Topikseru.com, Jakarta – Pada awal perdagangan hari ini. Jumat (22/5/2026) Nilai tukar rupiah di pasar spot bergerak tipis di pasar spot.
Nilai tukar rupiah dibuka di level Rp 17.676 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat nilai tukar rupiah melemah 0,05% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.667 per dolar AS.
Alhasil, pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia. Hingga pukul 09.00 WIB, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,25%.
Disusul, baht Thailand yang ambles 0,12%. Selanjutnya, dolar Singapura yang tertekan 0,09% dan yen Jepang terkoreksi 0,08%.
Lalu, ringgit Malaysia turun 0,05%. Kemudian ada dolar Hong Kong yang melemah tipis 0,01% terhadap the greenback.
Sementara itu, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah menanjak 0,14%.
Berikutnya, peso Filipina naik 0,08% dan yuan China menguat tipis 0,02% di pagi ini.
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih Tertekan Meski BI Telah menaikkan BI Rate
Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (21/5), meski Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,25%.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah spot ditutup di level Rp 17.667 per dolar AS, melemah 13 poin atau 0,07% dibanding penutupan sebelumnya di Rp 17.654 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI di Rp 17.673 per dolar AS atau menguat 0,07% dari penutupan sebelumnya di Rp 17.685 per dolar AS.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman mengatakan, tekanan terhadap rupiah masih cukup besar meski BI telah menaikkan BI Rate.
Menurutnya, pasar masih memandang risiko global dan domestik berada pada level tinggi.
Ia menilai penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak dunia, tingginya yield US Treasury serta kekhawatiran terhadap arus keluar modal dari negara berkembang menjadi faktor utama yang menekan rupiah.
“Pergerakan rupiah dalam satu bulan terakhir menunjukkan tren depresiasi yang cukup konsisten dan belum sepenuhnya tertahan oleh intervensi moneter,” ujarnya.
Rizal menambahkan, kenaikan suku bunga acuan memang dapat menjadi bantalan jangka pendek bagi stabilitas nilai tukar.
Namun, pasar saat ini juga mencermati persoalan fundamental domestik seperti tekanan impor energi, persepsi terhadap risiko fiskal serta lemahnya daya tarik arus modal masuk.
Menurut dia, stabilisasi rupiah tidak cukup hanya mengandalkan instrumen suku bunga.
Pemerintah dan otoritas moneter juga perlu menjaga kredibilitas fiskal, mengendalikan defisit transaksi berjalan, dan memperkuat ekspektasi pasar.
Untuk perdagangan Jumat (22/5), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 17.550 hingga Rp 17.750 per dolar AS.
Volatilitas diperkirakan masih tinggi seiring pasar mencermati arah indeks dolar AS, pergerakan yield obligasi pemerintah AS, harga minyak dunia, serta arus modal asing di pasar saham dan obligasi domestik.
Rizal menilai, pasar juga akan mengevaluasi efektivitas kenaikan BI Rate dalam menjaga stabilitas rupiah tanpa terlalu menekan pertumbuhan ekonomi dan penyaluran kredit.
“Jika tekanan global kembali meningkat, rupiah berpotensi kembali mendekati level Rp 17.700 per dolar AS,” katanya.












