Topikseru.com, Jakarta – Pemerintah Iran memberikan izin kepada kapal tanker minyak Malaysia untuk melintasi Selat Hormuz di tengah ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan pihaknya tengah memproses kepulangan kapal tanker beserta awaknya setelah mendapat persetujuan dari otoritas Iran.
“Kini kami sedang dalam proses melepaskan kapal tanker minyak Malaysia beserta para pekerjanya agar mereka dapat meneruskan perjalanan pulang,” ujar Anwar dalam pidato resmi yang disiarkan televisi nasional, Kamis, 26 Maret 2026.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas dukungan tersebut.
Jalur Energi Global dalam Tekanan
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global melintasi wilayah ini.
Namun, konflik di kawasan membuat arus pelayaran terganggu. Data menunjukkan hanya sekitar 99 kapal yang melintas sepanjang bulan ini, jauh menurun dibandingkan rata-rata normal sekitar 138 kapal per hari sebelum konflik.
Pemerintah Malaysia mengakui gangguan di jalur ini berpotensi berdampak terhadap pasokan energi nasional. Meski demikian, Anwar menyebut Malaysia masih relatif stabil berkat kemampuan perusahaan energi nasional Petronas dalam mengelola pasokan.
Kapal Thailand Juga Dapat Jalur Aman
Selain Malaysia, kapal tanker milik Thailand juga dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman setelah melalui koordinasi diplomatik.
Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow menyebut pelayaran tersebut terjadi usai komunikasi langsung dengan otoritas Iran.
Langkah ini dilakukan setelah sebelumnya kapal berbendera Thailand, Mayuree Naree, sempat diserang proyektil di kawasan tersebut.
Iran Selektif Izinkan Kapal Melintas
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup, namun aksesnya dibatasi.
Menurut dia, hanya kapal dari negara-negara yang dianggap “bersahabat” atau telah berkoordinasi yang diizinkan melintas dengan pengawalan militer.
Negara-negara seperti China, Rusia, Pakistan, India, dan Irak disebut telah memperoleh akses tersebut.
Sebaliknya, Iran tidak memberikan izin bagi kapal yang terkait dengan negara yang dianggap musuh, termasuk Amerika Serikat dan Israel.
“Kami berada dalam kondisi perang. Tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal milik musuh melintas,” ujar Araghchi.
Kapal Indonesia Masih Menunggu Izin
Di sisi lain, dua kapal tanker milik Indonesia hingga kini masih tertahan di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.
Kedua kapal tersebut adalah PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro yang dioperasikan oleh Pertamina International Shipping.
Pihak perusahaan menyatakan keselamatan kru dan kargo menjadi prioritas utama.
“Pertamina Group mengoperasikan 345 kapal sehingga kondisi ini dipastikan tidak mengganggu pasokan energi dalam negeri,” ujar perwakilan perusahaan.
Pemerintah RI Lakukan Diplomasi Intensif
Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan telah melakukan komunikasi intensif dengan otoritas Iran untuk memastikan keselamatan kapal nasional.
Juru Bicara Kemlu Vahd Nabyl A. Mulachela mengatakan pihak Iran telah memberikan respons positif terhadap permintaan Indonesia.
Meski demikian, pemerintah belum dapat memastikan kapan kedua kapal tersebut dapat melanjutkan perjalanan.













