Sumut

Kemarau, BMKG Buat ‘Hujan Buatan’ 25 Hari di Kawasan Danau Toba  

×

Kemarau, BMKG Buat ‘Hujan Buatan’ 25 Hari di Kawasan Danau Toba  

Sebarkan artikel ini

Dukung Ketahanan Air dan Antisipasi Kemarau 2026

BMKG
OPERASI: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus mengoptimalkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, Kamis (30/04/2026).(Foto: Topikseru.com/ Humas BMKG)

Topikseru.com, Sumatera Utara – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengoptimalkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau ‘hujan buatan’ di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, Sumatera Utara. Hal itu tidak lain untuk menjaga ketersediaan cadangan air sekaligus mengantisipasi dampak musim kemarau serta fenomena El Nino pada tahun 2026.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, optimalisasi tersebut juga menjadi perhatian dari Presiden RI Prabowo Subianto terhadap ketahanan air nasional. Ia menekankan bahwa pihaknya terus memperkuat infrastruktur pendukung, seperti radar cuaca, untuk mendiagnosis kondisi atmosfer secara akurat sebelum penyemaian awan dilakukan.

“Instruksi Presiden sangat jelas, BMKG harus diperkuat, terutama dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Saat ini kami sedang berproses,” ujarnya dalam keterangan di situs resmi, dikutip Sabtu (2/5/2026).

Baca Juga  BMKG: Musim Kemarau 2026 Lebih Kering dan Lebih Panjang, El Nino Jadi Pemicu

Peningkatan frekuensi modifikasi cuaca itu tidak terlepas dari tantangan perubahan iklim yang diprediksi akan membuat musim kemarau datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang. Fasilitas OMC diprioritaskan untuk menjaga debit bendungan guna mendukung sektor energi dan pertanian, serta mencegah terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

“OMC pasti akan terus ditingkatkan frekuensinya untuk menjaga debit bendungan dan mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Ke depan, BMKG siap terus memberikan dukungan penuh untuk melaksanakan operasi pengelolaan air sebaik-baiknya,” kata Faisal.

Rangkaian operasi di wilayah Danau Toba tersebut dijadwalkan berlangsung selama 25 hari, mulai dari 9 April hingga 3 Mei 2026.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyebutkan bahwa tim di lapangan telah melakukan puluhan sorti penyemaian awan guna memicu hujan di area tangkapan air tersebut.

“Hingga 29 April 2026, operasi telah berjalan selama 21 hari dengan capaian 33 sorti penyemaian awan. Saat ini masih tersisa sekitar empat hari pelaksanaan untuk mengoptimalkan capaian operasi,” ungkap Seto.

Baca Juga  BMKG Ingatkan Suhu Panas di Medan Capai 36 Derajat, Warga Diminta Waspada Risiko Cuaca Ekstrem

Operasi tersebut merupakan hasil sinergi antara BMKG dengan Perum Jasa Tirta I (PJT I) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

Di lain sisi, Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Fahmi Hidayat menyampaikan bahwa teknologi ini sangat krusial dalam menjamin kontinuitas sumber daya air permukaan bagi kebutuhan industri maupun domestik.

“Kami memiliki tanggung jawab untuk menjaga kuantitas, kualitas, dan kontinuitas sumber daya air permukaan guna memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari pembangkit listrik tenaga air, irigasi, domestik, hingga industri. Dukungan OMC ini sangat membantu dalam memastikan ketersediaan air di waduk dan tampungan yang kami kelola,” jelas Fahmi.

Hingga saat ini, capaian kegiatan modifikasi cuaca tersebut dilaporkan telah mencapai 86,78% dari total target. Dengan begitu, BMKG memastikan pelaksanaan OMC berjalan efektif dalam meningkatkan tinggi muka air danau tanpa menimbulkan risiko bencana banjir atau longsor di wilayah pemukiman warga sekitarnya.

Dukung Ketahanan Air dan Antisipasi Kemarau 2026

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus mengoptimalkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba. Kegiatan yang direncanakan berlangsung hingga awal Mei 2026 ini merupakan bagian dari upaya menjaga ketersediaan air sekaligus mengantisipasi dampak musim kemarau tahun 2026.

Pelaksanaan OMC kali ini merupakan hasil sinergi antara BMKG, Perum Jasa Tirta I (PJT I), dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dalam mendukung pengelolaan sumber daya air di kawasan Danau Toba. Kegiatan turut dihadiri Kepala Balai MKG Wilayah I Hendro Nugroho, Penasehat Kepala Muslim Andri, serta Kepala Stasiun Meteorologi Silangit Gatot Rudiantoro.

Dalam sambutannya, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan, Presiden RI, Prabowo Subianto, memberikan perhatian besar terhadap penguatan OMC di Indonesia.

“Instruksi Presiden sangat jelas, BMKG harus diperkuat, terutama dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Saat ini kami sedang berproses,” ungkapnya.

Faisal juga menekankan pentingnya penguatan infrastruktur pendukung, khususnya radar cuaca, sebagai instrumen utama dalam mendiagnosis kondisi atmosfer sebelum pelaksanaan OMC.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, peningkatan frekuensi OMC tidak terlepas dari tantangan perubahan iklim yang semakin nyata. Pada tahun ini, Indonesia dihadapkan pada potensi El Niño yang berpotensi menyebabkan musim kemarau datang lebih awal, berlangsung lebih panjang, serta curah hujan berada di bawah normal.

“OMC pasti akan terus ditingkatkan frekuensinya untuk menjaga debit bendungan dan mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Ke depan, BMKG siap terus memberikan dukungan penuh untuk melaksanakan operasi pengelolaan air sebaik-baiknya,” kata Faisal.

Selama 25 Hari

Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, melaporkan bahwa pelaksanaan OMC di DTA Danau Toba direncanakan berlangsung selama 25 hari, terhitung sejak 9 April hingga sekitar 3 Mei 2026.

Hingga 29 April 2026, operasi telah berjalan selama 21 hari dengan capaian 33 sorti penyemaian awan. “Saat ini masih tersisa sekitar empat hari pelaksanaan untuk mengoptimalkan capaian operasi,” ujar Seto.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menambahkan, total target waktu terbang dalam kontrak adalah 50 jam. Dengan capaian saat ini, masih tersedia sisa waktu terbang sekitar 6 jam.

“Capaian kegiatan saat ini sudah mencapai sekitar 86,78 persen. Evaluasi akan dilakukan pada akhir pelaksanaan, termasuk penyesuaian pada LKK (Laporan Kemajuan Kinerja) apabila terdapat selisih capaian waktu terbang,” jelasnya.

Di sisi lain, Direktur Utama Perum Jasa Tirta I, Fahmi Hidayat, menyampaikan apresiasi atas dukungan BMKG dalam pelaksanaan OMC di wilayah Sungai Toba–Asahan.

“Kami memiliki tanggung jawab untuk menjaga kuantitas, kualitas, dan kontinuitas sumber daya air permukaan guna memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari pembangkit listrik tenaga air, irigasi, domestik, hingga industri. Dukungan OMC ini sangat membantu dalam memastikan ketersediaan air di waduk dan tampungan yang kami kelola,” ujar Fahmi.

Ia menambahkan, melihat manfaat yang dihasilkan, pihaknya berharap pelaksanaan OMC dapat dilakukan secara lebih rutin dan intensif.

“Seperti di beberapa negara yang telah maju dalam teknologi modifikasi cuaca, kami berharap OMC ke depan dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk kepentingan energi, tetapi juga untuk penanggulangan kekeringan dan banjir di berbagai wilayah,” imbuhnya.

Sebelumnya, BMKG juga telah melaksanakan rapat evaluasi pelaksanaan OMC di Posko OMC Siborong-borong pada 23 April 2026 sebagai bagian dari upaya memastikan efektivitas dan akuntabilitas kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa OMC berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan di wilayah DTA Danau Toba, khususnya di bagian timur dan tenggara, termasuk Pulau Samosir, yang berdampak pada peningkatan inflow dan tinggi muka air danau.

BMKG juga menegaskan, pelaksanaan OMC tidak menimbulkan bencana. Sejumlah kejadian banjir dan longsor yang terjadi telah diverifikasi tidak berkaitan dengan aktivitas penyemaian awan.

Melalui pelaksanaan OMC ini, BMKG berharap ketersediaan air di kawasan Danau Toba tetap terjaga serta mampu mendukung berbagai sektor yang bergantung pada sumber daya air, khususnya dalam menghadapi dinamika iklim yang semakin kompleks.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *