Kesehatan

Cemas Gerd Kumat Usai Makan Daging Kurban, Ini Anjuran Dokter

×

Cemas Gerd Kumat Usai Makan Daging Kurban, Ini Anjuran Dokter

Sebarkan artikel ini
Daging kurban
Sejumlah orang bisa saja mengeluhkan perut terasa penuh,  kembung hingga asam lambung naik setelah makan olahan daging kurban. Bahkan, tak sedikit pula yang mengaitkan makan daging dengan kambuhnya GERD (Gastroesophageal Reflux Disease). (Foto ilustrasi: Topikseru.com/ dompetdhuafa)

Topikseru.com, JakartaSejumlah orang bisa saja mengeluhkan perut terasa penuh,  kembung hingga asam lambung naik setelah makan Olahan Daging Kurban.

Bahkan, tak sedikit pula yang mengaitkan makan daging dengan kambuhnya GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).

Menurut dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariyanto, SpPD-KGEH, keluhan tersebut sebenarnya lebih berkaitan dengan jumlah konsumsi dan proses pencernaan daging yang memang lebih lama dibanding makanan lain.

Karenanya, dr Aru mengingatkan untuk tidak makan daging secara berlebihan selama Iduladha.

Menurut dr Aru, rasa begah dan kembung setelah makan daging sebenarnya berkaitan dengan proses pencernaan yang membutuhkan waktu lebih lama dibanding makanan lain.

“Kalau dari beberapa penelitian memperlihatkan konsumsi daging itu akan lama dicerna di lambung,” kata dia seperti dikutip dari detik.com, Kamis (28/5/2026).

Dr Aru menerangkan proses pencernaan protein dari daging memang lebih berat sehingga tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk mengolahnya.

“Dari beberapa penelitian memperlihatkan butuh waktu sampai 5 jam untuk bisa daging itu dicerna di pencernaan,” ucap dia.

Akibatnya, sebagian orang bisa mengalami rasa penuh, begah, hingga konstipasi setelah makan daging dalam jumlah banyak.

“Orang-orang dengan banyak makan daging biasanya terjadi konstipasi, kadang-kadang perutnya terasa penuh, begah karena proses pengolahan atau proses pencernaan protein daging tadi memakan waktu yang lebih lama di pencernaan,” ujar Aru.

Tapi, dr Aru menyatakan, GERD sebenarnya tidak secara langsung disebabkan oleh konsumsi daging. Hanya saja, makan dalam jumlah terlalu banyak tetap bisa memperberat kerja saluran cerna dan memicu rasa tidak nyaman pada sebagian orang.

Kondisi tersebut kemudian dapat memicu rasa tidak nyaman pada sebagian orang, termasuk keluhan begah, kembung, maupun gejala asam lambung.

“Tadi kan disebutkan makan daging itu butuh waktu lebih lama dicerna di usus dibandingkan dengan makanan lain atau seperti karbohidrat. Jadi mau enggak mau, bila kita makan daging lebih banyak, rasa begah, rasa kembung, pencernaan akan lebih berat dalam mengolah daging,” tuturnya.

Selain itu, dr Aru juga menyarankan konsumsi serat yang cukup agar pencernaan bekerja lebih baik saat konsumsi daging meningkat selama Iduladha.

“Dengan adanya serat akan membantu pencernaan lebih baik sehingga tubuh mencerna atau mengolah protein atau daging di usus pun lebih baik sehingga rasa begah, kembung pun lebih mudah hilang,” ucap dia.

Ia juga menyarankan untuk memilih olahan daging yang lebih ringan dan tidak terlalu berlemak agar saluran cerna tidak bekerja terlalu berat. Kata dia, olahan seperti sate atau sop bening cenderung lebih baik dibanding makanan dengan kuah santan pekat.

Ini Dia Gejala Gerd

Banyak orang menganggap rasa mual, perut panas, hingga gangguan pencernaan seperti diare pasti disebabkan oleh GERD. Padahal, keluhan serupa juga bisa muncul pada penyakit lain.

Tak sedikit pula yang baru menyadari kondisinya lebih serius setelah gejala tak kunjung membaik meski sudah minum obat lambung. Karena itu, penting memahami perbedaan  GERD dan yang lain.

Konsultan Gastroentero Hepatologi Eka Hospital MT Haryono Murdani Abdullah, mengatakan, banyak penyakit pada sistem pencernaan yang gejalanya mirip.

“Karena keluhannya sama, yang lebih penting adalah mengonfirmasikan ke ahlinya, apakah keluhan ini dari GERD,” kata Murdani dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, pemeriksaan penunjang diperlukan untuk memastikan diagnosis. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan seperti EKG, endoskopi, gastroskopi, hingga pemeriksaan feses untuk melihat ada tidaknya tanda peradangan.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan sinyal yang diberikan tubuh, terutama jika keluhan muncul terus-menerus.

Murdani menjelaskan, GERD merupakan singkatan dari Gastroesophageal Reflux Disease, yakni kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan.

Gejala GERD umumnya berupa sensasi panas di dada (heartburn), mulut terasa pahit, mual, hingga rasa terbakar di ulu hati.

Pada penderita GERD, makanan tinggi lemak dan gorengan sering menjadi pemicu naiknya asam lambung.

Murdani mengatakan, pengaturan pola makan menjadi salah satu kunci penting untuk mencegah kekambuhan kedua penyakit tersebut.

“Untuk GERD, mungkin goreng-gorengan, makanan berlemak, kurang bagus, jadi sebaiknya dihindari,” paparnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *