Topikseru.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Inflasi bulanan Indonesia pada April 2026 sebesar 0,13 persen (month-to-month/mtm). Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi Maret 2026 yang mencapai 0,41 persen, menandakan tekanan harga relatif terkendali di awal kuartal kedua.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut kelompok Transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dalam periode tersebut.
Transportasi Dominasi Inflasi
Kelompok pengeluaran transportasi mencatat inflasi 0,99 persen mtm, dengan kontribusi 0,12 persen terhadap total inflasi April.
Pendorong utamanya:
- Tarif angkutan udara: inflasi 15,25% (andil 0,11%)
- Bensin: inflasi 0,34% (andil 0,02%)
Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya Harga Avtur serta penyesuaian harga bahan bakar nonsubsidi.
Namun, tidak semua komponen transportasi naik. Tarif angkutan antarkota justru mengalami deflasi 10,01 persen, menahan laju inflasi dengan andil minus 0,03 persen.
Makanan dan Restoran Ikut Menyumbang
Selain transportasi, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga memberikan kontribusi signifikan:
- Inflasi: 0,69 persen mtm
- Andil: 0,07 persen
Komoditas utama penyumbang inflasi:
- Minyak goreng (0,05%)
- Tomat (0,03%)
- Beras (0,02%)
- Nasi dengan lauk (0,02%)
Deflasi Tahan Tekanan Harga
Sejumlah kelompok pengeluaran justru mengalami penurunan harga (deflasi), yang membantu menjaga inflasi tetap rendah:
- Perawatan pribadi dan jasa lainnya: -0,99% (andil -0,07%)
- Makanan, minuman, dan tembakau: -0,20% (andil -0,06%)
Komoditas penyumbang deflasi terbesar:
- Daging ayam ras (-0,11%)
- Emas perhiasan (-0,09%)
- Cabai rawit (-0,06%)
- Telur ayam ras (-0,04%)
Pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK)
BPS mencatat kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari:
- 110,95 (Maret 2026), menjadi
- 111,09 (April 2026)
Data April menunjukkan inflasi Indonesia masih dalam jalur terkendali. Namun, ketergantungan pada sektor energi – khususnya harga avtur dan BBM – membuat inflasi tetap rentan terhadap gejolak global.
Kenaikan tajam tarif pesawat menjadi sinyal bahwa biaya logistik dan mobilitas masih menjadi faktor utama pembentuk inflasi jangka pendek.
Di sisi lain, deflasi pada sejumlah bahan pangan strategis memberi ruang bagi stabilitas harga, sekaligus menjaga daya beli masyarakat.












