Ekonomi dan Bisnis

IHSG Melemah 43,18 Poin Tersungkur di Level 6.156,47 Pagi Ini

×

IHSG Melemah 43,18 Poin Tersungkur di Level 6.156,47 Pagi Ini

Sebarkan artikel ini

Analis Pasar: IHSG Berpeluang Menguat Dalam Jangka Pendek

IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah di pasar spot. Di mana IHSG melemah 43,18 poin atau 0,64% ke 6.156,47. Sebanyak 248 saham naik, 139 saham turun dan 242 saham stagnan.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Pukul 09.03 WIB Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah di pasar spot.

Di mana IHSG melemah 43,18 poin atau 0,64% ke 6.156,47. Sebanyak 248 saham naik, 139 saham turun dan 242 saham stagnan.

Ada sembilan indeks sektoral melemah, mengikuti pelemahan IHSG. Indeks sektoral dengan pelemahan terdalam adalah sektor barang baku yang turun 2,10%.
Sektor infrastruktur turun 1,42% dan sektor barang konsumen non siklikal yang turun 1,27%.

Sedangkan indeks sektoral yang menguat adalah sektor kesehatan yang naik 1,33% dan sektor teknologi yang naik 0,15%.

Total volume perdagangan saham di bursa pagi ini mencapai 1,54 miliar saham, dengan total nilai Rp 1,06 triliun.

Top gainers LQ45 pagi ini adalah:
1. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) (2,40%)
2. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) (1,09%)
3. PT Alamri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) (0,69%)

Top losers LQ45 pagi ini adalah:
1. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) (-6,43%)
2. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) (-4,46%)
3. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) (-4,46%)

Analis Pasar: IHSG Berpeluang Menguat Dalam Jangka Pendek

Indeks Harga Saham Gabungan (IHGS) sebesar 1,11% ke level 6.195,427 pada perdagangan Selasa (2/6/2026), kendati investor asing masih mencatat net sell sebesar Rp 1,37 triliun.

Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan akibat isu rebalancing MSCI mulai mereda. Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menyampaikan, estimasi outflow pada saham-saham perbankan besar selama periode rebalancing MSCI juga sudah melebihi proyeksi awal.

Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar tekanan jual kemungkinan telah terserap pasar. Untuk rebalancing FTSE Russell, Reza melihat pasar masih berpotensi menghadapi tekanan teknikal jelang implementasi rebalancing indeks global tersebut pada 22 Juni 2026.

“Meski demikian, dampaknya diperkirakan tidak sebesar MSCI,” ujarnya.

Dia menambahkan, penguatan saham-saham konglomerasi pada perdagangan hari ini memperlihatkan adanya rotasi dana ke sektor yang relatif defensif dan likuid.

Jika sentimen pasar membaik, saham-saham ini tetap berpotensi menjadi salah satu penopang IHSG dalam jangka pendek. Dalam rentang empat pekan hingga delapan pekan mendatang, tekanan pasar berpotensi mereda berkat dukungan tiga faktor utama.

Pertama, tekanan jual asing pasca rebalancing MSCI mulai berkurang. Kedua, tekanan terhadap rupiah juga berpotensi mereda setelah musim kebutuhan devisa tinggi pada kuartal II-2026.

Ketiga, risiko kenaikan harga minyak mulai menurun seiring meredanya kekhawatiran geopolitik.

Di sisi lain, pasar masih mencermati dua risiko struktural yaitu ketidakpastian kebijakan pemerintah dan outlook rating Indonesia yang masih menjadi perhatian lembaga pemeringkat global.

“Faktor ini yang kemungkinan masih membatasi masuknya dana asing secara agresif,” imbuh dia.

Secara teknikal, Reza memperkirakan IHSG berpeluang bergerak menuju area 6.300–6.500 hingga akhir semester I-2026 seiring meredanya tekanan rebalancing dan stabilisasi rupiah.

Sedangkan untuk akhir tahun 2026, IHSG berpotensi bergerak di kisaran 6.800–7.100 dengan asumsi stabilitas makro tetap terjaga dan tidak terjadi eskalasi risiko global yang signifikan.

Dia melanjutkan, BRI Danareksa Sekuritas masih menyukai saham-saham perbankan besar, karena valuasi sudah terkoreksi akibat tekanan MSCI sementara fundamentalnya tetap solid.

Selain itu, saham-saham konglomerasi juga layak menjadi pilihan karena saat ini menjadi salah satu motor penggerak IHSG.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *