Kesehatan

Daging Kurban Dikemas Plastik Kresek Diyakini Berbahaya bagi Kesehatan, Ini Alasannya

×

Daging Kurban Dikemas Plastik Kresek Diyakini Berbahaya bagi Kesehatan, Ini Alasannya

Sebarkan artikel ini
Daging
Daging kurban saat Hari Raya Iduladha.(Foto: Topikseru.com/ cna)

Topikseru.com, Medan – Perayaan Iduladha masih identik dengan pembagian daging kurban menggunakan kantong plastik kresek, terutama kresek kemasan satu hingga dua kilogram. Meski dianggap praktis dan mudah ditemukan, penggunaan plastik non food grade untuk membungkus makanan ternyata menyimpan risiko bagi Kesehatan sekaligus lingkungan.

Mengacu pada penjelasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2026, sebagian besar plastic kresek berasal dari hasil daur ulang limbah produk pangan, bahan kimia, hingga pestisida.

Ketua Program Studi Gizi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Agung Nugroho, mengatakan, penggunaan kantong plastik sekali pakai, khususnya kresek hitam hasil daur ulang, berpotensi membahayakan masyarakat.

“Kantong plastik mengandung zat karsinogen dan logam berat seperti timbal yang berisiko bagi kesehatan. Selain itu, plastik sekali pakai membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai di alam,” kata Agung.

Senada dengan itu, profesor teknologi pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, juga menyoroti risiko kontaminasi dari plastik non food grade yang bersentuhan langsung dengan makanan, termasuk daging kurban.

“Banyak plastik yang beredar, yang kresek hitam itu, bukan food grade. Artinya, kalau dia kontak dengan makanan maka komponen dari plastik itu pun, yang digunakan untuk membuat plastik akan terlucuti dan masuk ke dalam makanan,” tutur Prof Purwiyatno.

Ia menjelaskan, bahan food grade seharusnya tidak memindahkan zat berbahaya ke makanan sehingga aman dikonsumsi dan tetap menjaga kualitas makanan tersebut.

Menurut Prof Purwiyatno, kantong kresek hitam umumnya berasal dari produk daur ulang dengan riwayat penggunaan yang tidak diketahui. Plastik tersebut bisa saja berasal dari wadah pestisida, limbah, hingga logam berat.

Selain itu, bahan pembuat kresek hitam disebut mengandung polivinil klorida yang secara internasional telah dikategorikan sebagai zat berbahaya bagi kesehatan sehingga tidak dianjurkan bersentuhan langsung dengan makanan apa pun.

Risiko Relatif Kecil

Meski demikian, dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi Dr dr Andhika Rachman SpPD-KHOM menilai, penggunaan plastik non food grade dalam waktu singkat masih memiliki risiko yang relatif kecil, selama daging segera dipindahkan ke wadah yang lebih aman.

“Itu, kan, sebentar, artinya enggak lama-lama. Enggak berhari-hari dan interaksinya ketika dia panas dan sebagainya, memuai, baru kita akan lihat bagaimana senyawa itu berinteraksi dengan di dalamnya,” kata dr. Andhika.

Menurut dr. Andhika, kebanyakan masyarakat langsung mengolah atau memindahkan daging kurban setelah sampai di rumah.

“Yang kita tahu, kan, setiap habis ngambil (daging kurban), dibagi, kemudian enggak usah jauh-jauh, di hari itu juga, di sore hari atau malam hari sudah diambil, sudah diproses,” katanya.

Ia menyebut, risiko yang lebih perlu diperhatikan justru berasal dari cara mengolah daging, seperti membakar daging hingga gosong atau terlalu banyak mengonsumsi daging olahan dan makanan awetan.

“Daging merah sebenarnya tidak menyebabkan kanker. Tapi pengolahan yang salah, artinya dibakar sampai gosong, atau kebanyakan makan daging merah lebih dari sekilo seminggu seperti pada pasien diet ketofastosis untuk menurunkan berat badan misalnya,” terang dr Andhika.

“Atau yang ketiga, terlalu banyak makan yang di kaleng. Karena lama-lama dia akan bersenyawa, karena dia memang potensial. Kemudian makan makanan yang preserved food, contoh nugget dan sebagainya. Lamanya dia disimpan, itu yang bikin kanker,” tegas dr Andhika.

Meningkatkan Sampah

Selain persoalan kesehatan, penggunaan kantong kresek saat Idul Adha juga diperkirakan kembali meningkatkan jumlah sampah plastik nasional.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, jumlah hewan kurban pada 2024 mencapai 1,97 juta ekor. Sementara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperkirakan timbulan sampah plastik saat Idul Adha 2024 mencapai 608 ton dari sekitar 121,5 juta lembar kantong kresek.

Agung mengatakan, momentum Idul Adha seharusnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengurangi plastik sekali pakai.

“Momentum Idul Adha seharusnya juga menjadi sarana edukasi untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kalau separuh umat Islam saja mulai mengurangi penggunaan kantong plastik, dampaknya akan sangat besar bagi keselamatan lingkungan,” ujarnya.

Anjuran Islam Menjaga Lingkungan

Menurut Agung, menjaga lingkungan juga selaras dengan ajaran Islam. Ia menyinggung manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah di bumi untuk menjaga alam dan tidak merusaknya, sebagaimana tercantum dalam QS Ar-Rum ayat 41 dan QS Al-Qasas ayat 77.

“Umat Islam harus menjadi aktor utama dalam gerakan penyelamatan lingkungan. Menjaga lingkungan bukan hanya isu sosial, tetapi juga bagian dari amanah agama,” tegasnya.

Kini, mulai banyak panitia kurban yang beralih menggunakan pembungkus lebih aman dan ramah lingkungan, seperti daun pisang, besek, hingga wadah reusable.

Salah satu contohnya diterapkan Masjid Quwatul Islam Perumnas Condongcatur yang sejak 2004 menggunakan kontainer food grade dan wadah reusable untuk distribusi daging kurban.

Wadah tersebut diberi label nama warga agar bisa digunakan kembali setiap tahun sehingga mengurangi timbulan sampah plastik maupun organik.

“Hasilnya luar biasa. Tidak ada lagi sampah plastik maupun sampah organik pembungkus daging kurban yang menumpuk di tempat sampah,” pungkas Agung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *