi ini membuat bank sentral, termasuk Federal Reserve.

“Cenderung mempertahankan kebijakan moneter ketat (hawkish) lebih lama,” kata Sutopo.

Sutopo menambahkan, kenaikan harga logam mulia yang terjadi dalam perdagangan harian

Lebih mencerminkan technical rebound jangka pendek setelah memasuki area jenuh jual (oversold).

“Penguatan yang terjadi cenderung didorong aksi berburu harga murah (bargain hunting), bukan perubahan tren,” ujar Sutopo.

Dalam jangka pendek, pergerakan harga emas diperkirakan masih tertekan.

Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, emas dinilai masih berada dalam tren naik (bullish).

Meski demikian, Sutopo mengingatkan potensi koreksi harga emas tetap terbuka lebar, terutama jika tensi geopolitik mereda.

Ia mencontohkan, secara historis emas pernah mengalami koreksi dalam.

Seperti pada 2020 yang turun sekitar 19% dari US$ 2.075 ke US$ 1.680 per ons troi.

Bahkan pada periode 2011–2013, harga emas terkoreksi hingga 45% dari US$ 1.920 ke US$ 1.050 per ons troi.

Emas masih berpotensi akan koreksi sebesar itu lagi, 30% hingga 45%.

“Apabila perang mereda. Tahun ini bisa saja terjadi,” kata Sutopo.

Suku Bunga dan Geopolitik Timur Tengah Pemicu Harga Emas Ambruk

Harga emas diperdagangkan sekitar US$ 4.550 per ons troi pada hari Kamis (30/4), atau berada di level terendah satu bulan.

Penurunan harga terjadi karena melonjaknya biaya energi memperparah kekhawatiran inflasi

Dan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral utama mungkin perlu menaikkan suku bunga.

Seperti dikutip Tradingeconomics, Kamis (30/4), Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan mempertahankan blokade angkatan lautnya terhadap Iran sampai negara itu menyetujui kesepakatan nuklir.

Sementara Teheran menuduh Trump berupaya memaksa negara itu untuk tunduk melalui tekanan ekonomi dan perpecahan internal.

Konflik Timur Tengah yang berkepanjangan dan hampir ditutupnya Selat Hormuz mengguncang pasar global.

Mendorong para pedagang untuk mengurangi taruhan pada pemotongan suku bunga tahun ini

Dan malah mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada tahun 2027.

Sementara itu, Federal Reserve AS mempertahankan bunga acuan

Seperti yang diperkirakan secara luas, meskipun empat pejabat berbeda pendapat.

Ini menggarisbawahi meningkatnya perpecahan atas prospek kebijakan di tengah meningkatnya ketidakpastian yang berasal dari konflik Iran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *