Topikseru.com, Jakarta – Pada awal perdagangan Senin (25/5/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat di pasar spot.
Diperdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG menguat 36,29 poin atau 0,59% ke 6.199,02. Sebanyak 369 saham naik, 106 saham turun dan 195 saham stagnan.
Seluruh indeks sektoral menguat, menopang kenaikan IHSG. Indeks sektoral dengan kenaikan terbesar adalah sektor infrastruktur yang naik 1,74%.
Untuk sektor barang konsumen siklikal naik1,49% dan sektor properti yang naik 1,31%.
Total volume perdagangan saham di bursa pagi ini mencapai 1,89 miliar saham, dengan total nilai Rp 934,60 miliar.
Top gainers LQ45 pagi ini adalah:
1. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) (2,73%)
2. PT Indosat Tbk (ISAT) (2,44%)
3. PT Bank Rakyat IndonesiaTbk (BBRI) (1,97%)
Top losers LQ45 pagi ini adalah:
1. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) -5,63%)
2. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) (-5,41%)
3. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) (-4,76%).
Analis Pasar: IHSG Bakal Bergerak Mixed Cenderung Menguat Terbatas
Pada perdagangan Senin (24/5/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan menguat di pasar spot.
IHSG ditutup menguat 67,10 poin atau 1,10% ke 6.162,04 pada akhir perdagangan Jumat (22/5/2026) kemarin. Meskipun begitu, IHSG masih mengakumulasi penurunan 8,35% dalam sepekan.
mEDNVP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi melihat, tertekannya IHSG pekan lalu dipengaruhi oleh sentimen rencana sentralisasi ekspor komoditas melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PT DSI) yang dipandang akan menurunkan margin emiten komoditas.
Ini seiring dengan tekanan harga jual rerata alias average selling price (ASP) yang tidak ada fleksibilitas dengan pembeli premium.
Selain itu, Nilai Tukar Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke level Rp 17.712 meski setelah sebelumnya BI menaikkan suku bunga 50 basis poin (bps).
“Kami melihat pasar terus berharap intervensi tetap dilakukan supaya target normalisasi Rupiah dapat terjadi,” katanya.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, pelemahan IHSG sepekan telah diikuti dengan aksi net foreign sell mencapai Rp 1,86 triliun di pasar reguler.
“Tekanan terjadi akibat kombinasi sentimen domestik dan global yang membuat pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati,” ujarnya.
Audi memperkirakan, IHSG pada Senin (25/5/2026) esok bergerak mixed cenderung menguat terbatas dalam rentang level support 5.909 dan resistance 6.305, dengan indikator RSI mulai terjadi pembalikan arah di zona oversold.
Besok pasar akan dipengaruhi sentimen pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang mengatakan adanya kemajuan pembicaraan damai dengan Iran, sehingga pasar akan cenderung berspekulasi positif.
“Dari dalam negeri, pasar akan cenderung wait and see seiring dengan pergerakan rupiah yang dikhawatirkan melanjutkan pelemahan dan hari bursa yang lebih singkat,” katanya.
Audi pun merekomendasikan speculative buy untuk INKP dan MBMA pada perdagangan hari ini.
Untuk INKP, support ada di Rp 7.600 per saham dan resistance Rp 8.650 per saham.
Sementara, MBMA support ada di Rp 420 per saham dan resistance Rp 550 per saham. Reza
melihat, IHSG secara teknikal saat ini sudah berada di area support psikologis yang cukup penting, mendekati level terendah saat market shock 2025 di kisaran 5.800–5.900.
Dengan kondisi yang sudah cukup oversold, peluang technical rebound pada awal pekan tetap terbuka selama IHSG mampu bertahan di atas area support tersebut.
Untuk Senin, IHSG pun diperkirakan bergerak dalam rentang 5.900–6.300, dengan area resistance berada di kisaran 6.300–6.400.
Menurut Reza, pasar masih akan mencermati perkembangan terkait regulasi sentralisasi ekspor komoditas strategis, terutama mengenai mekanisme dan implementasinya yang sejauh ini masih memunculkan berbagai interpretasi dari sejumlah pihak.
Di sisi lain, pasar juga menantikan rebalancing indeks MSCI yang efektif pada 29 Mei 2026.
“Potensi capital outflow masih perlu diwaspadai, khususnya pada saham-saham yang terdampak pengurangan bobot indeks,” paparnya.
Reza merekomendasikan buy on break di Rp 490 per saham untuk MBMA dengan target resistance Rp 496 – 505 per saham.
Rekomendasi beli untuk ESSA dengan target resistance Rp 725 – Rp 750 per saham.
Sementara, rekomendasi trading buy untuk CPIN dengan target resistance Rp 4.400 – Rp 4.500 per saham.












