Lingkungan

GJI Dorong ‘Huta Kopi’ Jadi Pusat Branding Kopi Tapanuli Selatan ke Pasar Global

×

GJI Dorong ‘Huta Kopi’ Jadi Pusat Branding Kopi Tapanuli Selatan ke Pasar Global

Sebarkan artikel ini
Huta Kopi
Ilustrasi - Petani kopi

Topikseru.com, Tapanuli Selatan – Green Justice Indonesia (GJI) mendorong penguatan komoditas kopi melalui pengembangan pusat Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bertajuk “Huta Kopi” di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Inisiatif ini ditargetkan menjadi rumah besar branding kopi lokal agar mampu bersaing di pasar global.

Direktur GJI Panut Hadisiswoyo mengatakan konsep “huta” atau kampung sengaja diusung sebagai ruang kolaboratif yang melibatkan masyarakat, lembaga pendamping, hingga mitra swasta dalam satu ekosistem pengembangan kopi.

“Huta kopi ini kita jadikan sebagai rumah bersama untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan menjaga ekosistem,” ujar Panut di Sipirok, Jumat (17/4/2026).

Baca Juga  Sumut Kembangkan 3 Komoditas Jadi Industri: Kelapa Dalam, Kopi, Aren hingga Sapi dan Perikanan

Strategi Kolaborasi Dorong Nilai Tambah

Menurut Panut, GJI membuka ruang kolaborasi luas dengan kelompok masyarakat seperti Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) guna mengoptimalkan potensi HHBK, khususnya kopi. Pendekatan ini tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga peningkatan nilai tambah melalui pengolahan dan pemasaran.

Selain menjadi pusat aktivitas, “gerai huta” juga disiapkan sebagai etalase promosi produk-produk berbasis hutan yang diharapkan mampu menembus pasar internasional.

Langkah ini dinilai strategis, mengingat kopi kini tidak hanya menjadi komoditas pertanian, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup global yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Kopi Tapanuli Mulai Dilirik Pasar Dunia

Panut mengungkapkan kopi asal Tapanuli Selatan mulai mendapat perhatian di kancah internasional. Produk ini bahkan telah diperkenalkan dalam forum global di Davos, Swiss, sebagai komoditas berbasis komunitas yang memiliki potensi besar.

GJI kini mendorong penguatan identitas kopi dari sejumlah wilayah seperti Marancar dan Sipirok agar memiliki positioning yang jelas di pasar global.

“Kita ingin kopi Tapanuli Selatan punya identitas kuat dan dikenal luas,” katanya.

Peluang Ekonomi dari Tren Global “Ngopi”

Dalam analisisnya, Panut menilai tren konsumsi kopi global terus meningkat seiring perubahan gaya hidup masyarakat. Aktivitas “ngopi” kini tidak sekadar konsumsi, tetapi juga menjadi medium interaksi sosial hingga ruang diplomasi bisnis.

“Banyak diskusi bisnis dan relasi dimulai dari kopi. Ini peluang ekonomi yang sangat besar bagi daerah,” ujarnya.

Baca Juga  Mengulik Mitos Hubungan Kopi, Rebahan dan Kanker, Simak Penjelasannya

Fokus pada Keberlanjutan dan Lingkungan

GJI menegaskan bahwa pengembangan Huta Kopi tidak hanya berorientasi pada keuntungan komersial. Program ini juga dirancang untuk menjaga keseimbangan antara ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Melalui pendekatan berbasis komunitas, masyarakat didorong untuk mengelola sumber daya hutan secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan kapasitas produksi dan pemasaran.

“Huta Kopi ini bukan sekadar bisnis, tetapi ruang belajar bersama yang memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” kata Panut.

Ke depan, Huta Kopi diharapkan menjadi pusat interaksi, inovasi, dan pengembangan pasar bagi produk HHBK dari Tapanuli Selatan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kopi unggulan dunia.