Internasional

Donald Trump Bersiap-siap Keluar dari NATO, Ketegangan dengan Sekutu Meningkat

×

Donald Trump Bersiap-siap Keluar dari NATO, Ketegangan dengan Sekutu Meningkat

Sebarkan artikel ini
Donald Trump
Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan sekutu NATO meningkat setelah Presiden Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan untuk menarik AS dari aliansi militer tersebut.

Topikseru.com, AS – Kabar terkini, pasca Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan sekutu NATO meningkat setelah Presiden Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan untuk menarik AS dari aliansi militer tersebut.

Alasannya, beberapa negara Eropa menolak mengirim kapal untuk membuka blokade Selat Hormuz.

NATO, yang berdiri sejak 1949 dan beranggotakan negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada, dibentuk untuk menghadapi ancaman Soviet dan menjadi pilar keamanan Barat hingga saat ini.

Pernyataan Donald Trump pada Rabu (1/4/2026) yang dilansir Reuters muncul hanya beberapa jam setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth enggan menegaskan kembali komitmen AS terhadap pertahanan kolektif NATO, yang menjadi inti aliansi.

“Saya tidak pernah terkesan dengan NATO. Saya selalu tahu mereka hanyalah ‘paper tiger’, dan Putin pun tahu itu,” ujar Trump kepada surat kabar Inggris, Daily Telegraph, menambahkan bahwa ia telah “melewati tahap pertimbangan ulang” keanggotaan AS di NATO.

Para pakar menilai, pernyataan yang menyiratkan kemungkinan AS tidak menepati komitmen NATO dapat mendorong Rusia untuk menguji kesiapan anggota aliansi dalam menegakkan Pasal 5, yang menyatakan serangan bersenjata terhadap satu negara anggota adalah serangan terhadap semua anggota.

Reaksi Eropa

Prancis termasuk yang pertama menanggapi, meski tidak menyinggung langsung ancaman Trump. “NATO adalah aliansi militer yang menjaga keamanan wilayah Euro-Atlantik.

Aliansi ini tidak ditujukan untuk operasi di Selat Hormuz,” kata Menteri Junior Angkatan Darat Prancis Alice Rufo.

Di Polandia, Menteri Pertahanan Wladyslaw Kosiniak-Kamysz mengimbau agar suasana tetap tenang.

“Tidak ada NATO tanpa Amerika Serikat, dan tidak ada kekuatan Amerika tanpa NATO,” ujarnya.

Juru bicara pemerintah Jerman menegaskan bahwa negara itu tetap berkomitmen pada NATO.

“Ini bukan pertama kalinya hal ini terjadi, dan karena ini fenomena yang berulang, Anda bisa menilai konsekuensinya sendiri,” katanya.

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan akan tetap bertindak sesuai kepentingan negaranya meski ada “kebisingan” politik.

Ketidakstabilan akibat perang Iran membuat Inggris perlu lebih fokus pada hubungan ekonomi dan pertahanan yang erat dengan Eropa.

Isu Pertahanan Kolektif

Perang Iran telah memperburuk ketegangan AS-Eropa yang telah muncul sejak awal masa jabatan kedua Trump, mulai dari isu perdagangan hingga tuntutan kepemilikan Greenland, wilayah otonom Denmark.

Beberapa pejabat Eropa juga mengamati dengan cemas upaya Trump memediasi perang Rusia-Ukraina, yang dianggap mendukung kesepakatan menguntungkan Moskow.

Mengenai komitmen AS terhadap pertahanan kolektif NATO, Hegseth mengatakan, “Keputusan itu ada di tangan presiden. Namun banyak hal telah terbuka.”

Baca Juga  India Kembali Dekat ke Rusia Gara-gara Perang Iran vs AS dan Israel Picu Krisis Energi

Ia menambahkan, “Anda tidak punya banyak aliansi jika ada negara yang tidak mau berdiri bersama saat Anda membutuhkannya.”

Perbedaan sikap juga terlihat dari izin penggunaan wilayah udara. Prancis menolak Israel menggunakan ruang udaranya untuk mengangkut senjata AS ke Iran, dan Italia menolak pesawat militer AS mendarat di pangkalan Sigonella sebelum menuju Timur Tengah. Kedua negara menyebut ini kebijakan standar.

Sebaliknya, Spanyol menutup sepenuhnya wilayah udaranya bagi pesawat AS yang terlibat serangan ke Iran.

Trump juga menyoroti Inggris karena tidak ikut bergabung saat AS melancarkan perang.

Donald Trump Marah Besar, Kunjungan Sekjen NATO Jadi Penentu Nasib Aliansi

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dijadwalkan melakukan kunjungan ke Washington pekan depan. Seorang juru bicara aliansi militer tersebut menyebut kunjungan ini sebagai agenda yang “sudah direncanakan sejak lama”, meski dilakukan tak lama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik keras kepada sekutu-sekutu Eropa terkait perbedaan sikap dalam perang Iran.

“Saya dapat mengonfirmasi bahwa Sekretaris Jenderal akan berada di Washington DC pekan depan untuk kunjungan yang sudah lama direncanakan,” ujar juru bicara NATO Allison Hart seperti yang dilansir Reuters.

Seorang pejabat Gedung Putih juga mengonfirmasi kunjungan tersebut.

Namun, hingga kini belum ada rincian tambahan mengenai agenda perjalanan Rutte.

Trump sebelumnya mengatakan ia mempertimbangkan untuk menarik Amerika Serikat keluar dari aliansi militer Barat tersebut.

Pernyataan itu muncul setelah negara-negara Eropa menolak mengirim kapal untuk membantu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang terganggu akibat konflik.

Dalam pernyataan pada Rabu kepada para sekutu yang menghadiri jamuan makan siang Paskah di Gedung Putih, Trump juga mengkritik sejumlah negara sekutu, termasuk Prancis dan Inggris.

Ia menyebut mereka sebagai “paper tiger” atau “macan kertas”, istilah yang merujuk pada kekuatan yang terlihat besar namun sebenarnya lemah.

NATO sendiri merupakan aliansi militer yang beranggotakan negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada.

NATO dibentuk pada 1949 dengan tujuan utama menghadapi ancaman serangan Uni Soviet dan sejak itu menjadi pilar utama keamanan negara-negara Barat.

“Kita punya beberapa sekutu yang sangat buruk di NATO,” kata Trump. “Mudah-mudahan kita tidak akan pernah membutuhkan mereka. Saya rasa kita tidak akan membutuhkan mereka.”