Topikseru.com – Rifaldy Fajar akhirnya menyampaikan klarifikasi terkait polemik yang muncul setelah partisipasi timnya dalam International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark.
Melalui sebuah unggahan yang beredar luas di media sosial, Rifaldy menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi sekaligus mengakui adanya sejumlah kekeliruan yang dilakukan oleh timnya selama mengikuti konferensi internasional tersebut.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan publik karena untuk pertama kalinya pihak yang terlibat memberikan penjelasan setelah muncul berbagai pertanyaan terkait penelitian, afiliasi institusi, hingga identitas sejumlah nama yang dicantumkan dalam karya ilmiah yang dipresentasikan.
Rifaldy Fajar Sampaikan Permintaan Maaf
Dalam pernyataan yang diunggah melalui akun Instagram @rifaldy.fajar04 dan kemudian tersebar di berbagai platform media sosial, Rifaldy mengaku menyesali tindakan yang telah menimbulkan polemik di kalangan akademisi maupun masyarakat.
Ia menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang terdampak, termasuk penyelenggara konferensi dan individu yang namanya ikut terseret dalam perbincangan publik.
Menurutnya, sejumlah keputusan yang diambil selama proses partisipasi dalam konferensi tersebut merupakan kekeliruan yang kini menjadi bahan evaluasi bagi timnya.
Rifaldy juga membenarkan bahwa hanya Prihantini yang hadir secara langsung dalam konferensi ISPPD 2026 di Denmark.
Sementara anggota tim lainnya disebut sedang berada di lokasi berbeda karena memiliki agenda masing-masing. Dalam klarifikasinya, ia turut menegaskan bahwa Aminatus Saadah dan Dimas Fajar tidak terlibat dalam penyusunan maupun presentasi karya ilmiah yang dipersoalkan.
Ia menyebut pencantuman kedua nama tersebut terjadi akibat kesalahan dalam memahami izin penggunaan nama, bukan karena adanya keterlibatan langsung dalam penelitian.
Akui Penggunaan Afiliasi Kampus Tanpa Persetujuan
Salah satu poin yang paling banyak disorot dalam klarifikasi tersebut adalah penggunaan afiliasi sejumlah perguruan tinggi dalam dokumen yang berkaitan dengan konferensi.
Rifaldy mengakui bahwa pencantuman nama institusi dilakukan tanpa persetujuan resmi dari pihak kampus.
Beberapa institusi yang disebut dalam pernyataannya antara lain Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Institut Teknologi Bandung (ITB), Telkom University Purwokerto, Universitas Tadulako, Universitas Muhammadiyah Bulukumba, Universitas Terbuka, serta Universitas Internasional Semen Indonesia.
Menurut Rifaldy, kampus-kampus tersebut tidak memiliki keterkaitan langsung dengan partisipasi timnya dalam konferensi yang menjadi sorotan publik.
Ia mengakui penggunaan nama institusi tanpa izin merupakan kesalahan yang seharusnya tidak terjadi dan menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang terdampak.
Dalam pernyataannya, ia juga menegaskan bahwa kejadian tersebut menjadi pelajaran penting agar lebih berhati-hati dalam mencantumkan identitas maupun afiliasi pada kegiatan akademik di masa mendatang.
Jelaskan Status IMCDS-BioMed Research Foundation
Selain persoalan Afiliasi Kampus, perhatian publik juga tertuju pada nama IMCDS-BioMed Research Foundation yang tercantum dalam penelitian tersebut.
Banyak warganet mempertanyakan status organisasi tersebut karena tidak ditemukan informasi yang jelas mengenai lembaga dimaksud.
Menanggapi hal itu, Rifaldy menjelaskan bahwa IMCDS-BioMed Research Foundation bukan lembaga resmi, melainkan komunitas riset independen yang dibentuk bersama rekan-rekannya.
Ia mengatakan penggunaan istilah foundation dalam nama komunitas tersebut menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Menurut penjelasannya, komunitas itu merupakan singkatan dari The Integrated Mathematical, Computational and Data Science for BioMedicine Research Community yang dibangun sebagai wadah kolaborasi riset independen dan tidak memiliki institusi induk maupun kantor resmi.
Ia juga menegaskan bahwa selama mengikuti konferensi, pihaknya tidak pernah mengklaim komunitas tersebut sebagai lembaga besar atau institusi formal.
Minta Publik Hentikan Doxing dan Serangan Personal
Di akhir pernyataannya, Rifaldy meminta publik untuk tidak melakukan serangan personal maupun penyebaran data pribadi terhadap dirinya maupun pihak lain yang terlibat dalam polemik tersebut.
Ia berharap diskusi yang berkembang tetap berfokus pada substansi persoalan tanpa mengarah pada tindakan yang dapat merugikan individu maupun keluarga yang namanya ikut terseret.
Permintaan tersebut muncul di tengah derasnya perbincangan mengenai kasus ini di berbagai platform media sosial.
Meski demikian, klarifikasi yang disampaikan Rifaldy masih memicu beragam respons dari publik. Sejumlah pihak menilai pernyataan tersebut menjawab sebagian pertanyaan yang muncul, sementara lainnya menilai masih diperlukan penjelasan lebih lanjut terkait sejumlah aspek yang menjadi sorotan dalam kasus tersebut.
Hingga artikel ini diterbitkan, belum terdapat pernyataan resmi dari penyelenggara ISPPD 2026 maupun institusi yang disebut dalam klarifikasi tersebut terkait pengakuan penggunaan afiliasi tanpa persetujuan. (*)












