Topikseru.com, Deli Serdang – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap 2 Mei kembali menjadi momentum refleksi bagi dunia pendidikan di Indonesia. Tidak hanya mengenang jasa Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional, momen ini juga menjadi ruang evaluasi terhadap berbagai persoalan yang masih membayangi sistem pendidikan.
Di tengah perkembangan teknologi dan digitalisasi yang pesat, tantangan pendidikan dinilai semakin kompleks, terutama terkait keamanan dan kenyamanan lingkungan belajar.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Deli Serdang, Junaidi Malik, menyoroti masih maraknya praktik perundungan serta kekerasan verbal maupun fisik di lingkungan sekolah.
“Perundungan masih ditemukan mulai dari tingkat TK, SD hingga SMP. Selain itu, persoalan akses pendidikan juga masih menjadi pekerjaan rumah, karena masih ada anak yang mengalami putus sekolah,” ujar Junaidi, Sabtu (2/5/2026).
Lingkungan Sekolah Belum Sepenuhnya Aman
Menurut Junaidi, maraknya kasus perundungan menunjukkan bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi peserta didik.
Ia menegaskan, lingkungan belajar yang kondusif sangat berpengaruh terhadap perkembangan siswa. Rasa aman dinilai mampu meningkatkan fokus belajar serta keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat.
“Sekolah yang nyaman juga ditandai dengan hubungan harmonis antara guru, siswa, dan seluruh warga sekolah. Interaksi yang positif akan menciptakan suasana belajar yang lebih baik,” katanya.
Dorong Implementasi Regulasi Secara Nyata
Junaidi juga menekankan pentingnya implementasi kebijakan pendidikan, termasuk Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026, yang mengatur tentang penguatan lingkungan sekolah aman dan nyaman.
Menurutnya, regulasi tersebut tidak boleh berhenti pada tataran administratif semata, melainkan harus diwujudkan dalam praktik nyata di lapangan.
Ia juga menyoroti belum terbentuknya kelompok kerja (Pokja) terkait budaya sekolah aman di Kabupaten Deli Serdang.
“Jika nantinya Pokja dibentuk, jangan hanya seremonial. Harus benar-benar berjalan dan memberikan dampak nyata,” ujarnya.
Hardiknas Jadi Momentum Perbaikan
Lebih lanjut, LPA Deli Serdang mengingatkan bahwa pendidikan sejatinya merupakan proses memanusiakan manusia yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Pernyataan tersebut sekaligus menanggapi pesan pemerintah daerah terkait pentingnya pendidikan berbasis nilai kemanusiaan.
“Pendidikan harus menjadi ruang aman dan nyaman, bukan tempat yang menimbulkan ketakutan, tekanan, apalagi kekerasan,” kata Junaidi.
Refleksi Arah Pendidikan Nasional
Peringatan Hardiknas 2026 diharapkan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menjadi titik balik dalam memperbaiki kualitas pendidikan, khususnya dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan bebas dari kekerasan.
Dengan demikian, sistem pendidikan Indonesia dapat berkembang tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dalam membentuk karakter dan kesejahteraan psikologis peserta didik.












