Kesehatan

Marah Saat Gadget Diambil Jadi Tanda-tanda Brain Rot pada Anak dan Generasi Muda, Apalagi Gejala dan Solusinya?

×

Marah Saat Gadget Diambil Jadi Tanda-tanda Brain Rot pada Anak dan Generasi Muda, Apalagi Gejala dan Solusinya?

Sebarkan artikel ini
Kesehatan
Sejumlah gejala brain rot.(Foto: Topikseru.com/ ciputra.ac)

Topikseru.com, Medan – Satu kajian Universitas Yale di tahun lalu, diketahui bertambahnya  orang dewasa muda (berusia 18 sampai 34 tahun) yang mengalami disabilitas kognitif-termasuk masalah memori dan sulit fokus atau Brain Rot. Angkanya hampir melonjak dua kali lipat, dari 5,1 persen ke 9,7 persen dalam sepuluh tahun terakhir.

Para pengkaji menghubungkan kondisi itu dengan “brain rot” atau kerusakan otak: suatu kondisi kelelahan mental akibat paparan konten digital yang sangat cepat namun dangkal.

Perbjatan yang berhubungan  dengan brain rot termasuk scrolling terus-menerus serta penggunaan meme berlebihan dalam percakapan sehari-hari.

Psikolog Dr. Julia Kogan mengulas tanda utama brain rot terjadi ketika Topikers amat sangat sering online. Sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Misalnya, jika tidak bisa tidur karena terpaku pada ponsel atau mengabaikan hubungan di dunia nyata demi media sosial, Topikers bisa jadi mulai masuk fase awal brain rot.

“Tanda-tanda lainnya seperti kesulitan untuk meninggalkan ponsel dan ada dorongan untuk terus-menerus memeriksa notifikasi,” katanya, diambil dari Verywell Mind.

“Mata yang tegang, sakit kepala, atau postur tubuh yang buruk akibat penggunaan ponsel dapat menjadi tanda lain bahwa terlalu banyak waktu dihabiskan online tanpa istirahat.”

Fenomena brain rot juga dikupas Dr Melly Latifah, dosen Universitas IPB dari Divisi Perkembangan Anak, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, yang mengulas dampak brain rot terhadap anak.

“Anak bisa sulit konsentrasi, sering lupa instruksi sederhana, bicaranya patah-patah, atau kosakatanya menyusut. Secara emosional, mereka bisa tertawa histeris saat online tetapi datar ketika diajak bicara. Ada juga yang marah ketika gadget diambil,” jelas Melly.

Melly menjelaskan, setiap usia menunjukkan gejala berbeda. “Balita mungkin meniru gerakan absurd yang mereka lihat. Anak usia sekolah dasar bisa mengalami penurunan nilai drastis. Sementara remaja SMP hingga SMA mulai berkomunikasi dengan bahasa meme,” pungkasnya.

Soroti 5 Gejala Brain Rot, Bisa Jadi Ada di Sekitar Kita

Pernahkah merasa kesulitan untuk fokus saat membaca buku atau mengerjakan tugas. Namun bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekadar scroll video pendek di media sosial? Jika hal ini sering terjadi, kondisi tersebut bisa jadi merupakan tanda dari fenomena yang saat rekat dengan era digital, yaitu Brain Rot.

Arus informasi yang sangat deras seperti pada sejumlah sosial media sering kali membuat banyak orang tanpa sadar terjebak dalam pusaran konten instan. Meski tampak seperti hiburan semata, kebiasaan ini perlahan-lahan dapat mengubah cara kerja otak dalam merespons stimulus, memproses informasi, dan menyusun visi jangka panjang.

Apa Itu Brain Rot?

Secara harfiah, Brain Rot (pembusukan otak) bukanlah istilah medis resmi, melainkan sebuah istilah slang dunia internet yang merujuk pada kondisi kelelahan mental, penurunan daya kognitif, dan hilangnya kemampuan fokus akibat konsumsi konten digital yang berlebihan dan tidak bermakna (mindless scrolling).

Fenomena ini sering kali dipicu oleh paparan terus-menerus terhadap video berdurasi pendek yang dirancang untuk memberikan lonjakan dopamin secara instan. Akibatnya, otak menjadi terbiasa dengan rangsangan cepat dan kehilangan kapasitas untuk mencerna informasi yang membutuhkan pemikiran mendalam.

Lima Simpton Brain Rot

Mendeteksi gejala brain rot sejak dini sangat penting agar langkah pencegahan dapat segera diambil. Berikut adalah lima ciri utama yang patut diwaspadai:

  1. Penurunan Attention Span yang Drastis

Gejala paling nyata dari brain rot adalah ketidakmampuan untuk mempertahankan fokus pada satu aktivitas dalam waktu lama. Seseorang mungkin akan merasa gelisah, mudah bosan, atau kehilangan konsentrasi hanya dalam hitungan menit saat dihadapkan pada teks panjang, perkuliahan, atau diskusi yang membutuhkan pemikiran kritis. Otak yang sudah terbiasa dengan pergantian visual setiap 15 hingga 30 detik akan memberontak ketika diminta untuk melambat.

  1. Kesulitan Menerapkan Delayed Gratification

Ketergantungan pada konten instan menciptakan ekspektasi akan hasil yang serba cepat. Hal ini mengikis kemampuan seseorang untuk melakukan

  1. Burnout Tanpa Aktivitas Fisik Berarti

Sering merasa sangat lelah secara emosional dan mental meskipun seharian hanya berbaring sambil memegang gawai? Ini adalah tanda klasik brain rot. Otak dipaksa memproses ribuan gambar, suara, dan informasi acak dalam waktu singkat, yang pada akhirnya menguras cadangan energi kognitif. Kelelahan ini sering kali berujung pada menurunnya motivasi untuk melakukan aktivitas yang produktif.

  1. Menurunnya Kemampuan Problem Solving dan Kreativitas

Inovasi dan ide-ide cemerlang biasanya lahir dari momen-momen keheningan dan kebosanan, di mana otak memiliki ruang untuk merangkai berbagai informasi menjadi sebuah solusi. Paparan konten digital yang tiada henti merampas “ruang kosong” tersebut. Akibatnya, kemampuan berpikir analitis, memecahkan masalah kompleks (problem solving), dan melahirkan gagasan-gagasan kreatif menjadi tumpul.

  1. Terjebak dalam Siklus FOMO (Fear of Missing Out

Rasa takut tertinggal tren terbaru atau berita viral sering kali menjadi alasan seseorang terus-menerus kembali ke layar gawai. Siklus FOMO ini membuat pikiran tidak pernah benar-benar beristirahat. Fokus utama tidak lagi tertuju pada pengembangan diri atau pencapaian target akademik dan profesional, melainkan terdistraksi oleh validasi sosial dan hiruk-pikuk dunia maya yang sifatnya hanya sementara.

Cara Atasi Brain Rot dan Membangun Kembali Fokus

Kabar baiknya, dampak dari brain rot dapat dipulihkan dengan komitmen untuk mengubah kebiasaan. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa diterapkan:

  • Lakukan Detoks Digital Bertahap: Mulailah dengan menetapkan batasan waktu penggunaan media sosial (misalnya, maksimal 2 jam sehari)
  • Latih Kembali Kedisiplinan Fokus: Biasakan otak untuk kembali membaca buku cetak, mendengarkan podcast berdurasi panjang, atau menulis jurnal tanpa gangguan notifikasi.
  • Fokus pada Tujuan Jangka Panjang: Bangun kembali mindset yang berorientasi pada masa depan. Ingatlah bahwa kesuksesan, baik dalam pendidikan maupun bisnis, menuntut dedikasi dan proses yang tidak instan. Alihkan energi dari doom scrolling ke aktivitas riset, pengembangan keahlian baru, atau diskusi produktif.

Menyadari gejala brain rot adalah langkah pertama menuju perubahan. Dengan membatasi asupan “makanan instan” bagi otak dan kembali melatih kedisiplinan serta ketahanan mental, kapasitas kognitif dan kreativitas otak yang sempat meredup dapat kembali dioptimalkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *