Topikseru.com – Pemerintah Iran menolak tuntutan dari Amerika Serikat agar menyerah tanpa syarat dalam konflik yang tengah memanas. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya akan terus mempertahankan diri selama diperlukan.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi pada Minggu (8/3), sebagai respons atas sikap Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyatakan Washington tidak akan menerima kesepakatan apa pun selain penyerahan tanpa syarat dari Teheran.
“Kami tidak pernah menyerah. Kami tidak akan menyerah tanpa syarat, dan kami akan terus melawan selama diperlukan,” kata Araghchi dalam wawancara dengan NBC News.
Iran Tegaskan Pertahankan Wilayah dan Martabat
Dalam pernyataannya, Araghchi menekankan bahwa Iran akan terus mempertahankan wilayah, rakyat, dan kedaulatan negaranya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Menurutnya, perjuangan yang dilakukan Iran bukan semata-mata terkait konflik militer, tetapi juga menyangkut harga diri dan martabat bangsa.
“Kami terus mempertahankan diri dan kami membela wilayah kami, rakyat kami, serta martabat kami. Martabat kami tidak untuk diperjualbelikan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap tegas pemerintah Iran yang menolak tekanan politik maupun militer dari Amerika Serikat.
Nilai Terlalu Dini Bahas Gencatan Senjata
Selain menolak tuntutan penyerahan, Araghchi juga menilai pembahasan mengenai kemungkinan gencatan senjata dengan Amerika Serikat masih terlalu dini untuk dilakukan.
Ia mengatakan bahwa prioritas utama Iran saat ini adalah memastikan berakhirnya konflik secara permanen sebelum berbicara mengenai syarat-syarat perdamaian.
“Harus ada pengakhiran perang secara permanen. Selama hal itu belum tercapai, kami perlu terus berjuang demi rakyat dan keamanan kami,” kata Araghchi.
Ketegangan AS-Iran Kembali Meningkat
Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir, menyusul eskalasi konflik yang melibatkan sejumlah kepentingan militer dan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan keras dari kedua pihak menunjukkan bahwa peluang untuk mencapai kesepakatan dalam waktu dekat masih terbatas, sementara situasi keamanan regional terus menjadi perhatian komunitas internasional.












