Ekonomi dan Bisnis

Harga Minyak Mentah Dekati Level Tertinggi Beberapa Bulan Terakhir: Brent Naik Tipis 6 Sen

×

Harga Minyak Mentah Dekati Level Tertinggi Beberapa Bulan Terakhir: Brent Naik Tipis 6 Sen

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Mentah
harga minyak mentah bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir seiring masih tingginya ketidakpastian. Terkait perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mengenai perpanjangan gencatan senjata serta pembukaan kembali Selat Hormuz.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Selasa (2/6/2026) Harga Minyak Mentah bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir seiring masih tingginya ketidakpastian.

Terkait perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mengenai perpanjangan gencatan senjata serta pembukaan kembali Selat Hormuz.

Berdasarkan data Reuters, harga minyak mentah Brent naik tipis 6 sen atau 0,06% menjadi US$ 95,04 per barel pada pukul 00.01 GMT.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 17 sen atau 0,18% menjadi US$ 91,99 per barel.

Kedua kontrak acuan tersebut sebelumnya melonjak lebih dari 5% pada perdagangan Senin (1/6).

Namun, kenaikan tersebut berkurang setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya belum menerima informasi bahwa Iran menghentikan pembicaraan dengan Washington.

Trump juga menyebut Israel telah sepakat menarik pasukan yang bersiap melakukan serangan ke Lebanon selatan.

Meski demikian, sinyal yang muncul dari kedua pihak masih beragam. Trump sebelumnya mengatakan kepada CNBC bahwa dirinya tidak mempermasalahkan apabila perundingan dengan Iran berakhir.

Namun tak lama kemudian, ia menyampaikan melalui media sosial bahwa pembicaraan masih berlangsung.

Dalam wawancara dengan ABC News, Trump bahkan menyatakan optimistis kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata sekaligus membuka kembali Selat Hormuz dapat tercapai dalam waktu sekitar satu pekan.

Di sisi lain, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Iran telah menangguhkan perundingan tidak langsung dengan Amerika Serikat (AS).

Kondisi ini membuat pasar tetap berhati-hati dalam menilai arah konflik dan dampaknya terhadap pasokan energi global.

Chief Market Analyst KCM Trade Tim Waterer mengatakan, fokus utama pasar saat ini adalah perkembangan nyata dalam negosiasi AS-Iran.

“Pasar saat ini memperhatikan apakah ada kemajuan konkret atau justru kemunduran dalam perundingan AS-Iran, termasuk nada dan substansi pernyataan dari kedua pihak, khususnya terkait ancaman Iran terhadap Selat Hormuz serta pergerakan kapal tanker di jalur tersebut,” ujar Waterer.

Menurutnya, arah negosiasi antara Washington dan Teheran akan menentukan apakah premi risiko geopolitik yang saat ini tercermin dalam harga minyak akan tetap bertahan atau mulai berkurang.

Sementara itu, Lebanon pada Senin (1/6) mengumumkan gencatan senjata terbatas antara kelompok Hezbollah dan Israel. Langkah ini dipandang sebagai upaya deeskalasi yang dapat membantu meredakan ketegangan regional yang berkaitan dengan konflik Iran.

Market Analyst IG Tony Sycamore menilai harga minyak masih akan bergerak volatil selama belum ada kepastian terkait proses perdamaian di Timur Tengah.

“Dengan terus munculnya berbagai perkembangan dari Timur Tengah, harga minyak kemungkinan tetap bergejolak hingga ada bukti yang lebih jelas mengenai kemajuan menuju kesepakatan damai,” kata Sycamore.

Pasar energi global masih mencermati kondisi Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu keluar sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Sejak konflik pecah, Iran secara efektif membatasi sebagian besar aktivitas pelayaran non-Iran yang keluar masuk kawasan Teluk.

Situasi tersebut menyebabkan terganggunya arus pasokan energi global dan mendorong harga minyak melonjak lebih dari 50%.

Di tengah gangguan tersebut, ekspor minyak mentah AS justru mencatat rekor baru.

Berdasarkan data pelacakan kapal, ekspor minyak AS mencapai 5,6 juta barel per hari pada Mei 2026, didorong meningkatnya permintaan dari kilang-kilang di Asia dan Eropa.

Dari sisi fundamental, survei awal Reuters menunjukkan persediaan minyak mentah AS diperkirakan turun sekitar 3,6 juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei.

Penurunan stok juga diperkirakan terjadi pada bensin dan produk distilat. Pelaku industri pelayaran yang bertemu di Athena, Yunani, pada Senin menegaskan bahwa kesepakatan damai antara AS dan Iran harus disertai aturan yang jelas agar aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dapat kembali berlangsung normal.

Dengan masih beragamnya sinyal dari Washington dan Teheran, pasar minyak diperkirakan akan tetap sensitif terhadap setiap perkembangan diplomatik maupun militer di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *